By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Sunday, 31 May 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Ketika Bos Agen ART Ingin Masuk Dapur Sendiri
Pemerintah

Ketika Bos Agen ART Ingin Masuk Dapur Sendiri

Diajeng Maharini
Last updated: May 28, 2026 2:23 pm
By Diajeng Maharini
Share
5 Min Read
SHARE

beritax.id – Dalam sistem demokrasi, analogi agen ART menggambarkan persoalan mendasar dalam rekrutmen pemerintahan Indonesia. Partai politik seharusnya menyiapkan calon terbaik bagi rakyat. Mereka semestinya bertugas menyeleksi kader secara profesional. Namun kenyataan sering menunjukkan hal berbeda.

Contents
Ketika Rekrutmen Berubah Menjadi Promosi InternalTanggapan Rinto SetiyawanDemokrasi Ramai yang Kehilangan ArahSolusi Membenahi Rekrutmen Mengembalikan Dapur Demokrasi kepada Rakyat

Agen asisten rumah tangga memahami prinsip kerja sederhana. Mereka mencari pekerja sesuai kebutuhan pengguna jasa. Mereka menilai kemampuan dan pengalaman kandidat. Setelah itu, mereka menawarkan orang paling layak. Agen sehat tidak pernah mengirim pemilik agennya sendiri.

Jika itu dilakukan, sistem akan kehilangan profesionalisme. Konflik kepentingan akan muncul. Proses seleksi menjadi cacat sejak awal. Logika sederhana ini justru sering diabaikan partai politik.

Banyak partai berubah menjadi kendaraan penguasa internal. Ketua umum menjadi kandidat utama. Pendiri partai tampil sebagai calon penguasa. Rakyat akhirnya menerima pilihan yang sudah ditentukan.

Ketika Rekrutmen Berubah Menjadi Promosi Internal

Dalam demokrasi sehat, partai adalah lembaga kaderisasi. Fungsinya melahirkan pemimpin berkualitas. Tugasnya menyaring orang terbaik bagi kepentingan bangsa.

Namun praktik di lapangan sering berlawanan. Proses pencalonan berubah menjadi promosi internal. Kader terbaik belum tentu dipilih. Yang muncul justru figur paling dominan.

You Might Also Like

Puan Ajak Perempuan Bangkit Melawan Korupsi, Suara Rakyat Tuntut Pemerintah Lebih Tegas
Menjadi Bangsa yang Menempatkan Rakyat sebagai Pemilik Kekuasaan
Jaksa Agung: Tak Ada Ruang bagi Pengkhianat Hukum, Partai X: Semoga Pengkhianat Rakyat Juga Ikut Dikeluarkan!
KPU Usulkan Tambahan Rp986 M, Partai X: Demokrasi Mahal, Tapi Rakyat Hanya Jadi Penonton di Bilik Suara!

Akibatnya, rakyat kehilangan ruang menentukan calon terbaik. Mereka hanya memilih dari nama yang disediakan penguasa partai. Demokrasi tetap berjalan secara prosedural. Namun substansinya melemah.

Jika negara adalah rumah besar Indonesia, rakyat adalah pemilik rumahnya. Presiden hanyalah pengelola yang diberi mandat. Dalam konteks ini, partai mestinya seperti agen profesional.

Mereka harus menyeleksi orang terbaik. Mereka harus memastikan kualitas calon. Serta mereka wajib menjaga kepercayaan publik.

Namun sering kali partai justru mengutamakan kepentingan internal. Fungsi publik bergeser menjadi alat kekuasaan. Demokrasi kehilangan ruh pengabdian.

Tanggapan Rinto Setiyawan

Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan, mengingatkan fungsi dasar negara tidak boleh dilupakan. Menurutnya, negara memiliki tiga tugas utama.

“Tugas negara adalah melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat secara adil,” ujarnya.

Rinto menilai partai politik harus menyesuaikan mekanisme internalnya dengan tiga tugas itu. Jika rekrutmen hanya melayani penguasa, maka fungsi negara tercederai.

Ia menegaskan perlindungan rakyat membutuhkan pemimpin berintegritas. Pelayanan rakyat memerlukan pemimpin berkapasitas. Pengaturan negara membutuhkan kepemimpinan yang profesional.

Menurut Rinto, analogi agen ART sangat relevan. Agen profesional bekerja melayani kebutuhan pengguna jasa. Mereka tidak memakai sistem demi kepentingan pribadi.

“Jika agen rumah tangga saja memahami etika rekrutmen, partai politik seharusnya lebih paham,” katanya.

Ia menilai demokrasi harus dikembalikan pada semangat meritokrasi. Kepentingan rakyat harus menjadi ukuran utama.

Demokrasi Ramai yang Kehilangan Arah

Indonesia memiliki demokrasi yang hidup secara prosedural. Pemilu berlangsung rutin. Kampanye berlangsung meriah. Debat publik disiarkan luas.

Namun keramaian itu belum tentu sehat. Demokrasi bukan sekadar aktivitas memilih. Demokrasi juga menyangkut kualitas pilihan.

Ketika hampir semua partai memakai pola serupa, rakyat hanya berpindah pilihan semu. Bungkus partai berbeda. Mekanisme dasarnya tetap sama.

Partai lebih fokus memenangkan kontestasi. Negara justru membutuhkan arah pembangunan. Partai mencari figur populer. Bangsa membutuhkan pemimpin kompeten.

Kesenjangan ini melahirkan masalah serius. Demokrasi berubah menjadi pasar kekuasaan. Kandidat terbaik sering tersingkir.

Yang muncul justru figur dengan jaringan kuat. Modal besar menjadi penentu. Kedekatan penguasa menjadi faktor utama.

Solusi Membenahi Rekrutmen 

Pembenahan harus dimulai dari reformasi internal partai. Proses kaderisasi wajib diperkuat. Seleksi harus dilakukan terbuka dan objektif.

Partai perlu membangun sekolah kepemimpinan modern. Pendidikan kader harus berbasis kompetensi. Integritas harus menjadi syarat utama.

Transparansi pencalonan juga penting. Publik harus mengetahui tahapan seleksi. Penilaian calon harus dapat diawasi.

Negara perlu mendorong regulasi yang sehat. Mekanisme pencalonan harus membuka kompetisi luas. Dominasi penguasa harus dibatasi.

Masyarakat sipil juga harus terlibat aktif. Akademisi, media, dan organisasi publik perlu mengawasi partai. Pengawasan eksternal menjaga akuntabilitas.

Rinto Setiyawan menilai solusi utama adalah mengembalikan orientasi partai kepada pelayanan rakyat. Partai harus sadar bahwa mereka bukan pemilik demokrasi.

Mereka hanya pengelola mandat publik. Mandat itu harus dijalankan dengan tanggung jawab.

Mengembalikan Dapur Demokrasi kepada Rakyat

Judul besar persoalan ini sederhana. Ketika bos agen ART ingin masuk dapur sendiri, sistem kehilangan keseimbangan. Konflik kepentingan menjadi nyata.

Hal serupa terjadi dalam pemerintahan. Ketika penguasa memakai partai sebagai kendaraan pribadi, demokrasi kehilangan fungsi seleksi. Rakyat membutuhkan partai yang bekerja sebagai agen profesional. Mereka harus mencari, menguji, dan menawarkan pemimpin terbaik.

Rinto Setiyawan menegaskan demokrasi harus menghasilkan pemimpin yang melindungi, melayani, dan mengatur rakyat dengan adil. Tanpa perubahan, rakyat hanya menjadi penonton. Mereka memilih, tetapi tidak menentukan. Mereka berdaulat secara teori, namun terbatas dalam praktik.

Sudah saatnya partai kembali pada fungsi dasarnya. Mereka harus berhenti mencalonkan bosnya sendiri. Demokrasi harus kembali melayani pemilik rumah sesungguhnya, yaitu rakyat.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Rekrutmen Partai Politik: Ketika Fungsi Partai Politik Dikalahkan Ambisi Pendirinya
Next Article Partai Politik dan Komedi Rekrutmen Presiden

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025
Ekonomi

Heboh Seruan Tarik Dana dari Bank Karena Danantara, Partai X Soroti Transparansi

February 24, 2025

You May also Like

Pemerintah

Mengembalikan Fungsi Pemerintah sebagai Pelaksana Amanat Rakyat

November 18, 2025
Ekonomi

Ekonomi Indonesia Katanya Pulih, Warga Masih Berhemat

January 7, 2026
Pemerintah

Kebijakan Pemerintah Bukan untuk Rakyat? Partai X Kritik Model Negara yang Dimonopoli Eksekutif

May 26, 2025
Rakyat berhak tahu siapa yang masih melindungi kartel TKA dan siapa yang memanfaatkan kebijakan perizinan sebagai celah korupsi.
Pemerintah

Korupsi di Kemenaker Terus Terungkap, Partai X: Siapa Lagi yang Masih Lindungi Kartel RPTKA?

July 21, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.