By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Monday, 22 June 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Presiden NPD, Kebijakan Populis, dan Jalan Cepat Indonesia Menuju Keruntuhan
Pemerintah

Presiden NPD, Kebijakan Populis, dan Jalan Cepat Indonesia Menuju Keruntuhan

Diajeng Maharini
Last updated: June 22, 2026 8:55 am
By Diajeng Maharini
Share
6 Min Read
SHARE

beritax.id – Pemerintahan Prabowo Subianto terus membangun citra sebagai pemerintahan yang kuat, cepat, dan penuh solusi lewat proyek besar serta kebijakan populis. Pemerintah terlihat sibuk bekerja dan terus menampilkan optimisme. Namun di lapangan, tekanan ekonomi justru makin terasa. Harga kebutuhan pokok tetap tinggi, PHK meningkat, lapangan kerja formal menyempit, daya beli melemah, dan kelas menengah mulai kesulitan mempertahankan standar hidup.

Contents
MBG: Bancakan Raksasa Berkedok Solusi EkonomiKopdes Merah Putih: Ekonomi Desa yang Digantungkan pada PemerintahBebannya Tetap Kembali ke RakyatSolusi

Di tengah kondisi itu, pemerintah tetap berusaha meyakinkan publik bahwa ekonomi Indonesia masih “baik-baik saja”. Padahal pada Mei 2026, rupiah kembali melemah hingga mendekati Rp17.600 per dolar AS. Menanggapi situasi tersebut, Prabowo menyatakan masyarakat desa tidak memakai dolar sehingga dampaknya dianggap tidak langsung terasa.

Di sinilah kritik utama muncul, di mana pemerintah terlihat lebih fokus menjaga citra stabilitas dibanding menjelaskan tekanan ekonomi secara terbuka. Narasi optimisme terus dipertahankan di tengah pelemahan rupiah, perlambatan global, dan turunnya daya beli masyarakat. Akibatnya, pemerintah terlihat semakin berorientasi pada pencitraan kekuasaan. Proyek harus besar, cepat, visual, dan populis agar kesan “ekonomi tetap bergerak” terus terjaga.

MBG: Bancakan Raksasa Berkedok Solusi Ekonomi

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi contoh paling jelas. Program ini dipromosikan sebagai bantuan sosial untuk rakyat kecil, tetapi di belakangnya terdapat proyek ekonomi raksasa: pembangunan dapur SPPG, pengadaan bahan pangan, logistik, katering, alat masak industri, transportasi, hingga operasional harian. Dengan target ribuan SPPG di seluruh Indonesia, MBG menciptakan perputaran dana negara dalam skala sangat besar.

Akibatnya, MBG tidak hanya menjadi program sosial, tetapi juga mesin distribusi anggaran. Kelas bawah mendapat bantuan makan gratis agar tekanan sosial tetap terkendali, sementara kelompok pemilik modal mendapat akses proyek dan pasar baru dari APBN. Pemerintah terlihat seolah mampu mengakomodasi semua pihak sekaligus: rakyat kecil merasa dibantu, pelaku usaha besar tetap mendapat ruang ekonomi, dan pemerintah tetap bisa mempertahankan citra bahwa kondisi domestik masih aman.

Padahal seluruh skema itu sangat bergantung pada uang negara. Pada 2025 saja, MBG menyerap sekitar Rp71 triliun. Jika diperluas penuh secara nasional, kebutuhannya diperkirakan mencapai Rp400–450 triliun per tahun. Karena itu, muncul kesan bahwa MBG bukan sekadar program gizi nasional, tetapi juga instrumen politik-ekonomi untuk menjaga stabilitas sosial, mempertahankan perputaran proyek, dan menjaga narasi bahwa Indonesia tetap “baik-baik saja” meski tekanan ekonomi semakin nyata.

You Might Also Like

Gaji Sultan, Mental Pengemis: Pejabat Indonesia Rusak Total?!
MK Putuskan Jakarta Ibu Kota, Prioritaskan Kesejahteraan Warga
Seni Pejabat Mengelak: Bahasa Resmi untuk Menunda Kepastian
Tanpa Akuntabilitas, Kekuasaan Berubah Menjadi Ancaman bagi Rakyat

Kopdes Merah Putih: Ekonomi Desa yang Digantungkan pada Pemerintah

Program Kopdes Merah Putih dipromosikan pemerintah sebagai upaya memperkuat ekonomi desa melalui koperasi rakyat. Namun berbeda dengan koperasi yang biasanya tumbuh dari kebutuhan dan inisiatif masyarakat, program ini dibentuk secara massal melalui desain pemerintah pusat.

Pemerintah menargetkan sekitar 80 ribu Kopdes Merah Putih di seluruh Indonesia. Untuk mendukungnya, sebagian Dana Desa 2026 diarahkan ke pembentukan dan operasional koperasi dengan nilai mencapai puluhan triliun rupiah. Artinya, pemerintah sedang membangun struktur ekonomi desa berskala nasional melalui dorongan anggaran negara.

Secara administratif, program ini memang menciptakan banyak aktivitas baru di desa: pembangunan fasilitas, distribusi dana, pengadaan barang, perekrutan pengurus, hingga perputaran proyek dan logistik. Desa terlihat lebih sibuk dan ekonomi tampak bergerak. Namun sebagian besar aktivitas itu sangat bergantung pada aliran dana pemerintah, bukan pada usaha desa yang tumbuh mandiri.

Masalahnya, pola seperti ini bukan hal baru. Banyak koperasi bentukan pemerintah di masa lalu akhirnya menjadi lembaga pasif karena hidup dari bantuan dan proyek, bukan dari usaha yang sehat. Data Kementerian Koperasi dan UKM bahkan menunjukkan puluhan ribu koperasi di Indonesia berstatus tidak aktif.

Karena itu, risiko terbesar Kopdes Merah Putih adalah terciptanya ekonomi desa yang terlalu bergantung pada belanja negara. Selama dana terus mengalir, aktivitas terlihat hidup. Tetapi ketika anggaran melemah atau proyek berhenti, banyak koperasi berpotensi kehilangan daya tahan karena fondasi usahanya belum benar-benar kuat.

Pada akhirnya, desa menjadi semakin terikat pada distribusi program pemerintah. Kepala desa, pengurus koperasi, dan kelompok usaha lokal bergerak mengikuti arus proyek dan anggaran dari pusat. Ekonomi desa terlihat aktif, tetapi belum tentu mandiri dan berkelanjutan.

Bebannya Tetap Kembali ke Rakyat

Tidak ada proyek populis yang benar-benar gratis. Pada akhirnya, seluruh biaya tetap ditanggung masyarakat melalui pajak, utang negara, inflasi, dan kenaikan biaya hidup.

Kelas menengah menjadi kelompok yang paling tertekan. Mereka membayar pajak, jarang menerima bantuan langsung, tetapi harus menghadapi kenaikan harga dan perlambatan ekonomi secara bersamaan.

Masalah paling mendasar dari pola pemerintahan seperti ini bukan hanya soal arah kebijakan, melainkan cara negara memandang rakyat. Rakyat tidak lagi diperlakukan sebagai warga yang harus diperkuat secara ekonomi, tetapi sebagai massa yang harus dijaga agar tetap tenang melalui bantuan dan proyek populis.

Solusi

Solusi mendasar dari situasi ini bukan sekadar mengganti program atau pemimpin, melainkan memisahkan kepentingan negara dari kepentingan pemerintah melalui Amandemen Kelima UUD 1945. Negara tidak boleh terus dipakai untuk membangun ketergantungan masyarakat lewat proyek dan bantuan jangka pendek, sementara rakyat kehilangan kemandirian ekonomi. Kedaulatan harus benar-benar dikembalikan ke tangan rakyat agar kekuasaan lebih terbatas, lembaga negara saling mengawasi secara sehat, dan pembangunan kembali berfokus memperkuat masyarakat, bukan menjaga citra penguasa.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Partai Politik atau Pelaku Kejahatan Politik?
Next Article Fokus Infrastruktur Permanen, Pemulihan Cepat Warga Sumatera?

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Pinjaman AIIB Dinilai Normal, Partai X Ingatkan Jangan Bebani Rakyat

June 19, 2026
Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025

You May also Like

Pendidikan

Partai X Lakukan Pendidikan Politik Gen Z, Siapkan Pemimpin Muda Masa Depan

May 27, 2025
Pemerintah

Jabatan sebagai Komoditas: Harga Ada, Integritas Tidak

April 22, 2026
Pemerintah

Presiden CEO MBG: Program yang Berfokus pada Profit, Lupakan Kesejahteraan Rakyat

April 7, 2026
Ekonomi

5 Strategi Kemenaker Hadapi TKA, Partai X Tuding Penguasa Sibuk Lindungi Asing, Tapi Tak Lindungi Buruh Sendiri!

August 1, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.