Oleh: Adv. Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP
Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan
beritax.id – Indonesia sering membanggakan diri sebagai bangsa besar. Namun, kebanggaan tersebut seringkali sulit terlihat dalam cara masyarakat memahami sejarahnya sendiri. Bangsa yang besar bukan hanya diukur dari jumlah penduduk atau luas wilayah, tetapi juga dari kemampuan mengenali akar peradabannya, menghormati leluhur, dan menempatkan masa lalu sebagai fondasi untuk masa depan.
Sayangnya, banyak generasi muda Indonesia lebih mengenal sejarah bangsa lain daripada sejarah bangsanya sendiri. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: mengapa kebanggaan terhadap peradaban Nusantara sering dianggap romantisme, sedangkan kekaguman terhadap peradaban asing dipandang sebagai kemajuan?

Sejarah yang Mengikis Kepercayaan Diri
Dalam forum Maiyah, Cak Nun menekankan bahwa sejarah yang diajarkan selama ini tidak selalu bebas dari kejahatan politik dan kolonialisme. Ia menyebutkan:
“Sejarah versi Belanda sengaja dirancang agar generasi penerus kehilangan kepercayaan terhadap kehebatan leluhur sendiri.”
Pernyataan ini mengingatkan bahwa penjajahan tidak hanya dilakukan melalui senjata, tetapi juga melalui cara berpikir. Ketika suatu bangsa diyakinkan bahwa leluhurnya tidak hebat, bangsa itu kehilangan kebanggaan dan kepercayaan diri. Selanjutnya, ketergantungan terhadap pihak lain menjadi pola yang sulit diubah.
Cak Nun juga menyoroti dampak penjajahan terhadap jiwa masyarakat Nusantara. Nilai-nilai Brahmana dan Satria manusia yang berpikir luas, mengutamakan kemaslahatan, dan menjunjung etika semakin terkikis. Yang tersisa adalah manusia modern yang sibuk mengejar materi, jabatan, dan kepentingan pribadi. Kehidupan modern, yang sering mengukur keberhasilan dengan kekayaan dan popularitas, semakin menjauhkan bangsa Indonesia dari nilai-nilai luhur yang dahulu dijunjung tinggi oleh peradaban Nusantara.
Nusantara Sebagai Subjek, Bukan Objek Sejarah
Sejarah Nusantara sering disederhanakan dalam narasi yang menempatkan wilayah ini sebagai objek, bukan subjek peradaban. Nusantara bukan wilayah kosong yang baru penting setelah kedatangan bangsa Eropa. Nusantara selama berabad-abad merupakan pusat perdagangan, jalur pelayaran, pertukaran budaya, dan pertemuan berbagai peradaban dunia. Akibatnya, generasi muda tumbuh dengan kesadaran yang timpang. Kebanggaan terhadap masa lalu bangsa sendiri perlahan memudar, sementara kekaguman terhadap peradaban asing semakin dominan.
Cak Nun menyoroti bahwa banyak gambaran tokoh dan peristiwa sejarah yang diterima masyarakat hanyalah interpretasi atau imajinasi tertentu. Hal ini membuat sejarah lebih mudah diterima tanpa kritis. Sejarah yang diterima secara pasif membuat bangsa Indonesia kehilangan kemampuan menilai, mempertanyakan, dan mempelajari masa lalunya dengan objektif.
Mengembalikan Keseimbangan melalui Sejarah
Sejarah seharusnya membangun kesadaran kolektif, membantu bangsa memahami siapa dirinya, dari mana asalnya, dan ke mana arah perjalanannya. Sejarah bukan sekadar hafalan tanggal, nama, dan peristiwa untuk ujian. Adapun sejarah adalah sarana untuk mengenal diri sendiri.
Cak Nun menekankan kebesaran Nusantara melalui contoh:
“Kediri sebenarnya merupakan representasi Kerajaan Amarta.”
Pandangan ini mengajak masyarakat melihat Nusantara sebagai pusat peradaban dengan kebesaran tersendiri, bukan hanya sebagai wilayah yang pernah dijajah. Masalah terbesar bangsa Indonesia hari ini bukan kekurangan sumber daya atau jumlah penduduk. Masalah terbesar adalah hilangnya rasa percaya diri sebagai bangsa. Bangsa yang tidak percaya pada sejarah dan kebesaran leluhurnya akan terus mencari validasi dari luar dan kesulitan membangun cita-cita besar.
Tugas generasi sekarang bukan hanya membaca sejarah yang ada, tetapi mempelajari sejarah dengan jujur, kritis, dan mendalam. Setiap sumber perlu diuji, setiap narasi diteliti, dan setiap klaim diperiksa. Tujuannya adalah mengembalikan keseimbangan: membangun bangsa yang sehat, yang mengenali kelebihan dan kekurangannya secara proporsional, tanpa rasa rendah diri maupun kesombongan.



