By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Wednesday, 10 June 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Kekuasaan yang Tidak Mengenal Malu: Paradoks Kemerdekaan Indonesia
Pemerintah

Kekuasaan yang Tidak Mengenal Malu: Paradoks Kemerdekaan Indonesia

Diajeng Maharini
Last updated: June 8, 2026 1:40 pm
By Diajeng Maharini
Share
4 Min Read
SHARE

beritax.id – Paradoks kemerdekaan Indonesia terlihat dari gedung tinggi, tol, dan teknologi digital yang masuk ke hampir seluruh kehidupan masyarakat. Pemerintah berbicara tentang transformasi digital, hilirisasi industri, kecerdasan buatan, dan visi Indonesia Emas. Dari kejauhan, semua tampak maju, rasional, efisien, dan beradab. Namun, modernitas sejati bukan diukur dari gedung, tol, atau istilah futuristik, melainkan dari keadilan yang dirasakan rakyat. Bangsa menjadi modern ketika kekayaan alam dikelola untuk kemakmuran masyarakat, dan kekuasaan bekerja untuk melayani rakyat.

Contents
Kritik Cak Nun: Negara Kaya, Daerah MeranaCara Berpikir Kekuasaan yang BermasalahSolusi Mengurangi Ketimpangan

Kritik Cak Nun: Negara Kaya, Daerah Merana

Cak Nun menyoroti ketimpangan sumber daya. Kabupaten penghasil uranium hanya menerima tiga persen, sementara 97 persen dikuasai pemerintah pusat dan pengusaha. Ia menekankan bahwa upeti modern sudah diatur sebelum hasil digali. Kritik ini menantang publik memikirkan hubungan negara, kekuasaan, dan rakyat. Mengapa daerah kaya tetap miskin? Mengapa infrastruktur terbatas? Dan mengapa kualitas pelayanan publik rendah? Pertanyaan ini menuntut refleksi lebih dari sekadar mekanisme anggaran.

Logikanya, masyarakat daerah kaya harus merasakan manfaat pertama. Jalan diperbaiki, pendidikan lebih baik, fasilitas kesehatan meningkat, kesempatan ekonomi bertambah. Namun kenyataan sering berbeda. Kekayaan keluar daerah, manfaat kembali jauh lebih kecil dibanding nilai sumber daya yang diambil. Akibatnya, daerah hanya menjadi lokasi eksploitasi, bukan pusat kemakmuran. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu adil meski negara menyebut diri modern dan demokratis.

Dalam sejarah, upeti merupakan sebagian hasil bumi yang dikirim ke pusat untuk perlindungan pemerintahan dan keamanan. Hubungan ini vertikal: daerah penyedia, pusat penerima. Kritik Cak Nun menekankan praktik modern terkadang melebihi logika kerajaan klasik. Distribusi manfaat kini diatur regulasi sebelum hasil benar-benar diperoleh. Namun masyarakat lokal tetap memperoleh bagian kecil, menimbulkan ketidakpuasan dan persepsi ketidakadilan. Paradoks muncul ketika kedaulatan rakyat diakui, tapi rakyat penghasil sumber daya tetap menjadi pihak yang paling sedikit mendapatkan manfaat.

Cara Berpikir Kekuasaan yang Bermasalah

Masalah mendasar terletak pada cara berpikir kekuasaan. Kekuasaan sehat selalu bertanya bagaimana rakyat memperoleh manfaat lebih besar. Kekuasaan tidak sehat sibuk mengumpulkan dan mengendalikan sumber daya. Adapun kekuasaan sehat menempatkan rakyat sebagai tujuan, kekuasaan tidak sehat melihat rakyat sebagai objek. Perbedaan ini menentukan arah pembangunan. Negara modern seharusnya berbasis efisiensi, keadilan, transparansi, dan menghormati hak rakyat. Modernitas kosmetik tanpa keadilan substantif hanyalah ilusi pembangunan.

Anggota Majelis Tinggi Partai X Rinto Setiyawan menegaskan tiga tugas negara: melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat. Ia menekankan bahwa pengelolaan sumber daya harus menempatkan rakyat sebagai tujuan utama. Kebijakan harus memastikan masyarakat sekitar sumber daya merasakan manfaat. Hasil pembangunan harus dirasakan secara nyata, bukan hanya dinikmati pihak jauh dari daerah penghasil. Negara diukur dari kesejahteraan rakyat, bukan sekadar angka pendapatan atau slogan pembangunan.

You Might Also Like

Zulhas Keliru, Pajak Tinggi, Partisipasi Rendah?
Pemimpin yang Lupa Rakyat Telah Kehilangan Arah Kedaulatan
Batas Kekuasaan Kabur dalam Pemerintahan: Dampak Ketidakjelasan yang Menambah Ketidakadilan
Kebijakan Ekonomi Katanya Pro-Rakyat, Tapi Untung Lari ke Meja Konglomerat!

Solusi Mengurangi Ketimpangan

Pemerintah perlu evaluasi skema bagi hasil sumber daya alam agar lebih adil dan transparan. Daerah penghasil diberikan prioritas pembangunan pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Masyarakat lokal dilibatkan dalam pengawasan pengelolaan sumber daya. Hilirisasi industri memberi nilai tambah bagi warga sekitar. Kesempatan kerja diperluas bagi penduduk lokal. Distribusi pendapatan harus seimbang agar daerah penghasil tidak menjadi pihak merana. Kebijakan berbasis keadilan distributif memperkuat kepercayaan publik terhadap negara.

Kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajahan politik, tetapi menghadirkan keadilan ekonomi. Negara kaya tidak boleh meninggalkan rakyat penghasil dalam kesengsaraan. Kritik Cak Nun adalah panggilan evaluasi agar kekayaan alam benar-benar membawa kemakmuran bagi pemilik sah negeri. Modernitas bukan hanya tampilan, tetapi kemampuan menegakkan keadilan substantif. Negara modern harus memastikan rakyat menikmati hak mereka sebagai bagian utama pembangunan nasional, mengakhiri paradoks kemerdekaan Indonesia.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Indonesia: Negara Modern atau Kekuasaan yang Gagal Bernalar?
Next Article Ketika Sejarah Indonesia Mengaburkan Kebesaran Bangsa

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025
Ekonomi

Heboh Seruan Tarik Dana dari Bank Karena Danantara, Partai X Soroti Transparansi

February 24, 2025

You May also Like

Pemerintah

Saat Penguasa Tentukan Arah, Rakyat Kehilangan Kuasa

May 11, 2026
Pemerintah

Indonesia Airlines Belum Kantongi Izin! Partai X: Jangan Sampai Rakyat Jadi Penumpang Uji Coba!

March 13, 2025
Pendidikan

Sejarah Mau Diubah, Fadli Zon Ribut, Partai X: Mana yang Lebih Penting Fakta atau Narasi?

May 8, 2025
Pemerintah

MBG Harus Jalan 10 Tahun, Partai X: Rakyat Sudah Lama Tunggu Aksi!

October 17, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.