By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Wednesday, 10 June 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Indonesia: Negara Modern atau Kekuasaan yang Gagal Bernalar?
Pemerintah

Indonesia: Negara Modern atau Kekuasaan yang Gagal Bernalar?

Diajeng Maharini
Last updated: June 8, 2026 2:11 pm
By Diajeng Maharini
Share
4 Min Read
SHARE

Oleh: Adv. Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP
Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan

beritax.id – Indonesia sering dipuji sebagai negara modern. Gedung pencakar langit menjulang di kota besar, jalan tol terus dibangun, dan teknologi digital hadir di hampir semua aspek kehidupan. Pemerintah berbicara tentang transformasi digital, hilirisasi industri, kecerdasan buatan, dan visi Indonesia Emas. Dari jauh, pemandangan tersebut memberi kesan bahwa Indonesia sedang bergerak menuju negara maju yang rasional, efisien, dan beradab. Namun, pertanyaan mendasar muncul: apakah modernitas cukup diukur dari gedung tinggi, teknologi canggih, dan istilah futuristik? Ataukah modernitas justru diukur dari keadilan yang dirasakan rakyat dalam kehidupan sehari-hari?

Contents
Ketimpangan antara Daerah Penghasil dan Manfaat yang DiterimaDemokrasi atau Kekuasaan yang Menyamar?Menuju Sistem yang Bernalar dan Adil

Sejarah menunjukkan bahwa bangsa tidak menjadi modern hanya karena memiliki teknologi atau infrastruktur. Bangsa menjadi modern ketika mampu membangun sistem yang adil. Bangsa modern memanfaatkan sumber daya alam untuk kemakmuran rakyat. Adapun bangsa modern menjadikan kekuasaan sebagai alat pelayanan, bukan eksploitasi.

Cak Nun pernah mengkritik, “Ini kerajaan Republik Indonesia ini melebihi kerajaan-kerajaan yang kejam… Kabupaten yang memiliki tambang hanya mendapat 3%, sisanya dibagi pengusaha dan pemerintah pusat. Ini lebih daripada upeti. Bahkan sebelum hasil digali, regulasi sudah mengatur agar upeti diberikan.” Kritik ini menekankan bahwa kekayaan daerah tidak selalu dinikmati oleh rakyatnya, melainkan justru mengalir ke pusat kekuasaan dan pihak lain.

Ketimpangan antara Daerah Penghasil dan Manfaat yang Diterima

Secara logika sederhana, daerah kaya sumber daya seharusnya menjadi yang pertama merasakan manfaatnya: jalan lebih baik, pendidikan berkualitas, fasilitas kesehatan meningkat, dan kesempatan ekonomi bertambah. Namun kenyataannya sering berbeda. Kekayaan keluar dari daerah dalam jumlah besar, sementara manfaat yang kembali jauh lebih sedikit. Akibatnya, daerah menjadi lokasi eksploitasi, bukan pusat kemakmuran.

Dalam sistem kerajaan klasik, upeti diberikan setelah hasil diperoleh, sebagai imbalan atas perlindungan politik dan keamanan. Ironisnya, dalam sistem modern di Indonesia, mekanisme “upeti” bahkan telah diatur melalui regulasi sebelum sumber daya digali. Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem kekuasaan modern tidak hanya mengikuti logika kerajaan lama, tapi terkadang melampaui praktik kejam kerajaan itu sendiri.

Demokrasi atau Kekuasaan yang Menyamar?

Indonesia menyebut dirinya negara demokrasi. Konstitusi menegaskan kedaulatan berada di tangan rakyat. Kekayaan alam seharusnya digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Namun dalam praktik, rakyat yang berada paling dekat dengan sumber daya sering menerima bagian paling kecil.

You Might Also Like

Indonesia Perlu Gerakan Kolorisasi Nusantara, Untuk Menjaga Martabat Bangsa
Tarif Satu Harga ASDP Saat Lebaran! Partai X: Solusi Tepat atau Strategi Sementara?
Populisme Menipu Rakyat: Ketika Sistem Patronase Membelenggu Kemajuan yang Seharusnya
Negara Salah Denah: Mengapa Indonesia Gagal Melindungi Rakyatnya

Distribusi yang seharusnya berlandaskan solidaritas nasional justru menjadi sumber ketimpangan. Negara modern yang ideal menempatkan rakyat sebagai tujuan pembangunan, tetapi sistem yang ada menempatkan rakyat sebagai objek pengelolaan kekuasaan. Kekuasaan yang sehat bertanya “Bagaimana rakyat bisa lebih sejahtera?” Kekuasaan yang gagal bernalar justru bertanya “Bagaimana sumber daya dapat dikontrol?”

Bangsa yang modern bukan hanya modern pada tampilan luar, tetapi juga dalam cara mengelola kekuasaan. Modernitas kosmetik  gedung tinggi, teknologi canggih, dan jargon futuristik   tanpa keadilan substantif adalah modernitas semu.

Pertanyaan kritis yang harus dijawab adalah apakah sistem ini bekerja untuk rakyat, atau hanya untuk mempertahankan kepentingan pusat kekuasaan? Jika rakyat terus diminta berkorban, sementara manfaat terbesar dinikmati pihak yang jauh dari sumber daya, maka sistem gagal berfungsi sesuai tujuannya.

Menuju Sistem yang Bernalar dan Adil

Modernitas adalah kemampuan menghadirkan keadilan. Modernitas adalah kemampuan menempatkan rakyat sebagai tujuan utama pembangunan. Lalu modernitas adalah keberanian untuk mengoreksi sistem yang tidak lagi bekerja sesuai tujuan pembentukannya.

Kritik Cak Nun seharusnya dibaca bukan sekadar kemarahan, melainkan ajakan untuk menilai kembali apakah Indonesia benar-benar modern, atau masih mempertahankan pola kekuasaan lama dengan kemasan baru dan canggih. Ukuran keberhasilan negara bukan seberapa banyak kekayaan yang dieksploitasi, tetapi seberapa besar kemakmuran yang dikembalikan kepada rakyat sebagai pemilik sah negeri ini.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article KPK Ungkap Pemerasan Imigrasi, Tegakkan Keadilan untuk Warga
Next Article Kekuasaan yang Tidak Mengenal Malu: Paradoks Kemerdekaan Indonesia

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025
Ekonomi

Heboh Seruan Tarik Dana dari Bank Karena Danantara, Partai X Soroti Transparansi

February 24, 2025

You May also Like

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menanggapi pernyataan eks Wamenaker Immanuel Ebenezer yang meminta amnesti Presiden
Pemerintah

KPK: Jangan Dikit-dikit Amnesti, Partai X: Rakyat Mana Pernah Dapat Amnesti?

August 26, 2025
Ekonomi

Dana Pemda Beda, Partai X: Uang Rp18 T, Rakyat Masih Terlantar!

October 21, 2025
Pemerintah

Bangsa Bisa Hancur Jika Pejabat Lupa Bahwa Mereka Hanya Pelaksana Amanat Rakyat

November 19, 2025
Pemerintah

17+8 Tuntutan Rakyat, Partai X: Desakan Publik Tak Bisa Diabaikan!

September 4, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.