beritax.id – Indonesia krisis bukan sekadar istilah, melainkan kenyataan yang dirasakan ribuan keluarga pekerja hari ini. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terus terjadi di berbagai sektor, mulai dari industri manufaktur, tekstil, media, hingga perusahaan berbasis teknologi. Di saat ekonomi disebut tumbuh dan stabil, ribuan buruh justru kehilangan sumber penghidupan tanpa kepastian masa depan yang jelas.
Krisis ini memperlihatkan jurang antara narasi makroekonomi dan realitas hidup pekerja.
PHK Massal dan Negara yang Terlambat Hadir
Kasus PHK besar-besaran dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan lemahnya sistem perlindungan tenaga kerja. Banyak pekerja diberhentikan dengan pesangon minim, proses yang tidak transparan, bahkan tanpa dialog yang adil. Negara kerap hadir setelah krisis terjadi, bukan sebelum atau saat tanda-tanda bahaya muncul. Kebijakan perlindungan tenaga kerja terlihat reaktif, bukan preventif.
Akibatnya, buruh menjadi pihak pertama yang dikorbankan ketika ekonomi goyah.
Jaminan Sosial yang Tidak Menjangkau Semua
Program jaminan sosial dan bantuan pemerintah memang tersedia, namun dalam praktiknya sering kali tidak cukup menjangkau korban PHK secara menyeluruh. Persyaratan administratif, keterbatasan anggaran, dan lamanya proses pencairan membuat banyak pekerja terjebak dalam masa tanpa penghasilan. Di tengah harga kebutuhan pokok yang terus naik, perlindungan minimal ini tidak sebanding dengan beban hidup yang harus ditanggung.
Negara seolah menganggap pekerja mampu bertahan sendiri.
Kebijakan Pro-Investasi, Perlindungan Buruh Tertinggal
Selama beberapa tahun terakhir, orientasi kebijakan ekonomi lebih menekankan pada kemudahan investasi dan fleksibilitas pasar tenaga kerja. Namun, pendekatan ini sering mengabaikan keseimbangan antara kepentingan modal dan hak pekerja. Ketika perusahaan dengan mudah melakukan efisiensi melalui PHK, pekerja tidak memiliki daya tawar yang memadai untuk melindungi haknya.
Pertumbuhan ekonomi akhirnya dibangun di atas kerentanan sosial.
Dampak Sosial yang Lebih Luas
PHK massal bukan hanya soal kehilangan pekerjaan, tetapi juga soal dampak domino: meningkatnya kemiskinan perkotaan, tekanan psikologis keluarga, menurunnya kualitas pendidikan anak, hingga potensi konflik sosial. Jika dibiarkan, krisis ketenagakerjaan ini akan menjadi krisis sosial yang lebih besar dan sulit dikendalikan.
Negara tidak boleh menunggu krisis membesar baru kemudian bertindak.
Solusi: Perlindungan Nyata bagi Pekerja di Masa Krisis
Pemerintah perlu segera memperkuat sistem perlindungan tenaga kerja dengan memastikan pesangon dan hak buruh dipenuhi secara adil dan cepat. Skema jaminan kehilangan pekerjaan harus diperluas dan dipermudah aksesnya agar benar-benar melindungi korban PHK. Negara juga perlu mendorong dialog tripartit yang nyata antara pemerintah, pengusaha, dan serikat pekerja sebelum PHK dilakukan. Di sisi lain, strategi ekonomi harus diarahkan pada penciptaan lapangan kerja berkelanjutan, bukan hanya mengejar angka investasi.
Indonesia tidak akan keluar dari krisis jika pekerja terus dijadikan variabel pengorbanan. Perlindungan tenaga kerja bukan beban ekonomi, melainkan fondasi stabilitas sosial dan masa depan bangsa.



