By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Wednesday, 9 September 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Apakah Ini “Goro-Goro”? Membaca Kembali Pesan Cak Nun Tahun 2013
Pemerintah

Apakah Ini “Goro-Goro”? Membaca Kembali Pesan Cak Nun Tahun 2013

Diajeng Maharini
Last updated: September 9, 2026 8:20 am
By Diajeng Maharini
Share
9 Min Read
SHARE

Oleh: Adv. Rinto Setiyawan, A.Md., S.H., CTP
Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan

beritax.id – Ada satu istilah yang beberapa kali muncul dalam pembicaraan Cak Nun mengenai perjalanan bangsa, yaitu goro-goro. Istilah tersebut menarik karena dalam kebudayaan Jawa, goro-goro tidak selalu dipahami sebagai kekacauan semata. Goro-goro dapat menggambarkan sebuah fase keguncangan ketika keadaan yang sebelumnya dianggap mapan mengalami perubahan sebelum kemudian lahir susunan kehidupan yang baru. Karena itu, istilah tersebut menjadi menarik untuk dibaca kembali ketika sebuah bangsa menghadapi berbagai perubahan besar dalam perjalanan waktunya.

Saya kembali teringat kepada sebuah pernyataan Cak Nun yang disampaikan jauh sebelum keadaan hari ini. Pada 27 September 2013, dalam Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng di halaman Harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, Cak Nun menyampaikan sebuah pandangan yang jika dibaca kembali saat ini memang membuat kita berhenti sejenak. Dalam kesempatan tersebut, Cak Nun mengatakan, “…dan memang nanti kalau ada lima gunung meletus bersamaan, atau agak bergantian sedikit-sedikit begitu, itu nanti yang diamanatkan untuk membangun masa depan pasca letusan itu adalah Jogja.” Pernyataan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pesan, “Makanya mulai dari sekarang semua makhluk yang akan ikut memperbaiki bumi berkumpul di Jogja semua.”

Ucapan itu disampaikan pada tahun 2013. Tiga belas tahun kemudian, tepatnya pada 31 Agustus 2026, Indonesia mencatat enam gunung api mengalami erupsi pada hari yang sama, yaitu Gunung Ibu, Semeru, Lewotobi Laki-laki, Ili Lewotolok, Anak Krakatau, dan Sinabung. Fenomena tersebut kemudian membuat sebagian orang kembali mengingat pernyataan Cak Nun mengenai lima gunung yang disampaikan bertahun-tahun sebelumnya. Lalu muncul pertanyaan, apakah ini yang dimaksud Cak Nun sebagai goro-goro?

Saya tidak mengetahui jawabannya. Dan menurut saya, kita memang tidak perlu tergesa-gesa memberikan kesimpulan. Sebab setiap kejadian alam harus tetap dibaca berdasarkan ilmu pengetahuan dan kajian para ahli. Aktivitas erupsi gunung api memiliki penjelasan ilmiah masing-masing dan tidak dapat langsung dikaitkan sebagai pembenaran terhadap sebuah pernyataan masa lalu.

Ilmu pengetahuan harus ditempatkan pada posisi yang tepat. Para ahli bekerja melalui data, pengamatan, teknologi pemantauan, aktivitas kegempaan, perubahan bentuk gunung, kandungan gas, dan berbagai instrumen lainnya untuk memahami fenomena alam. Karena itu, masyarakat perlu menghormati penjelasan ilmiah mengenai aktivitas vulkanik yang terjadi.

Namun manusia tidak hidup hanya dengan pertanyaan mengenai bagaimana sebuah peristiwa terjadi. Manusia juga selalu mencari makna dari setiap kejadian yang hadir dalam kehidupannya. Di situlah pesan Cak Nun menjadi menarik untuk dibaca kembali. Bukan untuk mencari pembuktian bahwa sebuah ramalan telah terjadi, tetapi untuk memahami pesan yang lebih dalam mengenai kesiapan manusia menghadapi perubahan.

You Might Also Like

Purbaya Pertanyakan Lonjakan Restitusi Pajak, Transparansi Harus Ditingkatkan!
Kepercayaan Publik Tergerus Akibat Disinformasi Media Sosial
Sri Mulyani Khianati Konstitusi dan Jebak Presiden? Pajak Daerah Naik Fantastis!
Kelas Menengah Terdesak di Negara Rapuh Struktural

Jika membaca kembali keseluruhan pernyataan tersebut, pusat pesannya sebenarnya bukan berada pada angka lima atau jumlah gunung yang mengalami erupsi. Inti pesannya justru terletak pada kalimat tentang membangun masa depan setelah sebuah perubahan besar terjadi. Cak Nun tidak hanya berbicara mengenai keguncangan, tetapi juga mengenai manusia yang harus dipersiapkan untuk memperbaiki keadaan setelahnya.

Cak Nun juga menyampaikan bahwa dunia akan mengalami berbagai perubahan dan Yogyakarta dipandang sebagai tempat serta ruang bagi manusia yang dipersiapkan untuk membangun peradaban baru. Dari sini terlihat bahwa pembicaraan tersebut sebenarnya bergerak dari persoalan perubahan menuju persoalan tanggung jawab manusia.

Inilah yang membuat istilah goro-goro menjadi menarik jika dilihat dari perspektif kenegarawanan. Dalam perjalanan sebuah bangsa, goro-goro tidak selalu hadir dalam bentuk bencana alam. Sebuah bangsa dapat mengalami keguncangan dalam berbagai bidang seperti ekonomi, sosial, teknologi, kebudayaan, maupun nilai kehidupan masyarakat.

Tatanan yang selama bertahun-tahun dianggap kuat dapat mengalami perubahan. Perkembangan teknologi dapat mengubah cara manusia bekerja dan berinteraksi. Perubahan ekonomi dunia dapat memengaruhi kehidupan masyarakat. Perkembangan informasi yang sangat cepat juga dapat membawa tantangan baru dalam menjaga persatuan dan kedewasaan masyarakat.

Dengan demikian, goro-goro dapat dibaca sebagai momentum ketika sebuah tatanan lama mengalami guncangan dan manusia harus menentukan bagaimana masa depan akan dibangun. Persoalan utamanya bukan hanya apakah sebuah perubahan besar akan datang. Persoalan yang lebih penting adalah siapa yang siap ketika perubahan tersebut benar-benar terjadi.

Di sinilah pemikiran Sekolah Negarawan menjadi relevan. Bangsa tidak boleh menunggu krisis datang baru mencari manusia yang mampu menyelesaikan persoalan. Negarawan harus dipersiapkan sebelum sejarah membutuhkan kehadirannya.

Sebuah bangsa membutuhkan manusia yang mampu melihat jauh melampaui kepentingan pribadi dan kelompok. Bangsa membutuhkan ahli yang bekerja sesuai kompetensi, pemimpin yang mengambil keputusan berdasarkan ilmu, masyarakat yang memiliki kedewasaan berpikir, serta manusia yang mempunyai kekuatan moral agar kekuasaan tidak menghilangkan tanggung jawab.

Karena itu, pembangunan negara sesungguhnya dimulai dari pembangunan manusia negarawan. Sistem yang baik tanpa manusia yang berintegritas dapat kehilangan arah. Teknologi yang maju tanpa nilai kemanusiaan dapat menimbulkan persoalan baru. Kekuasaan yang tidak disertai tanggung jawab dapat menjauhkan negara dari tujuan utamanya melayani masyarakat.

Maka ucapan Cak Nun tahun 2013 seharusnya tidak membuat kita hanya sibuk bertanya, “Gunung mana lagi yang akan mengalami erupsi?” Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, jika suatu masa perubahan besar benar-benar datang, manusia seperti apa yang sedang kita persiapkan hari ini?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin menarik karena Cak Nun secara khusus menyebut Yogyakarta. Kota ini memiliki sejarah panjang dalam perjalanan bangsa Indonesia. Yogyakarta memiliki tradisi budaya, pendidikan, keagamaan, seni, dan intelektualitas yang telah berkembang selama puluhan tahun.

Namun sejarah tidak memberikan jaminan secara otomatis. Menjadi kota budaya tidak langsung menjadikan sebuah tempat mampu melahirkan peradaban. Menjadi kota pendidikan juga tidak otomatis menghasilkan manusia yang mampu memimpin masa depan.

Peradaban tidak lahir hanya dari warisan masa lalu. Peradaban lahir ketika manusia hari ini bersedia mempersiapkan generasi masa depan. Karena itu, jika Yogyakarta ingin mengambil hikmah dari pesan Cak Nun, tugas utamanya bukan menunggu tanda perubahan datang, tetapi membangun manusia yang siap menghadapi perubahan.

Yang harus dibangun adalah generasi muda yang memiliki ilmu dan karakter. Yang harus dipertemukan adalah ulama dengan ilmuwan, budayawan dengan teknolog, akademisi dengan masyarakat, serta pemimpin dengan kenyataan kehidupan rakyat. Yang harus diperkuat adalah manusia yang mampu menguasai perkembangan dunia tanpa kehilangan akar kebudayaan dan nilai kemanusiaannya.

Itulah persiapan peradaban. Sebab sebuah peradaban tidak dimulai ketika bangunan besar berdiri. Peradaban dimulai ketika kualitas manusia mengalami perubahan.

Karena itu, enam gunung yang mengalami erupsi pada 31 Agustus 2026 tidak perlu dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa sebuah ramalan telah terbukti. Biarkan ilmu pengetahuan menjelaskan fenomena tersebut. Namun peristiwa itu tetap dapat menjadi pengingat bahwa manusia harus selalu mempersiapkan diri menghadapi perubahan.

Tiga belas tahun setelah Cak Nun berbicara mengenai lima gunung, enam gunung membuat kita mengingat kembali pesan tersebut. Namun persoalan utamanya bukan mengenai berapa jumlah gunung yang mengalami erupsi. Persoalan yang lebih besar adalah apakah selama tiga belas tahun itu kita telah menggunakan waktu untuk mempersiapkan manusia.

Kita sering sibuk menunggu tanda perubahan, tetapi lupa mempersiapkan diri menghadapi perubahan. Kita sering bertanya kapan krisis datang, tetapi tidak cukup bertanya siapa yang akan memimpin ketika krisis terjadi. Kita sering membicarakan masa depan, tetapi belum cukup serius mendidik manusia yang akan menjalani masa depan tersebut.

Maka makna ucapan Cak Nun tiga belas tahun lalu tidak harus ditemukan pada kesamaan jumlah gunung yang disebutkan. Maknanya dapat ditemukan pada pertanyaan yang jauh lebih sederhana sekaligus lebih berat.

Jika suatu hari terjadi perubahan besar, sudahkah Indonesia memiliki manusia yang siap membangun setelah keguncangan tersebut berlalu?

Gunung dapat mengalami erupsi tanpa menunggu manusia siap. Krisis dapat datang tanpa meminta izin. Dunia dapat berubah jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia dalam mengantisipasinya.

Karena itu, jangan menunggu keguncangan untuk mencari negarawan. Jangan menunggu masalah besar untuk membangun solidaritas. Jangan menunggu keadaan sulit untuk memperkuat kualitas manusia.

Sebab goro-goro mungkin datang tanpa meminta izin kepada kita. Tetapi peradaban setelah goro-goro tidak akan lahir dengan sendirinya. Ia harus dipersiapkan mulai hari ini.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Enam Gunung Erupsi Bersamaan, Apa Makna Ucapan Cak Nun 13 Tahun Lalu?
Next Article Politik Tidak Kotor, Kriminokratlah yang Mengotorinya

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

“Pengalihan Pengadilan Pajak ke Mahkamah Agung dalam sistem peradilan Indonesia”
Berita Terkini

Catatan Adaptasi Pengadilan Pajak Menyongsong Pengalihan ke Mahkamah Agung

December 19, 2025
Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025

You May also Like

Pemerintah

TNI Jaga Aset Kejaksaan, Partai X: Penegak Hukum Butuh Tentara? Atau Butuh Pengawal?

May 15, 2025
Pemerintah

Komisi VII Dukung Aplikasi Belanja Pasar, Partai X: Jangan Digitalisasi Pasar Tanpa Perlindungan Pedagang!

August 8, 2025
Pertamina Group melakukan kunjungan resmi ke Kawasan Inti Pusat Pemerintahan IKN pada Minggu, 11 Januari 2026. Pertemuan berlangsung
Pemerintah

Pertamina Masuk IKN, Percepatan Birokrasi Jangan Abaikan Akuntabilitas

January 13, 2026
Pendidikan

Dana Pendidikan Rp223 T Disedot MBG, Partai X: Anak Rakyat Jadi Korban

September 25, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.