By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Wednesday, 9 September 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Politik Tidak Kotor, Kriminokratlah yang Mengotorinya
Pemerintah

Politik Tidak Kotor, Kriminokratlah yang Mengotorinya

Diajeng Maharini
Last updated: September 9, 2026 8:27 am
By Diajeng Maharini
Share
8 Min Read
SHARE

Oleh: Adv. Rinto Setiyawan, A.Md., S.H., CTPKetua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan

beritax.id – “Politik itu kotor.” Kalimat ini begitu sering kita dengar sehingga lama-kelamaan diterima sebagai kebenaran. Ketika terjadi korupsi, orang menyalahkan politik. Ketika suara diperjualbelikan, disebut permainan politik. Ketika jabatan ditransaksikan, disebut kesepakatan politik. Ketika hukum dipermainkan untuk kepentingan kekuasaan, masyarakat kembali mengatakan: begitulah politik.

Saya justru ingin mengatakan sebaliknya: Politik tidak kotor. Kriminokratlah yang mengotorinya.

Sebab kalau politik pada dasarnya kotor, bagaimana mungkin sebuah negara dapat diselenggarakan tanpa politik? Bagaimana kita menentukan pemimpin? Bagaimana kepentingan ratusan juta manusia dipertemukan? Bagaimana anggaran negara ditentukan? Bagaimana pajak dikumpulkan dan kemudian digunakan? Bagaimana pendidikan, kesehatan, pertahanan, pangan, lingkungan, teknologi dan kesejahteraan rakyat dijadikan kebijakan? Semua itu berhubungan dengan politik.

Karena politik pada hakikatnya bukan sekadar perebutan kekuasaan. Dalam perspektif Sekolah Negarawan, politik adalah proses mengelola kekuasaan, kepentingan dan kebijakan untuk mencapai tujuan bernegara. Maka persoalannya bukan apakah politik diperlukan—politik adalah keniscayaan dalam kehidupan bernegara. Persoalannya adalah siapa yang menjalankannya dan untuk tujuan apa kekuasaan digunakan.

Di sinilah kekacauan kita bermula. Kita terlalu sering menyebut tindakan yang sebenarnya merupakan kejahatan sebagai politik. Membeli suara bukan politik. Mencuri uang negara bukan politik. Memperjualbelikan jabatan bukan politik. Menerima suap bukan politik. Menggunakan kewenangan untuk memperkaya diri bukan politik. Memanipulasi hukum demi melindungi kepentingan tertentu juga bukan politik. Semua itu adalah kejahatan yang menggunakan instrumen kekuasaan.

Karena itu dalam pemikiran Sekolah Negarawan saya menggunakan istilah kriminokrat untuk membedakan pelakunya dari politisi. Kriminokrat adalah orang yang memperoleh, mempertahankan atau menggunakan kekuasaan publik melalui korupsi, manipulasi, transaksi ilegal, penyalahgunaan kewenangan atau bentuk kejahatan lainnya. Ia bisa memakai atribut partai. Ia bisa mengikuti pemilu. Ia bisa mempunyai jabatan. Ia bahkan dapat berbicara setiap hari mengenai kepentingan rakyat. Tetapi keberadaan seseorang di arena politik tidak otomatis menjadikannya seorang politisi dalam pengertian substantif. Politisi menjalankan politik. Kriminokrat menjalankan kejahatan melalui kekuasaan.

You Might Also Like

Kebebasan Informasi Terancam oleh Legislasi yang Mengkerut
Ilusi Demokrasi: Antara Prosedur dan Kebenaran yang Hilang
Gas Air Mata Tembus Kampus, Partai X: Demokrasi Dibungkam dengan Senjata!
Menperin Akui Risiko Badai PHK Massal, Lindungi Pekerja Jadi Prioritas

Perbedaan tersebut sangat penting karena bahasa dapat membentuk kesadaran masyarakat. Kalau setiap korupsi terus kita sebut sebagai perilaku politik, masyarakat akan menyimpulkan bahwa korupsi memang bagian dari politik. Kalau transaksi kekuasaan disebut permainan politik, generasi muda akan belajar bahwa politik memang permainan. Kalau kebohongan disebut strategi politik, orang akan percaya bahwa seorang politisi memang harus pandai berbohong. Lama-kelamaan politik kehilangan kehormatannya.

Dan dari sinilah muncul akibat yang menurut saya jauh lebih berbahaya: orang-orang baik mulai menjauhi politik. Kita sering mendengar anak muda mengatakan, “Saya tidak mau masuk politik.” Ketika ditanya mengapa, jawabannya hampir selalu sama: “Politik itu kotor.”

Bayangkan apabila generasi yang mempunyai ilmu, integritas dan idealisme semuanya mengambil keputusan seperti itu. Siapa yang akan mengisi ruang politik? Kekuasaan tidak akan menjadi kosong hanya karena orang baik tidak mau memasukinya. Partai tetap membutuhkan kader. Pemilu tetap menghasilkan pemenang. DPR tetap mempunyai anggota. Kepala daerah tetap terpilih. Presiden tetap harus dipilih. Anggaran tetap harus ditentukan. Undang-undang tetap dibuat. Keputusan Negara tetap harus diambil.

Artinya, ketika orang-orang baik meninggalkan politik karena menganggapnya kotor, ruang kekuasaan justru semakin terbuka bagi mereka yang tidak mempunyai keberatan untuk menggunakannya demi kepentingannya sendiri. Inilah paradoksnya: kita membenci politik karena melihat banyak perilaku buruk di dalamnya. Kemudian orang baik menjauh. Karena orang baik menjauh, kualitas politik semakin buruk. Lalu semakin buruknya politik dijadikan bukti bahwa politik memang kotor. Lingkaran tersebut terus berputar.

Maka solusinya bukan meninggalkan politik. Politik harus direbut kembali. Bukan direbut dalam pengertian perebutan kekuasaan secara kasar, melainkan dikembalikan kepada makna dan tujuannya. Kita membutuhkan lebih banyak orang baik yang memahami politik. Lebih banyak ilmuwan yang bersedia masuk ke ruang kebijakan. Lebih banyak profesional yang memahami Negara. Lebih banyak ulama dan budayawan yang mampu memberikan kedalaman moral. Lebih banyak anak muda yang melihat jabatan bukan sebagai simbol keberhasilan pribadi, melainkan sebagai tanggung jawab publik.

Tetapi masuknya orang baik saja belum cukup. Orang baik yang tidak memahami kekuasaan dapat dikalahkan oleh sistem. Karena itu dibutuhkan pendidikan politik dan pendidikan kenegarawanan. Di sinilah Sekolah Negarawan membedakan tiga orientasi manusia terhadap kekuasaan:

Kriminokrat mengeksploitasi kekuasaan. Kekuasaan dilihat sebagai kesempatan memperoleh keuntungan pribadi, kelompok atau jaringan.

Politisi mengelola kekuasaan. Ia memahami mekanisme politik, mampu mempertemukan kepentingan, menjalankan kebijakan dan menggunakan mandat untuk mencapai tujuan publik.

Sedangkan Negarawan mengabdikan kekuasaan. Ia tidak berhenti pada pertanyaan bagaimana memperoleh dan menjalankan kekuasaan, tetapi bertanya mengenai akibat keputusan tersebut terhadap masa depan Negara.

Di sinilah perbedaan antara sekadar memenangkan pemerintahan dan menjaga Negara menjadi penting. Pemerintah bukanlah Negara. Pemerintah datang dan pergi. Presiden mempunyai masa jabatan. Menteri berganti. DPR berganti. Kepala daerah berganti. Koalisi berubah. Tetapi Negara harus terus berlangsung. Karena itu politisi yang hanya memikirkan bagaimana kelompoknya memenangkan pemerintahan belum tentu mempunyai kualitas kenegarawanan. Negarawan harus mampu berpikir melampaui pemerintahannya sendiri. Ia bahkan harus berani membuat keputusan yang mungkin tidak populer hari ini apabila keputusan tersebut memang diperlukan untuk menjaga kehidupan bangsa beberapa puluh tahun mendatang.

Maka politik seharusnya menjadi jalan menuju kenegarawanan, bukan jalan menuju kriminalitas kekuasaan. Persoalan Indonesia adalah ketika jalannya terbalik. Orang masuk politik bukan untuk belajar mengabdi, tetapi untuk mencari akses. Jabatan dianggap investasi. Pemilu dianggap modal. Kekuasaan dianggap hasil. Setelah kekuasaan diperoleh, muncul kebutuhan mengembalikan biaya, membayar kepentingan, membagi jabatan dan mempertahankan jaringan. Pada titik itulah politik mulai dikuasai logika transaksi.

Tetapi sekali lagi, jangan salahkan politik. Kalau seseorang menggunakan rumah sakit untuk melakukan kejahatan, kita tidak menyebut ilmu kedokteran sebagai ilmu yang kotor. Kalau seseorang menggunakan perusahaan untuk mencuci uang, kita tidak mengatakan seluruh kegiatan bisnis adalah kejahatan. Maka ketika seseorang menggunakan partai, pemilu atau jabatan publik untuk melakukan kejahatan, jangan pula mengatakan bahwa politik adalah kotor. Sebut perbuatannya dengan nama yang benar: kejahatan kekuasaan. Dan sebut pelakunya dengan kategori yang tepat: kriminokrat.

Dengan membedakan istilah tersebut, kita bukan sekadar bermain dengan kata-kata. Kita sedang menyelamatkan satu ruang penting dalam kehidupan bangsa agar tidak ditinggalkan oleh manusia-manusia terbaiknya. Indonesia membutuhkan politisi yang benar. Dan dari politisi yang benar itulah kita berharap lahir negarawan. Karena sebuah bangsa tidak akan menghasilkan negarawan apabila generasi terbaiknya sejak awal sudah takut memasuki politik.

Maka kepada anak-anak muda saya justru ingin mengatakan: Jangan jauhi politik hanya karena kalian melihat orang-orang yang mengotorinya. Pelajari politik. Pahami Negara. Masuklah dengan ilmu. Jagalah integritas. Dan ketika suatu hari memperoleh kekuasaan, jangan berhenti menjadi politisi yang baik. Tumbuhlah menjadi negarawan.

Sebab kalau orang baik meninggalkan politik karena politik dianggap kotor, kita sedang menyerahkan salah satu instrumen terpenting Negara kepada mereka yang justru ingin memanfaatkannya.

Politik tidak kotor. Politik adalah alat. Di tangan kriminokrat, kekuasaan menjadi alat kejahatan. Di tangan politisi, kekuasaan menjadi alat mengelola kepentingan bersama. Dan di tangan negarawan, kekuasaan menjadi pengabdian untuk menjaga Negara dan masa depan generasi berikutnya.

Jadi jangan tinggalkan politik kepada mereka yang mengotorinya. Rebut kembali kehormatan politik, lahirkan politisi yang benar, dan persiapkan mereka menjadi negarawan.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Apakah Ini “Goro-Goro”? Membaca Kembali Pesan Cak Nun Tahun 2013
Next Article Ketika Pilpres Meninggalkan Polarisasi, Masyarakat Terpecah Belah oleh Pilpres Menjadi Alarm Demokrasi

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

“Pengalihan Pengadilan Pajak ke Mahkamah Agung dalam sistem peradilan Indonesia”
Berita Terkini

Catatan Adaptasi Pengadilan Pajak Menyongsong Pengalihan ke Mahkamah Agung

December 19, 2025
Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025

You May also Like

Pemerintah

Sekolah Bukan Perniagaan: Jangan Biarkan Pendidikan Dikalahkan Kepentingan Bisnis

August 13, 2026
Sosial

Layanan Kesehatan Gratis dari Polri, Partai X: Jangan Sekali Seminggu, Tapi Sepanjang Tahun!

June 17, 2025
Pemerintah

Proyek Pembangunan yang Penuh Janji Kosong: Demokrasi Tanpa Integritas yang Menipu Rakyat

February 13, 2026
Seputar Pajak

IWPI dan P5I Kritik Menkeu: Sri Mulyani Melawan Konstitusi dan Mengacaukan Tata Pemerintahan

September 2, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.