By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Wednesday, 9 September 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Enam Gunung Erupsi Bersamaan, Apa Makna Ucapan Cak Nun 13 Tahun Lalu?
Pemerintah

Enam Gunung Erupsi Bersamaan, Apa Makna Ucapan Cak Nun 13 Tahun Lalu?

Diajeng Maharini
Last updated: September 9, 2026 8:15 am
By Diajeng Maharini
Share
9 Min Read
SHARE

Oleh: Adv. Rinto Setiyawan, A.Md., S.H., CTP
Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan

beritax.id – Ada kalanya sebuah ucapan baru terasa menarik untuk dibaca kembali setelah waktu berjalan cukup panjang. Hal tersebut bukan karena manusia harus langsung mempercayainya sebagai sebuah ramalan. Namun, sebuah peristiwa terkadang mampu membuka kembali pertanyaan dan gagasan yang pernah disampaikan seseorang bertahun-tahun sebelumnya. Peristiwa enam gunung api di Indonesia yang mengalami erupsi pada 31 Agustus 2026 menjadi salah satu momen yang membuat sebuah pesan lama kembali diperhatikan.

Gunung Ibu, Semeru, Lewotobi Laki-laki, Ili Lewotolok, Anak Krakatau, dan Sinabung tercatat mengalami erupsi pada hari yang sama. Bagi Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire, aktivitas gunung api merupakan bagian dari kondisi geografis yang harus dipahami secara ilmiah. Para ahli vulkanologi juga menjelaskan bahwa aktivitas tersebut tidak berarti satu gunung menyebabkan gunung lain mengalami erupsi karena setiap gunung memiliki sistem vulkaniknya masing-masing. Namun, terdapat sebuah kebetulan sejarah yang membuat fenomena tersebut menarik untuk direnungkan.

Tiga belas tahun sebelumnya, tepatnya pada 27 September 2013, dalam acara Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng di halaman Harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, Cak Nun pernah berbicara mengenai kemungkinan lima gunung mengalami erupsi secara bersamaan atau dalam waktu yang berdekatan. Dalam kesempatan tersebut, Cak Nun menyampaikan bahwa setelah sebuah perubahan besar terjadi, Yogyakarta memiliki tanggung jawab untuk membangun masa depan pasca letusan. Pesan tersebut bukan sekadar berbicara mengenai peristiwa alam, melainkan mengarah pada bagaimana manusia mempersiapkan diri menghadapi perubahan.

Hari ini, setelah tiga belas tahun berlalu, kalimat tersebut kembali dibaca bersamaan dengan fenomena enam gunung yang mengalami erupsi pada waktu yang sama. Pertanyaannya bukan hanya apakah ucapan tersebut memiliki hubungan dengan kejadian hari ini. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana manusia membaca sebuah pesan dan mengambil pelajaran dari perjalanan waktu. Saya tidak memiliki kemampuan untuk menjawab apakah Cak Nun sedang meramalkan sesuatu atau apakah peristiwa tersebut hanya sebuah kebetulan.

Ilmu pengetahuan memiliki mekanisme sendiri dalam menjelaskan aktivitas gunung api. Para ahli bekerja menggunakan data, pengamatan kegempaan, perubahan bentuk gunung, kandungan gas vulkanik, serta berbagai instrumen ilmiah lainnya. Karena itu, setiap fenomena alam tetap harus dipahami berdasarkan kajian ilmiah yang objektif. Namun, membaca sebuah peristiwa tidak selalu berarti mencari hubungan sebab akibat secara langsung.

Ada kalanya sebuah peristiwa dibaca untuk menemukan pelajaran. Ketika ucapan Cak Nun dilihat secara lebih utuh, inti pesannya bukan terletak pada angka lima atau jumlah gunung yang mengalami erupsi. Pesan utamanya justru berada pada gagasan tentang bagaimana manusia membangun masa depan setelah menghadapi perubahan besar. Dari sinilah ucapan tersebut menjadi relevan untuk direnungkan kembali.

You Might Also Like

Proyek Siluman Indonesia dan Patologi Birokrasi yang Mengakar
Dari Rechtsstaat Menuju Machtsstaat
Gus Ipul Ngaku Tak Mampu Pimpin PPP, Partai X: Kejujuran Bagus, Tapi Jangan Sampai Jadi Alibi!
Sri Mulyani Bicara Keadilan, Faktanya Pajak Pejabat Ditanggung, Rakyat Diperas

Cak Nun juga pernah menyampaikan gagasan mengenai perlunya manusia yang siap memperbaiki bumi dan membangun masa depan. Ia berbicara mengenai perubahan yang lebih luas, yaitu bagaimana Yogyakarta dapat menjadi ruang lahirnya manusia yang memiliki kepedulian terhadap peradaban. Karena itu, pembicaraan tersebut sebenarnya bergerak dari persoalan bencana menuju persoalan pembangunan manusia.

Jika hanya berfokus pada kalimat tentang lima gunung yang meletus, perhatian kita mungkin berhenti pada pencarian angka dan kecocokan peristiwa. Namun, jika menangkap pesan mengenai pembangunan masa depan, pertanyaannya menjadi jauh lebih besar. Apa yang sudah dipersiapkan selama tiga belas tahun terakhir? Apakah manusia yang mampu memperbaiki keadaan sudah dibentuk? Apakah generasi yang memiliki visi panjang untuk bangsa sudah dipersiapkan?

Di sinilah gagasan tersebut memiliki hubungan dengan pemikiran Sekolah Negarawan. Sebuah bangsa tidak dapat hanya bergerak berdasarkan respons terhadap masalah yang muncul. Bangsa membutuhkan manusia yang dipersiapkan sebelum menghadapi tantangan besar. Pemimpin tidak boleh baru dicari ketika krisis telah datang, tetapi harus dibentuk melalui proses pendidikan yang panjang.

Negarawan harus dipersiapkan sebelum sejarah membutuhkannya. Inilah perbedaan antara manusia yang hanya mengejar kepentingan jangka pendek dengan manusia yang memikirkan keberlangsungan bangsa dalam jangka panjang. Perubahan besar dalam peradaban tidak dibangun dalam hitungan bulan, tetapi melalui proses pembentukan manusia selama bertahun-tahun.

Pembangunan peradaban membutuhkan ilmuwan yang memiliki integritas, ulama yang memiliki keluasan pandangan, budayawan yang menjaga akar kehidupan masyarakat, teknolog yang memahami kebutuhan manusia, birokrat yang bekerja berdasarkan kompetensi, serta pemimpin yang menempatkan tanggung jawab di atas kepentingan pribadi. Semua unsur tersebut harus berjalan bersama agar sebuah bangsa memiliki daya tahan menghadapi perubahan zaman.

Mungkin inilah cara paling produktif membaca ucapan Cak Nun. Bukan dengan rasa takut, tetapi dengan kesiapan. Bukan dengan sibuk mencari tanda, tetapi dengan mempersiapkan manusia yang mampu menghadapi masa depan.

Penyebutan Yogyakarta dalam pesan tersebut juga layak direnungkan. Yogyakarta memiliki perjalanan sejarah yang unik dalam kehidupan bangsa Indonesia. Di sana terdapat tradisi kebudayaan, pendidikan, pesantren, universitas, seni, dan kehidupan intelektual yang berkembang selama puluhan tahun. Namun, sejarah tidak memberikan jaminan otomatis bahwa sebuah daerah mampu membangun peradaban.

Menjadi kota budaya tidak otomatis menghasilkan manusia berbudaya. Menjadi kota pendidikan tidak otomatis melahirkan negarawan. Lembaga pendidikan dapat menghasilkan sarjana, organisasi dapat menghasilkan pemimpin, dan institusi dapat menghasilkan pejabat. Namun, pertanyaan pentingnya adalah siapa yang bertugas membentuk manusia yang memiliki karakter negarawan.

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pesan penting dari ucapan Cak Nun tiga belas tahun lalu. Jika Yogyakarta ingin menjadi ruang yang mempersiapkan manusia masa depan, maka yang harus dibangun bukan hanya fasilitas fisik. Yang harus dipertemukan adalah ilmu dengan moralitas, teknologi dengan kebudayaan, tanggung jawab dengan kewenangan, agama dengan kemanusiaan, akademisi dengan realitas masyarakat, serta generasi muda dengan persoalan nyata bangsa.

Sebuah peradaban tidak dimulai ketika bangunan besar berdiri. Peradaban dimulai ketika kualitas manusianya berubah. Karena itu, fenomena enam gunung yang mengalami erupsi pada 31 Agustus 2026 tidak harus dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa sebuah ramalan telah terbukti. Biarkan ilmu pengetahuan menjelaskan fenomena alam tersebut.

Namun, peristiwa tersebut dapat menjadi pengingat bahwa bangsa harus selalu mempersiapkan diri menghadapi perubahan. Tiga belas tahun setelah Cak Nun berbicara mengenai lima gunung, pertanyaan terbesarnya bukan apakah jumlah gunung tersebut sesuai dengan kejadian hari ini. Pertanyaan utamanya adalah apakah selama tiga belas tahun itu manusia Indonesia telah mempersiapkan generasi yang mampu membangun masa depan.

Sering kali manusia sibuk menunggu tanda perubahan, tetapi lupa menyiapkan diri menghadapi perubahan. Manusia sibuk bertanya kapan krisis datang, tetapi tidak cukup serius membangun kapasitas pemimpin yang mampu menghadapi krisis. Manusia sibuk membaca masa depan, tetapi lupa membentuk generasi yang akan menjalani masa depan tersebut.

Maka makna ucapan Cak Nun tiga belas tahun lalu tidak harus ditemukan pada jumlah gunung yang mengalami erupsi. Maknanya dapat ditemukan pada pertanyaan yang jauh lebih sederhana namun mendalam: jika suatu hari terjadi perubahan besar, apakah Indonesia telah memiliki manusia yang siap membangun setelah perubahan tersebut berlalu?

Gunung dapat mengalami erupsi tanpa menunggu manusia siap. Krisis dapat datang tanpa meminta izin. Dunia dapat berubah lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk beradaptasi. Karena itu, bangsa tidak boleh menunggu bencana untuk mulai mempersiapkan diri.

Tiga belas tahun lalu Cak Nun berbicara mengenai lima gunung. Hari ini enam gunung membuat pesan tersebut kembali direnungkan. Namun, persoalan terbesar bukan mengenai berapa jumlah gunung yang mengalami erupsi. Persoalan terbesarnya adalah siapa manusia yang sedang kita persiapkan untuk membangun masa depan setelah sebuah perubahan besar terjadi.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Saat Mesin Kekuatan Kekuasaan di Sejumlah Titik Menentukan Nasib Rakyat
Next Article Apakah Ini “Goro-Goro”? Membaca Kembali Pesan Cak Nun Tahun 2013

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

“Pengalihan Pengadilan Pajak ke Mahkamah Agung dalam sistem peradilan Indonesia”
Berita Terkini

Catatan Adaptasi Pengadilan Pajak Menyongsong Pengalihan ke Mahkamah Agung

December 19, 2025
Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025

You May also Like

Pemerintah

Batas Kekuasaan Kabur: Mengungkap Kegagalan Sistem yang Tidak Lagi Memiliki Kontrol

March 13, 2026
Pemerintah

Lahan Pertanian Jadi Perumahan, Aturan Baru Dinilai Abaikan Ketahanan Pangan

June 22, 2026
Pemerintah

BGN Bentuk Tim Akreditasi SPPG, Kualitas Harus Prioritas Utama!

February 4, 2026
kementerian indonesia
Pemerintah

Dedi Mulyadi Bilang “Mungkin Saya Dianggap Kementerian”, Partai X: Pemerintahan Butuh Integritas, Bukan Sekadar Popularitas!

May 27, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.