By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Wednesday, 9 September 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Di Balik Pesta Demokrasi, Masyarakat Terpecah Belah oleh Pilkada
Pemerintah

Di Balik Pesta Demokrasi, Masyarakat Terpecah Belah oleh Pilkada

Diajeng Maharini
Last updated: September 8, 2026 1:39 pm
By Diajeng Maharini
Share
13 Min Read
SHARE

beritax.id – Di balik pesta demokrasi yang semestinya menjadi ruang bagi rakyat menentukan arah kehidupan bersama, muncul persoalan sosial yang tidak boleh diabaikan, yaitu ketika masyarakat terpecah belah oleh pilkada. Perbedaan pilihan yang seharusnya berlangsung sebagai bagian dari proses menentukan kepemimpinan justru dapat berkembang menjadi jarak antartetangga, antarkeluarga, bahkan antarkawan. Persaingan pilihan sering kali tidak berhenti pada ruang pemungutan suara, tetapi terbawa ke dalam percakapan sehari-hari dan hubungan sosial masyarakat. Dalam keadaan seperti itu, pesta demokrasi kehilangan sebagian makna kemanusiaannya karena perbedaan pilihan berubah menjadi prasangka dan permusuhan. Persoalan tersebut menjadi semakin serius apabila masyarakat tidak memiliki ruang perjumpaan yang cukup untuk memulihkan hubungan setelah proses pemilihan berakhir.

Contents
Komunitas Langgar yang Pernah Menjadi Sekolah KehidupanKetika Rumah Menjadi Satu-Satunya Ruang PerlindunganLayar, Konsumtivisme, dan Perubahan Alam PikirPerbedaan Pilihan Tidak Boleh Menjadi PermusuhanMenghidupkan Kembali Komunitas LanggarKeluarga Harus Mengambil Kembali Peran PendidikanMemulihkan Masyarakat Setelah Pesta DemokrasiDemokrasi Harus Meninggalkan Warisan Persaudaraan

Fenomena masyarakat terpecah belah oleh pilkada perlu dilihat bukan semata sebagai persoalan perbedaan pilihan, melainkan sebagai tanda bahwa fondasi hubungan sosial sedang mengalami tekanan. Masyarakat yang dahulu terbiasa hidup dalam suasana saling mengenal perlahan menghadapi pola kehidupan yang semakin individual. Orang lebih banyak berinteraksi melalui layar dibandingkan bertemu langsung dengan tetangga di lingkungan sekitar. Perubahan tersebut membuat ruang untuk saling memahami menjadi semakin sempit dan ruang untuk mencurigai menjadi semakin luas. Ketika perbedaan pilihan masuk ke dalam kondisi sosial yang sudah rapuh, konflik kecil dapat dengan mudah berkembang menjadi pertengkaran yang lebih besar.

Komunitas Langgar yang Pernah Menjadi Sekolah Kehidupan

Beberapa puluh tahun terakhir menunjukkan perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, termasuk semakin pudarnya Komunitas Langgar yang dahulu menjadi bagian penting dari kehidupan sosial. Komunitas Langgar tidak hanya berfungsi sebagai tempat menjalankan kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan anak-anak, orang tua, tetangga, dan generasi yang lebih tua. Di ruang semacam itu, anak-anak belajar mengenal lingkungan melalui pengalaman langsung bersama masyarakat. Mereka belajar saling menolong, saling menjaga, saling mendidik, dan saling menyelamatkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, lingkungan masyarakat menjadi semacam sekolah sosial, sekolah budaya, dan sekolah keagamaan yang membentuk karakter melalui keteladanan dan kebersamaan.

Ketika Komunitas Langgar semakin kehilangan perannya, sebagian fungsi pendidikan sosial tersebut ikut mengalami perubahan. Ruang perjumpaan yang sebelumnya terbuka dan dekat dengan kehidupan masyarakat perlahan digantikan oleh berbagai bentuk hiburan yang hadir melalui layar. Tayangan prime-time televisi menjadi salah satu simbol perubahan tersebut karena waktu keluarga dan anak-anak semakin banyak diisi oleh tontonan dari luar lingkungan mereka. Kondisi ini membuat anak-anak lebih sering menjadi penonton daripada pelaku kehidupan sosial di lingkungannya sendiri. Padahal, pembentukan karakter tidak cukup dilakukan melalui nasihat, karena anak membutuhkan pengalaman hidup bersama orang lain untuk memahami tanggung jawab, kepedulian, dan rasa memiliki terhadap masyarakat.

Ketika Rumah Menjadi Satu-Satunya Ruang Perlindungan

Perubahan kehidupan sosial juga melahirkan kekhawatiran baru terhadap dunia di luar rumah. Narkoba, penculikan, kekerasan, informasi buruk, dan berbagai ancaman lainnya membuat sebagian keluarga semakin berhati-hati ketika membiarkan anak berinteraksi dengan lingkungan. Kekhawatiran tersebut dapat dipahami sebagai bentuk perlindungan orang tua terhadap anak. Namun, apabila ketakutan berkembang menjadi sikap saling curiga kepada semua orang, hubungan sosial dapat kehilangan kehangatannya. Masyarakat akhirnya tidak lagi dipandang sebagai keluarga besar yang saling melindungi, tetapi sebagai kumpulan individu yang masing-masing berusaha menjaga dirinya sendiri.

Dalam kondisi tersebut, masyarakat terpecah belah oleh pilkada menjadi persoalan yang lebih dalam daripada sekadar perbedaan pilihan pada saat pemungutan suara. Ketika kepercayaan sosial sudah melemah, perbedaan pilihan dapat menjadi alasan baru untuk membangun batas antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya. Percakapan yang sebelumnya berlangsung secara santai dapat berubah menjadi perdebatan yang penuh kecurigaan. Hubungan bertetangga yang semula dibangun melalui gotong royong dapat terganggu hanya karena seseorang dianggap berbeda dalam menentukan pilihan. Jika keadaan tersebut dibiarkan, masyarakat kehilangan modal sosial yang selama ini menjadi kekuatan utama kehidupan bersama.

You Might Also Like

Kantin MBG Harus Diawasi, Keselamatan Anak Jangan Dipertaruhkan
Ketua DPR Soroti Sekolah Rakyat, Partai X: Yang Takut Rakyat Cerdas Biasanya yang Paling Butuh Kursus Etika!
Said Iqbal Soroti PHK 55.000, Desak Perlindungan Pekerja
Kebijakan Perguruan Tinggi, Pendidikan Harus Berpihak pada Rakyat

Layar, Konsumtivisme, dan Perubahan Alam Pikir

Perubahan ruang sosial juga berjalan bersamaan dengan derasnya arus informasi dan budaya konsumsi. Anak-anak menghadapi berbagai tayangan, iklan, tren, dan gaya hidup yang dapat membentuk cara mereka melihat dunia. Konsumtivisme dan hedonisme kemudian mudah masuk ketika pendidikan keluarga dan masyarakat tidak cukup kuat memberikan arah. Anak dapat semakin terbiasa mengukur kebahagiaan dari apa yang dimiliki, apa yang ditampilkan, dan apa yang sedang menjadi tren. Dalam keadaan demikian, kebutuhan untuk membangun hubungan sosial yang sehat dapat tersisihkan oleh keinginan untuk mendapatkan pengakuan secara individual.

Kritik terhadap keadaan tersebut dapat dipahami melalui istilah “Agama Globalisasi” yang digunakan untuk menggambarkan kuatnya pengaruh nilai-nilai baru dalam kehidupan manusia. Istilah tersebut bukanlah agama dalam pengertian formal, melainkan sebuah ungkapan untuk menunjukkan bagaimana arus globalisasi dapat menghadirkan seperangkat nilai yang kemudian diikuti tanpa selalu melalui proses penyaringan. Jika anak-anak kehilangan pendampingan keluarga dan lingkungan, berbagai pengaruh tersebut dapat membentuk perilaku tanpa fondasi moral yang kuat. Akibatnya, pendidikan yang seharusnya mengangkat martabat manusia dapat kalah oleh dorongan kesenangan, konsumsi, persaingan, dan pencarian pengakuan. Karena itu, persoalan yang dihadapi masyarakat bukan hanya bagaimana menggunakan teknologi, tetapi bagaimana memastikan teknologi tidak mengambil alih seluruh ruang pendidikan manusia.

Perbedaan Pilihan Tidak Boleh Menjadi Permusuhan

Pilkada pada dasarnya menghadirkan perbedaan pilihan yang merupakan bagian dari kehidupan bersama. Perbedaan tersebut seharusnya tidak menghapus hubungan persaudaraan yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Seseorang tetap dapat berbeda pilihan dengan tetangganya tanpa harus berhenti menyapa, bekerja sama, dan saling membantu. Keluarga juga tidak seharusnya kehilangan kehangatan hanya karena anggotanya memiliki pilihan yang berbeda. Dalam masyarakat yang sehat, perbedaan pilihan berhenti ketika proses penentuan pilihan selesai, sementara hubungan kemanusiaan terus berjalan.

Karena itu, persoalan masyarakat terpecah belah oleh pilkada perlu dijawab dengan memperkuat kembali budaya dialog dan perjumpaan. Masyarakat harus memiliki ruang yang memungkinkan orang berbeda pandangan tetap duduk bersama tanpa saling merendahkan. Setelah proses pemilihan selesai, kegiatan bersama seperti kerja bakti, pengajian, pertemuan warga, kegiatan pemuda, kegiatan anak-anak, dan gotong royong dapat menjadi sarana memulihkan hubungan. Tokoh masyarakat dan orang tua juga memiliki tanggung jawab untuk menunjukkan bahwa perbedaan tidak identik dengan permusuhan. Anak-anak perlu melihat secara langsung bahwa orang dewasa mampu berbeda pendapat sekaligus tetap saling menghormati.

Menghidupkan Kembali Komunitas Langgar

Salah satu solusi yang dapat dikembangkan adalah menghidupkan kembali Komunitas Langgar sebagai ruang pendidikan sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Komunitas Langgar dapat menjadi tempat anak-anak belajar agama, budaya, etika, kepedulian, gotong royong, dan tanggung jawab sosial. Kegiatan tidak harus selalu bersifat formal, karena permainan tradisional, diskusi ringan, membaca bersama, kegiatan sosial, dan pendampingan anak juga dapat menjadi bagian dari pendidikan. Kehadiran orang tua dan generasi yang lebih tua dapat memperkuat proses pewarisan nilai dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Dengan cara tersebut, anak tidak hanya mendapatkan pendidikan dari layar, tetapi juga memperoleh pengalaman nyata dari masyarakat di sekitarnya.

Penguatan Komunitas Langgar juga dapat menjadi salah satu jalan untuk menghadapi persoalan masyarakat terpecah belah oleh pilkada. Ruang bersama yang dibangun secara terbuka dapat mempertemukan kembali orang-orang yang sempat menjauh akibat perbedaan pilihan. Kegiatan sosial dapat mengembalikan kebiasaan saling membantu yang tidak mengenal perbedaan pilihan. Hubungan yang sempat renggang dapat dipulihkan melalui interaksi yang berlangsung secara alami dan berulang. Ketika masyarakat kembali memiliki ruang untuk bertemu, berbicara, bekerja bersama, dan saling mengenal, prasangka akan lebih mudah dikurangi.

Keluarga Harus Mengambil Kembali Peran Pendidikan

Keluarga juga perlu mengambil kembali peran penting dalam membentuk alam pikir dan karakter anak. Orang tua tidak cukup hanya melarang anak melihat atau menggunakan sesuatu, tetapi perlu hadir sebagai pendamping yang mengajak anak memahami apa yang mereka lihat. Penggunaan televisi, internet, dan berbagai perangkat digital perlu disertai batasan yang sehat serta percakapan yang membangun kemampuan berpikir kritis. Anak perlu diajarkan untuk membedakan informasi, hiburan, iklan, dan nilai kehidupan yang mereka temui setiap hari. Dengan pendampingan tersebut, teknologi dapat menjadi alat pendidikan tanpa menggantikan hubungan manusia secara langsung.

Pendidikan keluarga juga harus mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendirian. Anak perlu dibiasakan untuk menyapa tetangga, menghormati orang yang lebih tua, membantu orang yang membutuhkan, dan ikut menjaga lingkungan. Kebiasaan sederhana tersebut merupakan dasar pembentukan karakter yang tidak selalu dapat diperoleh melalui pendidikan formal. Ketika keluarga dan masyarakat bekerja bersama, anak memperoleh lingkungan yang konsisten antara apa yang diajarkan dan apa yang mereka saksikan. Dari sanalah nilai kemanusiaan dapat tumbuh menjadi kebiasaan hidup, bukan sekadar menjadi kata-kata.

Memulihkan Masyarakat Setelah Pesta Demokrasi

Pesta demokrasi seharusnya tidak meninggalkan masyarakat dalam keadaan saling bermusuhan. Setelah pilihan ditentukan, masyarakat perlu kembali kepada persoalan yang lebih mendasar, yaitu bagaimana hidup bersama secara damai dan saling membantu. Perbedaan yang terjadi selama proses pemilihan perlu diletakkan sebagai bagian dari pengalaman bersama, bukan dijadikan alasan untuk mempertahankan permusuhan. Tokoh masyarakat dapat mengambil peran sebagai penghubung dengan mengajak warga kembali melakukan kegiatan yang mempertemukan berbagai kelompok. Ruang sosial harus dipenuhi kembali oleh percakapan yang sehat, kegiatan bersama, dan semangat gotong royong.

Pada akhirnya, masyarakat terpecah belah oleh pilkada bukan keadaan yang harus diterima sebagai sesuatu yang wajar dan tidak dapat diperbaiki. Perpecahan sosial dapat dicegah apabila keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan kembali menempatkan pembentukan karakter sebagai pekerjaan bersama. Komunitas Langgar dapat dihidupkan kembali sebagai ruang sosial yang mempertemukan pendidikan agama, budaya, kepedulian, dan kehidupan masyarakat. Teknologi tetap dapat digunakan, tetapi tidak boleh menggantikan seluruh ruang perjumpaan manusia. Dengan mengembalikan budaya saling menolong, mendidik, menjaga, dan menyelamatkan, masyarakat dapat membangun kembali persaudaraan yang lebih kuat daripada perbedaan pilihan.

Demokrasi Harus Meninggalkan Warisan Persaudaraan

Ukuran keberhasilan sebuah pesta demokrasi tidak seharusnya berhenti pada terselenggaranya pemungutan suara. Keberhasilan juga perlu dilihat dari kemampuan masyarakat mempertahankan persaudaraan setelah perbedaan pilihan selesai. Jika warga dapat kembali duduk bersama, bekerja sama, dan saling menjaga, maka proses demokrasi tidak meninggalkan luka sosial yang berkepanjangan. Sebaliknya, apabila perbedaan pilihan membuat keluarga bertengkar dan tetangga saling menjauh, masyarakat perlu melakukan evaluasi terhadap cara membangun kehidupan bersama. Demokrasi seharusnya menjadi sarana untuk memperkuat kehidupan rakyat, bukan membuat rakyat kehilangan satu sama lain.

Karena itu, pekerjaan besar setelah pesta demokrasi adalah merawat kembali hubungan sosial yang mungkin mengalami keretakan. Pemerintah, tokoh masyarakat, keluarga, pendidik, dan seluruh warga dapat mengambil bagian sesuai perannya masing-masing. Ruang-ruang kebersamaan perlu diperbanyak dan ruang yang hanya mempertemukan masyarakat dalam suasana saling menyerang perlu dikurangi. Anak-anak harus dikembalikan kepada lingkungan yang memberikan keteladanan, kasih sayang, kedisiplinan, dan pengalaman hidup bersama. Jika masyarakat mampu melakukan langkah tersebut, maka perbedaan pilihan tidak akan menjadi warisan permusuhan, melainkan menjadi bagian dari perjalanan bersama untuk membangun masyarakat yang lebih dewasa, beradab, dan saling menjaga.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Masyarakat Terpecah Belah oleh Pilkada: Rakyat Bertengkar, Siapa yang Berkuasa?
Next Article Memahami Sistem Bangsa: Menguak Akar Negara dalam Buku Free Indonesia Save Nusantara Jilid 1

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

“Pengalihan Pengadilan Pajak ke Mahkamah Agung dalam sistem peradilan Indonesia”
Berita Terkini

Catatan Adaptasi Pengadilan Pajak Menyongsong Pengalihan ke Mahkamah Agung

December 19, 2025
Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025

You May also Like

Pemerintah

Kemhan Perkuat Pertahanan Negara, Partai X: Negara Butuh Perlindungan, Rakyat Butuh Keamanan!

October 1, 2025
Pemerintah

Akademisi Minta MBG Tak Masuk Anggaran Pendidikan, Ingatkan Anggaran Harus Transparansi

April 30, 2026
Cak Nun: Polisi Bukan Alat Pemerintah, Saatnya Revolusi Damai Kembalikan Kedaulatan Rakyat
Pemerintah

Cak Nun: Polisi Bukan Alat Pemerintah, Saatnya Revolusi Damai Kembalikan Kedaulatan Rakyat

July 4, 2025
Wamen PANRB), Purwadi Arianto, menyatakan bahwa reformasi birokrasi di Provinsi Lampung telah berjalan secara efektif
Pemerintah

Birokrasi Lampung Dibilang Efektif, Partai X: Kalau Reformasi Hanya di Pidato, Rakyat Cuma Jadi Penonton Sandiwara!

July 25, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.