By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Thursday, 26 February 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Pemerintahan Bergaji Publik dan Krisis Representasi
Pemerintah

Pemerintahan Bergaji Publik dan Krisis Representasi

Diajeng Maharani
Last updated: January 9, 2026 1:02 pm
By Diajeng Maharani
Share
3 Min Read
SHARE

beritax.id — Pemerintahan bergaji publik atau pemerintahan yang seluruh operasionalnya dibiayai oleh pajak rakyat seharusnya menjadi perpanjangan suara dan kepentingan warga negara. Namun dalam perkembangan mutakhir, muncul krisis representasi yang kian terasa: kebijakan berjalan, kekuasaan stabil, tetapi rakyat merasa tidak lagi benar-benar diwakili dalam pengambilan keputusan negara.

Sejumlah kebijakan strategis belakangan ini baik di bidang ekonomi, fiskal, maupun tata kelola menimbulkan jarak antara penguasa dan warga. Di tengah tekanan biaya hidup, melemahnya daya beli, meningkatnya kerja rentan, serta keresahan kelas menengah dan pekerja, aspirasi publik kerap tidak terpantul secara utuh dalam keputusan negara. Pemerintahan bergaji publik tetap berjalan, tetapi representasi rakyatnya melemah.

Dibiayai Rakyat, Tidak Sepenuhnya Mewakili Rakyat

Krisis representasi muncul ketika rakyat lebih sering diposisikan sebagai objek kebijakan, bukan subjek yang dilibatkan. Proses perumusan kebijakan cenderung manipulatif, cepat, dan tertutup, sementara dialog publik berlangsung terbatas dan bersifat formalitas.

Akibatnya, banyak warga merasa suara mereka berhenti di bilik suara, tidak berlanjut dalam ruang kebijakan yang menentukan hidup sehari-hari.

Kebijakan Berjalan, Aspirasi Tertinggal

Dalam beberapa kasus, kebijakan pemerintah lebih menekankan stabilitas sistem, target angka, dan narasi keberhasilan, ketimbang menjawab persoalan konkret rakyat. Kenaikan biaya kebutuhan dasar, ketidakpastian kerja, serta lemahnya perlindungan sosial menjadi contoh jurang antara keputusan negara dan pengalaman warga.

Ketika aspirasi tidak terakomodasi, pemerintahan bergaji publik kehilangan fungsi representatifnya.

You Might Also Like

Wapres Minta Sampah Dipilah dari Hulu ke Hilir, Partai X Ingatkan: Jangan Pilah Rakyat Demi Proyek Energi!
Struktur Ketatanegaraan Rusak: Keadilan Pun Jadi Barang Mewah Ber-PPN 12%
Tarif Parkir Naik Demi Subsidi, Partai X: Rakyat Dipalak Demi Proyek yang Belum Teruji!
Hasto Bebas Berkat Prabowo, Partai X: Apakah Rakyat Juga Bisa Bebas dari Beban Hidup Berkat Pemerintah?

Demokrasi Prosedural Tanpa Substansi Representasi

Pemilu, parlemen, dan mekanisme formal demokrasi tetap berjalan. Namun demokrasi kehilangan makna ketika wakil dan pemerintah tidak lagi secara aktif menyerap, membawa, dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Representasi berubah menjadi simbolik, bukan substantif.

Kondisi ini memicu apatisme pejabat dan menurunkan kepercayaan publik terhadap institusi negara.

Krisis representasi tidak hanya berdampak pemerintahan, tetapi juga sosial. Rakyat yang merasa tidak diwakili cenderung menarik diri, kehilangan kepercayaan, dan memandang negara sebagai entitas yang jauh. Dalam jangka panjang, jarak ini dapat melemahkan kohesi sosial dan stabilitas demokrasi itu sendiri.

Negara bisa tetap kuat secara administratif, tetapi rapuh secara legitimasi.

Solusi: Mengembalikan Representasi ke Rakyat

Untuk memulihkan makna pemerintahan bergaji publik dan mengatasi krisis representasi, diperlukan langkah-langkah nyata, antara lain:

  1. Memperkuat partisipasi publik yang bermakna, bukan sekadar konsultasi formal setelah kebijakan diputuskan.
  2. Menjadikan aspirasi rakyat sebagai dasar utama kebijakan, terutama dalam isu ekonomi, kesejahteraan, dan perlindungan sosial.
  3. Meningkatkan akuntabilitas wakil dan pejabat publik, agar benar-benar bertanggung jawab kepada konstituen dan pembayar pajak.
  4. Membuka ruang kritik dan dialog yang aman, sebagai mekanisme koreksi demokratis.
  5. Mereorientasikan demokrasi dari prosedural ke substantif, dengan menempatkan rakyat sebagai pusat representasi.

Pemerintahan yang digaji publik tidak boleh kehilangan daya wakilnya. Selama rakyat merasa tidak terwakili dalam kebijakan yang mereka biayai, maka demokrasi akan terus berjalan tanpa arah dan pemerintahan bergaji publik akan kehilangan legitimasi dasarnya sebagai perwujudan kedaulatan rakyat.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Nadiem Sebut Kasus Tak Masuk Akal, Pengadaan Laptop Harus Transparan!
Next Article Pertumbuhan Ekonomi Indonesia yang Menguntungkan Sistem

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025
Ekonomi

Heboh Seruan Tarik Dana dari Bank Karena Danantara, Partai X Soroti Transparansi

February 24, 2025

You May also Like

Gaya Hidup

Gaya Hidup Sederhana Hakim Diapresiasi, Partai X: Semoga Tak Hanya Gaya, Tapi Juga Tegas Hukum Tanpa Pandang Kuasa!

May 28, 2025
Pemerintah

Krisis Keadilan: Demokrasi Masih Ada di Poster, Hilang di Praktik

January 2, 2026
Pendidikan

Korupsi Anggaran Pendidikan dan Kualitas Sumber Daya Manusia

January 26, 2026
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan masih akan memanggil saksi lain terkait dugaan korupsi proyek jalur kereta api.
Pemerintah

KPK Buka Peluang Panggil DPR, Partai X: Jangan Tebang Pilih

August 28, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Hot
  • Politics
  • Renewable Energy
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.