beritax.id – Qom, 22 Agustus 2026 — Hubungan Indonesia dan Iran memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan melalui jalur masyarakat. Hal tersebut menjadi salah satu gagasan yang dibawa Sekolah Negarawan dalam kunjungannya ke Islamic Culture and Relations Organization (ICRO) Qom, Sabtu (22/8/2026).
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya Sekolah Negarawan untuk menjajaki kemungkinan membangun hubungan kebudayaan yang lebih sistematis antara masyarakat Indonesia dan masyarakat Iran. Delegasi Sekolah Negarawan yang terdiri atas Prayogi R. Saputra, Rinto Setiyawan, dan Abdullah Assegaf disambut langsung oleh Direktur ICRO Qom, Dr. Hamed Rafati, bersama jajaran ICRO Qom.
Pertemuan tersebut sekaligus membuka ruang dialog mengenai kemungkinan membangun kerja sama kebudayaan yang tidak hanya bersifat kegiatan sesaat, tetapi dapat berkembang menjadi hubungan kelembagaan yang berkelanjutan.

Diplomasi Tidak Hanya Milik Negara
Dalam praktik hubungan internasional, diplomasi selama ini sering kali identik dengan aktivitas pemerintah dan lembaga diplomatik resmi. Namun, perkembangan hubungan internasional menunjukkan bahwa masyarakat, organisasi nonpemerintah, akademisi, komunitas budaya, dan lembaga pendidikan juga memiliki ruang untuk membangun hubungan lintas negara.
Sekolah Negarawan melihat ruang tersebut sebagai peluang untuk mengembangkan people-to-people diplomacy antara Indonesia dan Iran.
Sebagai lembaga nonpemerintah, Sekolah Negarawan tidak menempatkan dirinya sebagai pengganti peran negara dalam diplomasi. Sebaliknya, inisiatif tersebut diarahkan untuk melengkapi hubungan antarpemerintah dengan membangun jaringan hubungan langsung di tingkat masyarakat.
Pendekatan tersebut memungkinkan hubungan Indonesia–Iran memiliki basis yang lebih luas. Hubungan bilateral tidak hanya dibicarakan oleh pemerintah, tetapi juga dirasakan dan dibangun oleh masyarakat kedua negara.
Karena itu, hubungan dengan ICRO Qom dipandang sebagai salah satu pintu masuk penting untuk membangun jejaring kebudayaan yang lebih luas.
Mencari Titik Temu Kebudayaan
Salah satu tantangan dalam membangun hubungan antarmasyarakat dari dua negara yang memiliki latar sejarah dan pengalaman sosial yang berbeda adalah menemukan ruang perjumpaan yang dapat diterima dan dikembangkan bersama.
Dalam konteks inilah kebudayaan memiliki posisi strategis. Kebudayaan memungkinkan masyarakat Indonesia dan Iran berinteraksi melalui berbagai medium tanpa harus selalu memulai dari isu-isu politik yang kompleks. Sastra, seni, pendidikan, sejarah, pemikiran, tradisi intelektual, dan pertukaran pengalaman sosial dapat menjadi pintu masuk untuk membangun pemahaman yang lebih mendalam.
Melalui hubungan kebudayaan, masyarakat dapat mengenal negara lain bukan hanya berdasarkan informasi yang diperoleh dari media, tetapi melalui pengalaman interaksi secara langsung.
Bagi Sekolah Negarawan, proses tersebut penting karena hubungan antarbangsa yang kuat membutuhkan mutual understanding atau saling pengertian.
Semakin banyak masyarakat Indonesia yang mengenal Iran secara langsung, demikian pula semakin banyak masyarakat Iran yang mengenal Indonesia, semakin terbuka peluang terbentuknya persepsi yang lebih berimbang dan hubungan yang lebih konstruktif.
ICRO sebagai Mitra Strategis
Penjajakan dengan ICRO Qom memiliki arti penting karena lembaga tersebut berada dalam ekosistem kebudayaan dan hubungan internasional Iran.
ICRO memiliki fungsi dalam membangun hubungan kebudayaan Iran dengan masyarakat internasional, termasuk melalui berbagai kegiatan kebudayaan, pendidikan, dialog, serta hubungan dengan institusi di luar Iran.
Posisi tersebut menjadikan ICRO sebagai salah satu institusi potensial untuk membangun jembatan antara masyarakat Iran dengan berbagai komunitas dan institusi di negara lain. (en.icro.ir)
Bagi Sekolah Negarawan, pertemuan dengan ICRO Qom karena itu bukan sekadar kunjungan kelembagaan. Pertemuan tersebut merupakan bagian dari proses mencari mitra yang dapat membantu membuka ruang interaksi yang lebih luas antara masyarakat Indonesia dan Iran.
Hubungan tersebut diharapkan dapat berkembang secara bertahap, dari komunikasi awal menuju program bersama yang lebih konkret.
Menginstitusionalisasikan Hubungan Antarmasyarakat
Salah satu gagasan penting yang ingin dikembangkan Sekolah Negarawan adalah bagaimana people-to-people diplomacy tidak berhenti pada hubungan personal atau pertemuan informal.
Hubungan antarmasyarakat membutuhkan institusi agar dapat bertahan dalam jangka panjang.
Karena itu, Sekolah Negarawan berharap hubungan dengan ICRO dapat menjadi salah satu contoh bagaimana diplomasi masyarakat dapat diinstitusionalisasikan melalui kerja sama antarlembaga.
Dengan adanya institusi, hubungan yang terbangun dapat memiliki kesinambungan, agenda yang jelas, serta kemungkinan untuk melibatkan lebih banyak masyarakat.
Model tersebut juga memungkinkan pertukaran tidak hanya berlangsung satu arah. Masyarakat Indonesia dapat belajar dari pengalaman Iran, sementara masyarakat Iran juga memiliki kesempatan untuk mengenal pengalaman Indonesia secara lebih dekat.
Dengan demikian, hubungan kebudayaan dapat menjadi proses pertukaran yang setara.
Membuka Agenda Kerja Sama Baru
Penjajakan yang dilakukan di Qom diharapkan menjadi awal dari agenda kerja sama yang lebih luas antara Sekolah Negarawan dan ICRO.
Ke depan, berbagai kemungkinan dapat dikembangkan sesuai dengan kesepakatan kedua pihak, mulai dari forum dialog kebudayaan, pertukaran delegasi, diskusi intelektual, program pendidikan, pertukaran pemuda, hingga kegiatan yang memperkenalkan kebudayaan masing-masing negara.
Bagi Sekolah Negarawan, yang terpenting adalah membangun hubungan yang berkelanjutan.
Hubungan kebudayaan tidak dapat dibangun hanya melalui satu kegiatan. Ia membutuhkan komunikasi, kepercayaan, interaksi, dan kerja sama yang dilakukan secara konsisten.
Karena itu, kunjungan pada 22 Agustus 2026 tersebut dipandang sebagai langkah awal, bukan titik akhir.
Dari Qom untuk Hubungan Indonesia–Iran
Qom selama ini dikenal sebagai salah satu pusat penting kehidupan intelektual dan keagamaan Iran. Pertemuan Sekolah Negarawan dengan ICRO Qom memberikan kesempatan untuk melihat bahwa hubungan Indonesia–Iran juga dapat dikembangkan melalui dimensi kebudayaan dan hubungan antarmasyarakat.
Sekolah Negarawan berharap penjajakan tersebut dapat melahirkan kerja sama yang lebih erat dan strategis dalam memperkuat hubungan kebudayaan Indonesia dan Iran.
Lebih dari sekadar membangun hubungan antarlembaga, inisiatif tersebut membawa gagasan yang lebih luas: bahwa persahabatan antarbangsa tidak selalu harus dimulai dari meja diplomasi pemerintah. Ia juga dapat dimulai dari perjumpaan masyarakat dengan masyarakat.
Melalui pendidikan, kebudayaan, pengetahuan, dan dialog, masyarakat Indonesia dan Iran memiliki peluang untuk membangun jembatan hubungan yang lebih panjang dan berkelanjutan.
Dalam kerangka itulah, kunjungan Sekolah Negarawan ke ICRO Qom menjadi bagian dari upaya kecil untuk membangun model diplomasi masyarakat yang dapat memperkuat hubungan Indonesia–Iran dari akar rumput.



