Oleh: Tim Delegasi Sekolah Negarawan
BRUSSEL – Jika markas NATO dan Parlemen Eropa menunjukkan wajah Brussel sebagai pusat komando geopolitik modern, maka Grand-Place dan Royal Palace of Brussels adalah cermin dari jiwa historis kota ini. Pada September 2025 lalu, delegasi Sekolah Negarawan menyusuri jalanan berbatu yang menghubungkan kedua monumen sejarah tersebut. Apa yang kami temukan bukanlah sekadar tumpukan batu bata dan ornamen berlapis emas, melainkan sebuah manuskrip terbuka tentang filosofi kepemimpinan dan tata kelola ruang.

Foto di depan masjid Indonesia Brusel
Dalam rombongan yang terdiri dari Direktur Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, CEO Enygma Solusi Negeri Erick Karya, dan perwakilan Eropa Imam Syafiih Kamil, kami merenungkan sebuah kontras yang indah. Grand-Place adalah monumen yang didirikan oleh keringat rakyat para pedagang, pengrajin, dan serikat pekerja. Sementara Royal Palace adalah simbol dari institusi kenegaraan, ketertiban konstitusional, dan wibawa seorang kepala negara.
Berdiri di tengah alun-alun Grand-Place, kami belajar tentang resiliensi (ketangguhan). Pada tahun 1695, kawasan ini nyaris rata dengan tanah akibat pengeboman. Namun, warga sipil dan serikat pekerja saat itu bergotong royong membangunnya kembali dengan lebih megah dalam waktu singkat. Pesan kepemimpinan dari peristiwa ini sangat jelas: sebuah peradaban tidak akan hancur selama rakyatnya memiliki kebanggaan dan semangat kolektif untuk bangkit kembali.
Di sisi lain, saat kami melangkah menuju Royal Palace of Brussels, atmosfer berubah menjadi lebih tenang dan tertata. Fasad istana yang sangat panjang dan megah ini merepresentasikan kekuatan stabilitas. Di sinilah keputusan-keputusan kenegaraan diproses dan tamu-tamu asing disambut. Istana ini mengajarkan bahwa sebuah negara tetap membutuhkan simbol pemersatu yang berdiri di atas segala hiruk-pikuk politik harian.
Erick Karya, yang memiliki latar belakang teknologi dan infrastruktur, menyoroti hal ini sebagai seni urban planning (perencanaan kota) tingkat tinggi. Bagaimana sebuah kota merancang tata ruang yang memberikan tempat terhormat bagi wibawa negara (istana), namun di saat yang sama membiarkan ruang publik (Grand-Place) berdenyut dinamis sebagai pusat ekonomi rakyat. Ini adalah representasi tata ruang yang sangat demokratis sekaligus berwibawa.

Foto Grand Place
Bagi kami di Sekolah Negarawan, observasi ini melahirkan refleksi tajam untuk Indonesia. Ketika kita sedang gencar membangun kota-kota baru, termasuk Ibu Kota Nusantara (IKN), kita harus bertanya pada diri sendiri: apakah kita sedang membangun jiwa kotanya, atau hanya betonnya saja? Sebuah kota pemimpin harus memiliki ruang yang merayakan kekuatan rakyat, bersisian harmonis dengan ruang yang merepresentasikan keagungan negara.
Pada akhirnya, negarawan yang baik adalah mereka yang mampu menjaga dua pilar utama ini: merawat semangat dan kesejahteraan akar rumput (seperti filosofi guildhalls di Grand-Place), sembari terus menjaga kehormatan dan stabilitas institusi negara (seperti berdirinya tegak Royal Palace). Memahami keseimbangan inilah yang akan membawa Indonesia menjadi peradaban yang dihormati dunia.



