By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Saturday, 15 August 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Rakyat Terpinggirkan oleh Pusat: Negara Kesatuan atau Sentralisasi Kekayaan?
Pemerintah

Rakyat Terpinggirkan oleh Pusat: Negara Kesatuan atau Sentralisasi Kekayaan?

Diajeng Maharini
Last updated: July 29, 2026 10:07 am
By Diajeng Maharini
Share
4 Min Read
SHARE

beritax.id – Fenomena “rakyat terpinggirkan oleh pusat” terlihat nyata di kabupaten penghasil sumber daya alam. Indonesia sering menampilkan diri sebagai negara modern. Gedung pencakar langit berdiri di kota besar. Jalan tol terus dibangun. Teknologi digital merambah hampir seluruh aspek kehidupan. Pemerintah gencar membicarakan transformasi digital, hilirisasi industri, dan visi Indonesia Emas. Dari kejauhan, negara tampak maju, rasional, efisien, dan beradab.Namun modernitas sejati tidak diukur hanya dari gedung dan teknologi.Keadilan sosial menjadi indikator utama kemajuan bangsa.

Contents
Kritik Cak Nun: Republik vs KerajaanUpeti Modern dan Ketidakadilan SistemikDemokrasi dan Kedaulatan yang TerbagiSolusi Keadilan dan Pemberdayaan Daerah

Modernitas sejati diukur dari sejauh mana rakyat merasakan keadilan.Bangsa menjadi modern ketika sistem adil. Bangsa menjadi modern ketika kekayaan alam dikelola untuk kemakmuran rakyat. Bangsa menjadi modern ketika kekuasaan melayani masyarakat.

Kritik Cak Nun: Republik vs Kerajaan

Cak Nun menyatakan, “Ini republik melebihi kerajaan yang kejam.” Daerah penghasil tambang hanya menerima 3% hasil.Sisa 97% mengalir ke pengusaha dan pemerintah pusat. Kritik ini memaksa publik menilai hubungan negara dan rakyat. Kenapa daerah penghasil minyak, gas, batu bara, atau emas masih miskin?Pertanyaan ini bukan sekadar teknis anggaran. Tetapi menyentuh inti kedaulatan dan kekuasaan.

Secara logika, masyarakat sekitar tambang seharusnya menerima manfaat terbesar.Mereka menghadapi dampak sosial dan lingkungan setiap hari. Jalan, pendidikan, dan fasilitas kesehatan seharusnya lebih baik. Kenyataannya berbeda kekayaan alam keluar dari daerah. Manfaat yang kembali sering sangat kecil. Daerah penghasil hanya menjadi lokasi eksploitasi. Masyarakat menjadi penonton di tanah sendiri.

Upeti Modern dan Ketidakadilan Sistemik

Sejarah mengenal sistem upeti. Daerah taklukan menyerahkan hasil bumi kepada pusat.Pusat memberikan perlindungan dan keamanan. Hubungan bersifat vertikal.Daerah menjadi penyedia sumber daya, pusat menjadi penerima utama. Kritik Cak Nun menegaskan praktik modern melampaui logika kerajaan. Mekanisme pengambilan diatur sebelum sumber daya dihasilkan.Tampak modern, tetapi ketimpangan tetap ada.

Demokrasi dan Kedaulatan yang Terbagi

Indonesia menegaskan kedaulatan berada di tangan rakyat.Konstitusi menyatakan kekayaan alam untuk kemakmuran rakyat. Praktiknya, rakyat di daerah penghasil menerima manfaat paling kecil. Negara kesatuan membutuhkan distribusi pembangunan.Tetapi ketimpangan yang terlalu besar menciptakan ketidakadilan. Distribusi tidak lagi gotong royong, melainkan pengambilan tidak seimbang. Kehilangan kepercayaan publik muncul ketika rakyat merasa tertinggal.

You Might Also Like

Mengungkap Hebatnya Bangsa Indonesia yang Sering Terlupakan
Ketika Kebijakan Negara Menjauh dari Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Penyidik KPK Terus Buru Aparatur Pajak, Krisis Moral Sektor Pajak Makin Mencekam!
Pemda Terdepan Pastikan Informasi Publik Bermanfaat bagi Kesejahteraan Rakyat

Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan, menegaskan tugas negara tiga.Melindungi rakyat.Melayani rakyat. Mengatur rakyat demi ketertiban dan kesejahteraan. Tugas ini harus dijalankan seimbang. Tidak boleh bergeser menjadi kepentingan kelompok tertentu. Rinto menekankan rakyat harus menjadi tujuan utama pembangunan. Kekayaan alam harus menghadirkan kesejahteraan nyata, bukan sekadar pendapatan negara. Rakyat adalah pemilik sah kedaulatan. Negara yang kuat menghadirkan keadilan bagi rakyat.

Solusi Keadilan dan Pemberdayaan Daerah

Distribusi sumber daya harus dievaluasi. Daerah penghasil harus memperoleh porsi lebih adil.Transparansi pengelolaan pendapatan harus diperkuat. Masyarakat perlu memahami aliran manfaat dari kekayaan daerahnya. Pengawasan publik harus diperluas.Pemerintah daerah harus dilibatkan dalam pengambilan keputusan strategis. Pembangunan harus berorientasi kebutuhan masyarakat setempat. Pendidikan menjadi prioritas utama. Pelayanan kesehatan diperkuat.Infrastruktur dasar ditingkatkan. Lapangan kerja diciptakan melalui pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab. Kekayaan alam menghasilkan kesejahteraan nyata, bukan sekadar pendapatan negara.

Kemajuan bangsa bukan hanya soal gedung tinggi dan teknologi canggih.Kemajuan sejati diukur dari keadilan yang dirasakan rakyat. Republik kehilangan makna jika rakyat terpinggirkan. Demokrasi kehilangan kepercayaan jika manfaat pembangunan tidak dirasakan bersama. Evaluasi tata kelola sumber daya menjadi kebutuhan mendesak.Indonesia akan maju ketika rakyat menjadi penerima manfaat utama. Keberhasilan negara diukur dari kemakmuran yang dikembalikan kepada rakyat, pemilik sah negeri ini.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Paradoks Kemerdekaan Indonesia: Negara Kaya, Daerah Merana
Next Article Indonesia: Negara Modern dengan Cara Berpikir Feodal: Rakyat Terpinggirkan oleh Pusat

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

“Pengalihan Pengadilan Pajak ke Mahkamah Agung dalam sistem peradilan Indonesia”
Berita Terkini

Catatan Adaptasi Pengadilan Pajak Menyongsong Pengalihan ke Mahkamah Agung

December 19, 2025
Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025

You May also Like

Pemerintah

Kemendagri dan BP Tapera Bantu PNS Beli Rumah, Partai X: Rakyat Dapat Apa Selain Spanduk Janji?

August 12, 2025
Tata dunia baru
Pemerintah

Tantangan Besar dalam Tata Dunia Baru

July 9, 2026
Pemerintah

Ketika Pejabat Mengontrol Negara: Demokrasi Tanpa Integritas yang Menjadi Alat Kepentingan

February 13, 2026
Pemerintah

Sistem Pemerintahan Dikuasai Penguasa: Pemerintahan Tak Lagi Berdasarkan Kepentingan Rakyat

February 24, 2026
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.