beritax.id – Ada satu premis dasar dalam Stoikisme yang sering aku dengar: ‘We suffer more often in imagination than in reality.’ Kita lebih sering menderita dalam imajinasi daripada dalam kenyataan. Tapi, kalimat Seneca itu rasanya menjadi tidak relevan. Bahkan terdengar seperti lelucon jika diterapkan di Indonesia hari ini. Kenapa? Karena di sini, realitasnya jauh lebih mengerikan dibandingkan imajinasi terliar kalian sekalipun.
Bangsa Indonesia Bukanlah Bangsa yang Tangguh
Coba kita lihat dari perspektif yang lebih luas. Kita sering melabeli diri sendiri sebagai bangsa yang tangguh, masyarakat yang ‘santai’. Padahal, jika kita bedah menggunakan logika, itu bukanlah ketahanan mental. Melainkan survival mode. Kita berada dalam mode bertahan hidup karena kita beranggapan tidak punya pilihan lain. Kemudia kita hidup dalam sebuah ekosistem yang seolah didesain untuk membuat warganya tertekan secara sistemik.
Kita dituntut terus produktif, inovatif, dan mampu bersaing di level global. Tapi dukungan dari negara? Hampir tidak ada. Birokrasinya berantakan, aturannya saling tumpang tindih, sementara para pengambil kebijakan tidak pernah memikirkan kondisi rakyatnya.
Rakyat Terlalu Miskin di Negara Kaya
Ini bukan lagi soal ideologi kiri atau kanan. Ini soal struktur ketatanegaraan yang memang tidak bekerja.
“Banyak motivator bilang, ‘Kalau mau sukses, kalian harus kerja keras, harus investasi leher ke atas.’ Itu benar. Tapi ada satu variabel besar yang sering dilupakan yaitu tata kelola pemerintahannya.
Kondisi tata kelola yang semrawut ini menciptakan efek domino. Rakyat seperti kita adalah yang paling menderita.
Dampaknya ke kalian apa? Biaya hidup jadi mahal, tapi pendapatan segitu-gitu saja. Kalian bayar pajak, tapi fasilitas publik yang kalian dapatkan nol besar. Kalian mau buka usaha, dipersulit izinnya. Gaji naik, tapi harga kebutuhan ikut naik.
Padahal Indonesia sering disebut negara kaya, tapi kekayaan itu entah hilang di mana sebelum sampai ke rakyatnya. Kita punya nikel yang diekspor ke seluruh dunia, tapi harga HP yang notabenenya adalah produk nikel justru tetap mahal bagi warga sendiri. Kita punya hutan luas dan tanah subur, tapi pangan tetap impor. Dan kita punya cadangan energi besar, tapi rakyat masih harus membayar listrik dengan tarif yang tidak masuk akal.
Dan lucunya, semampu-mampunya rakyat membayar tarif, pajak, dan berbagai pungutan, pemerintah justru jauh lebih tidak mampu menghasilkan keuntungan lewat BUMN.
Ini bukti bahwa kekayaan negara tidak pernah dikelola untuk kesejahteraan masyarakat.
Romantisasi Penderitaan sebagai Nasionalisme
Ada satu hal yang membuat rakyat Indonesia terus bertahan tanpa benar-benar hidup: kebiasaan meromantisasi penderitaan. “NKRI Harga Mati” sering dijadikan simbol nasionalisme. Tapi saat layanan publik buruk, birokrasi berantakan, suara rakyat justru dianggap ancaman, bukan peringatan.
Semua ini dibungkus dengan budaya “nrimo”, yang membuat kita menerima keadaan meski jelas merugikan. Kita diajari percaya bahwa makin sengsara hidupmu, makin nasionalis dirimu. Makin kuat menahan lapar, makin kamu dianggap “tangguh”.
Padahal, kalau dipikir sederhana, apa hebatnya negara yang memuja slogan Harga Mati tapi justru membiarkan warganya terus menderita?
Susahnya Jadi Rakyat Indonesia
Menjadi rakyat di negara ini rasanya seperti sedang bermain game dengan tingkat kesulitan tertinggi tanpa bantuan apapun.
Kita dipaksa untuk menormalisasi ketidakbecusan. Jalan rusak dimaklumi. Korupsi triliunan dianggap berita harian. Bantuan sosial yang disunat dianggap ‘lumrah’. Sikap permisif ini muncul bukan karena kita bodoh, tapi karena semua kejahatan sudah dianggap wajar!.
Dan ketika sebuah pemerintahan gagal memberikan rasa aman dan kepastian, hidup di negara sendiri seperti di neraka.
Pertanyaannya sekarang, sampai kapan kita mau diam dan mewajarkan kondisi semrawut ini?



