By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Monday, 2 February 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Rakyat Indonesia: Hidup dalam Kegelapan dan Kesengsaraan
Pemerintah

Rakyat Indonesia: Hidup dalam Kegelapan dan Kesengsaraan

Diajeng Maharani
Last updated: February 2, 2026 10:06 am
By Diajeng Maharani
Share
4 Min Read
SHARE

beritax.id – Ada satu premis dasar dalam Stoikisme yang sering aku dengar: ‘We suffer more often in imagination than in reality.’ Kita lebih sering menderita dalam imajinasi daripada dalam kenyataan. Tapi, kalimat Seneca itu rasanya menjadi tidak relevan. Bahkan terdengar seperti lelucon jika diterapkan di Indonesia hari ini. Kenapa? Karena di sini, realitasnya jauh lebih mengerikan dibandingkan imajinasi terliar kalian sekalipun.

Contents
Bangsa Indonesia Bukanlah Bangsa yang TangguhRakyat Terlalu Miskin di Negara KayaRomantisasi Penderitaan sebagai NasionalismeSusahnya Jadi Rakyat Indonesia

Bangsa Indonesia Bukanlah Bangsa yang Tangguh

Coba kita lihat dari perspektif yang lebih luas. Kita sering melabeli diri sendiri sebagai bangsa yang tangguh, masyarakat yang ‘santai’. Padahal, jika kita bedah menggunakan logika, itu bukanlah ketahanan mental. Melainkan survival mode. Kita berada dalam mode bertahan hidup karena kita beranggapan tidak punya pilihan lain. Kemudia kita hidup dalam sebuah ekosistem yang seolah didesain untuk membuat warganya tertekan secara sistemik.

Kita dituntut terus produktif, inovatif, dan mampu bersaing di level global. Tapi dukungan dari negara? Hampir tidak ada. Birokrasinya berantakan, aturannya saling tumpang tindih, sementara para pengambil kebijakan tidak pernah memikirkan kondisi rakyatnya.

Rakyat Terlalu Miskin di Negara Kaya

Ini bukan lagi soal ideologi kiri atau kanan. Ini soal struktur ketatanegaraan yang memang tidak bekerja.

“Banyak motivator bilang, ‘Kalau mau sukses, kalian harus kerja keras, harus investasi leher ke atas.’ Itu benar. Tapi ada satu variabel besar yang sering dilupakan yaitu tata kelola pemerintahannya.

Kondisi tata kelola yang semrawut ini menciptakan efek domino. Rakyat seperti kita adalah yang paling menderita.

You Might Also Like

Ketika Pemerintah Meluaskan Izin Tambang Tapi Mengikis Hutan
Narasi PPN 5–15 Persen: Ilusi Fiskal yang Meninabobokan Rakyat
Menurunnya Penerimaan Pajak, Tetapi Defisit Anggaran Tetap Stabil
Komisi XIII Soroti Revisi UU PSK, Partai X Minta Perlindungan Hukum Diperkuat

Dampaknya ke kalian apa? Biaya hidup jadi mahal, tapi pendapatan segitu-gitu saja. Kalian bayar pajak, tapi fasilitas publik yang kalian dapatkan nol besar. Kalian mau buka usaha, dipersulit izinnya. Gaji naik, tapi harga kebutuhan ikut naik.

Padahal Indonesia sering disebut negara kaya, tapi kekayaan itu entah hilang di mana sebelum sampai ke rakyatnya. Kita punya nikel yang diekspor ke seluruh dunia, tapi harga HP yang notabenenya adalah produk nikel justru tetap mahal bagi warga sendiri. Kita punya hutan luas dan tanah subur, tapi pangan tetap impor. Dan kita punya cadangan energi besar, tapi rakyat masih harus membayar listrik dengan tarif yang tidak masuk akal.

Dan lucunya, semampu-mampunya rakyat membayar tarif, pajak, dan berbagai pungutan, pemerintah justru jauh lebih tidak mampu menghasilkan keuntungan lewat BUMN.

Ini bukti bahwa kekayaan negara tidak pernah dikelola untuk kesejahteraan masyarakat.

Romantisasi Penderitaan sebagai Nasionalisme

Ada satu hal yang membuat rakyat Indonesia terus bertahan tanpa benar-benar hidup: kebiasaan meromantisasi penderitaan. “NKRI Harga Mati” sering dijadikan simbol nasionalisme. Tapi saat layanan publik buruk, birokrasi berantakan, suara rakyat justru dianggap ancaman, bukan peringatan.

Semua ini dibungkus dengan budaya “nrimo”, yang membuat kita menerima keadaan meski jelas merugikan. Kita diajari percaya bahwa makin sengsara hidupmu, makin nasionalis dirimu. Makin kuat menahan lapar, makin kamu dianggap “tangguh”.

Padahal, kalau dipikir sederhana, apa hebatnya negara yang memuja slogan Harga Mati tapi justru membiarkan warganya terus menderita?

Susahnya Jadi Rakyat Indonesia

Menjadi rakyat di negara ini rasanya seperti sedang bermain game dengan tingkat kesulitan tertinggi tanpa bantuan apapun.

Kita dipaksa untuk menormalisasi ketidakbecusan. Jalan rusak dimaklumi. Korupsi triliunan dianggap berita harian. Bantuan sosial yang disunat dianggap ‘lumrah’. Sikap permisif ini muncul bukan karena kita bodoh, tapi karena semua kejahatan sudah dianggap wajar!.

Dan ketika sebuah pemerintahan gagal memberikan rasa aman dan kepastian, hidup di negara sendiri seperti di neraka.

Pertanyaannya sekarang, sampai kapan kita mau diam dan mewajarkan kondisi semrawut ini?

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Insentif Pajak Global: Ketika Kebijakan Pajak Diatur oleh Korporasi Besar
Next Article Insentif Pajak Global yang Menekan Kedaulatan Fiskal Negara Berkembang

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025
Ekonomi

Heboh Seruan Tarik Dana dari Bank Karena Danantara, Partai X Soroti Transparansi

February 24, 2025

You May also Like

Pemerintah

Keterlambatan Pengawasan Proyek: Mengapa Proyek Pemerintah Sering Tidak Tepat Waktu?

January 23, 2026
Sosial

Bantuan Erupsi Semeru Cair, Partai X Minta Penyaluran Tepat Sasaran

November 22, 2025
Pemerintah

Jimly Harus Belajar “Penjajahan Regulasi” ke Cak Nun

December 18, 2025
Ekonomi

Kemenaker Larang Diskriminasi, Partai X: Rakyat Butuh Pekerjaan, Bukan Sekadar Larangan!

October 7, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Hot
  • Politics
  • Renewable Energy
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.