By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Sunday, 8 February 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Penjajahan Modern: Dari Elite Global ke Pajak yang Mencekik Rakyat
Pemerintah

Penjajahan Modern: Dari Elite Global ke Pajak yang Mencekik Rakyat

Diajeng Maharani
Last updated: January 20, 2026 12:01 pm
By Diajeng Maharani
Share
5 Min Read
SHARE

Oleh: Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP
Ketua Umum IWPI, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan X Institute

beritax.id – Indonesia hari ini tidak lagi dijajah dengan senjata, kapal perang, atau bendera asing. Namun jangan terburu-buru merasa benar-benar merdeka. Penjajahan modern bekerja dengan cara yang jauh lebih halus: melalui regulasi, standar global, dan sistem ekonomi pasar bebas. Salah satu instrumen paling nyata dari penjajahan bentuk baru ini adalah sistem perpajakan.

Contents
Pajak: Dari Alat Keadilan Menjadi Alat KepatuhanDari Mana Desain Pajak Ini Datang?Big 4 dan Pajak yang Tak Pernah Ramah RakyatCak Nun dan Penjajahan Cara BerpikirPenutup: Mengembalikan Pajak ke Rakyat

Pajak yang seharusnya menjadi alat gotong royong dan keadilan sosial, perlahan berubah menjadi alat kepatuhan administratif yang menekan rakyat kecil, sementara modal besar justru semakin lincah menghindarinya secara legal.

Pajak: Dari Alat Keadilan Menjadi Alat Kepatuhan

Dalam negara merdeka, pajak adalah perjanjian moral antara rakyat dan negara. Rakyat menyerahkan sebagian penghasilannya, negara berkewajiban melindungi, menyejahterakan, dan menegakkan keadilan. Namun realitas hari ini menunjukkan arah sebaliknya.

  • Rakyat menghadapi:
  • Administrasi pajak yang makin rumit
  • Ancaman sanksi yang cepat dan keras
  • Beban pembuktian yang berat
  • Aparat yang lebih kuat secara kewenangan daripada empati

Pajak tidak lagi dirasakan sebagai kewajiban bersama, melainkan sebagai beban yang menakutkan. Ketika pajak dibenci oleh rakyatnya sendiri, itu bukan sekadar masalah kepatuhan, melainkan krisis legitimasi negara.

Dari Mana Desain Pajak Ini Datang?

Banyak kebijakan pajak Indonesia hari ini tidak lahir dari refleksi mendalam atas kondisi rakyat sendiri, melainkan dari upaya penyesuaian terhadap standar global. Organisasi seperti OECD menetapkan norma perpajakan internasional—mulai dari transfer pricing, Base Erosion and Profit Shifting (BEPS), hingga pajak minimum global.

Indonesia, sebagai key partner dan kandidat anggota OECD, berada dalam posisi pengadopsi awal, bukan perancang utama. Bahasa kebijakan pajak pun dipenuhi istilah teknokratis yang asing bagi rakyat: compliance, benchmarking, risk-based audit, documentation requirement. Semua terdengar rapi dan modern, tetapi jauh dari rasa keadilan sosial.

You Might Also Like

Kontrak Ditinggal Jalan, Outsourcing Masih Merajalela, Partai X Tanya Janji Mega ke Mana?
Keadilan Sosial Tidak Akan Terwujud Selama Ekonomi Hanya Menguntungkan Pejabat
Pancasila Hidup: Bukan Slogan, Tapi Instruksi Kerja Negara
Pertumbuhan Ekonomi Tidak Boleh Mengabaikan Keadilan Sosial

Di sinilah penjajahan regulasi bekerja: aturan tidak lagi ditulis dari pengalaman hidup rakyat, tetapi dari meja-meja global yang jauh dari realitas lokal.

Big 4 dan Pajak yang Tak Pernah Ramah Rakyat

Firma konsultan global—Deloitte, PwC, KPMG, dan EY—memainkan peran sentral sebagai arsitek teknis sistem pajak modern. Mereka membantu menyusun regulasi, melatih aparat, dan mendesain sistem kepatuhan.

  • Masalahnya, sistem yang mereka rancang:
  • Mudah dipahami oleh korporasi besar
  • Mahal dan rumit bagi UMKM
  • Legal, tetapi sering tidak adil

Korporasi besar memiliki sumber daya untuk patuh secara strategis. Rakyat kecil hanya punya dua pilihan: patuh sambil tertekan, atau salah langkah dan dihukum.

Elite Nasional: Operator Sistem Global

Masalah utama bukan OECD atau pasar bebas. Masalahnya ada pada elite nasional yang lebih memilih menjadi operator sistem global daripada negarawan rakyat. Atas nama “standar internasional” dan “kepercayaan investor”, kebijakan pajak ditegakkan ke bawah dengan keras, tetapi sering lunak ke atas.

Elite nasional kerap berkata, “ini tuntutan global, mau tidak mau harus ikut.” Kalimat ini seolah netral, padahal ia mematikan diskusi tentang keadilan. Rakyat diposisikan sebagai objek kepatuhan, bukan subjek perumusan kebijakan.

Dalam kondisi seperti ini, elite nasional tidak perlu menjadi pengkhianat. Cukup kehilangan orientasi. Dan ketika orientasi hilang, kedaulatan pun perlahan menguap.

Cak Nun dan Penjajahan Cara Berpikir

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) sejak lama mengingatkan bahwa penjajahan paling berbahaya bukanlah penjajahan fisik, melainkan penjajahan cara berpikir. Ketika suatu bangsa menganggap cara berpikir orang lain sebagai satu-satunya kebenaran, saat itulah kemerdekaan sejatinya runtuh.

Pajak hari ini sering “benar” menurut sistem global, tetapi “salah” menurut rasa keadilan rakyat. Inilah paradoks negara modern: rapi secara prosedural, timpang secara substansial.

Pajak yang Mencekik, Negara yang Kehilangan Jiwa

Jika dibiarkan, sistem pajak yang represif akan melahirkan:

  • Kepatuhan semu
  • Ketakutan, bukan kesadaran
  • Apatisme politik
  • Hilangnya kepercayaan pada negara

Negara mungkin kuat secara hukum, tetapi lemah secara moral. Dan negara yang kehilangan legitimasi moralnya sedang berjalan menuju krisis yang lebih dalam.

Penutup: Mengembalikan Pajak ke Rakyat

Ini bukan seruan anti-globalisasi. Ini adalah seruan kedaulatan berpikir. Indonesia boleh dan perlu berinteraksi dengan dunia, tetapi tidak dengan mengorbankan keadilan rakyatnya sendiri.

Pajak harus dikembalikan ke hakikatnya:

  • alat keadilan sosial
  • alat distribusi kesejahteraan
  • cermin hubungan etis negara dan rakyat

Jika pajak terus digunakan sebagai alat kontrol, bukan alat keadilan, maka benar apa yang dikatakan Cak Nun: penjajahan tidak perlu datang dari luar, karena kita telah membiarkannya tumbuh dari dalam.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Menhan Lantik Noe Letto, Pemberian Jabatan Harus Berdasarkan Kompetensi!
Next Article Indonesia Bisa Maju, Asal Sistemnya Tidak Melawan Rakyat

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025
Ekonomi

Heboh Seruan Tarik Dana dari Bank Karena Danantara, Partai X Soroti Transparansi

February 24, 2025

You May also Like

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan distribusi pupuk bersubsidi tidak boleh dipersulit agar petani memperoleh akses
Ekonomi

Bukan Sekadar Wacana! Partai X Desak Pemerintah Bongkar Mafia Pupuk, Petani Harus Jadi Prioritas!

July 24, 2025
Pemerintah

Biaya Pemerintahan Tinggi dan Pengaruhnya terhadap Kualitas Layanan Publik

January 26, 2026
Pemerintah

KPK Kaji Rangkap Jabatan, Partai X: Pejabat Rangkap Kursi, Rakyat Rangkap Derita!

September 19, 2025
Internasional

Prabowo dan Anwar Akrab di ASEAN, Partai X: Diplomasi Jangan Hangat di Panggung, Dingin di Kebijakan!

May 27, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Hot
  • Politics
  • Renewable Energy
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.