beritax.id – Regulasi pajak global memiliki dampak besar terhadap proyek pembangunan Indonesia. Negara kita terpaksa mengikuti kebijakan perpajakan internasional yang sering kali lebih menguntungkan negara maju. Melalui regulasi yang ditetapkan oleh organisasi seperti OECD, Indonesia kehilangan sebagian besar kendali atas kebijakan fiskalnya. Akibatnya, proyek pembangunan nasional, yang seharusnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sering kali terbengkalai atau terhambat karena ketidakadilan dalam pengelolaan pajak.
Regulasi Pajak Global dan Pembebanan pada Proyek Pembangunan
Salah satu dampak utama dari regulasi pajak global adalah pembebanan biaya pada proyek pembangunan di Indonesia. Insentif pajak yang diberikan kepada perusahaan multinasional, seperti tax holiday dan pengurangan pajak penghasilan badan, tidak selalu memberikan manfaat yang jelas bagi rakyat. Misalnya, kebijakan tax holiday bertujuan menarik investasi asing. Namun perusahaan besar yang mendapat insentif pajak sering kali tidak memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan sosial di Indonesia. Sementara itu, pemerintah harus menanggung kekurangan anggaran yang dapat digunakan untuk sektor-sektor vital seperti pendidikan dan kesehatan.
Ketergantungan pada Kebijakan Pajak Internasional
Ketergantungan Indonesia pada regulasi pajak internasional semakin memperburuk situasi ini. Negara kita sering kali dipaksa untuk mengadopsi kebijakan yang ditetapkan oleh negara-negara maju, meskipun kebijakan tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan nasional. Misalnya, penerapan pajak minimum global yang disetujui dalam kerangka BEPS (Base Erosion and Profit Shifting) mengharuskan Indonesia mengenakan pajak yang lebih rendah pada investor asing. Sementara rakyat Indonesia justru dibebani dengan pajak konsumsi yang lebih tinggi.
Dampak terhadap Pembiayaan Pembangunan
Pajak yang diambil dari rakyat, seperti PPN, semakin meningkat untuk menutupi kekurangan penerimaan pajak dari perusahaan besar. Hal ini membebani masyarakat yang semakin kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar. Sebaliknya, korporasi besar yang mendapat insentif pajak menikmati keuntungan tanpa memberikan kontribusi yang proporsional terhadap pembangunan negara. Proyek pembangunan yang seharusnya dapat meningkatkan kualitas hidup rakyat sering kali terkendala oleh kebijakan fiskal yang lebih berpihak pada korporasi asing.
Solusi untuk Memperkuat Kemandirian Fiskal Indonesia
Untuk mengurangi dampak negatif dari regulasi pajak global, Indonesia perlu memperkuat kedaulatan fiskalnya. Pemerintah harus mengevaluasi kembali insentif pajak yang diberikan kepada perusahaan asing dan memastikan bahwa kebijakan ini benar-benar memberikan manfaat bagi rakyat Indonesia. Indonesia juga perlu merancang kebijakan pajak yang lebih adil, yang mengutamakan kontribusi sektor-sektor kaya. Serta lebih mengandalkan pajak penghasilan dan kekayaan daripada pajak konsumsi. Selain itu, Indonesia harus meningkatkan transparansi dan pengawasan dalam pengelolaan anggaran negara. Agar anggaran yang terkumpul dapat digunakan seefisien mungkin untuk proyek pembangunan.
Regulasi pajak global memberikan dampak signifikan terhadap proyek pembangunan Indonesia. Kebijakan fiskal yang didikte oleh negara maju harus dihentikan. Indonesia perlu kembali mengendalikan kebijakan fiskalnya dan merumuskan kebijakan pajak yang lebih berpihak pada rakyat. Dengan reformasi pajak yang lebih adil dan berkelanjutan, Indonesia dapat mempercepat pembangunan nasional dan memastikan bahwa setiap proyek pembangunan memberikan manfaat maksimal bagi kesejahteraan rakyat.



