By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Friday, 5 June 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Mirip Ikan Sapu-Sapu, Empat Pilar Penjaga Kedaulatan Jadi Predator di Ekosistem Negara yang Rusak
Pemerintah

Mirip Ikan Sapu-Sapu, Empat Pilar Penjaga Kedaulatan Jadi Predator di Ekosistem Negara yang Rusak

Diajeng Maharini
Last updated: April 21, 2026 11:36 am
By Diajeng Maharini
Share
4 Min Read
SHARE

beritax.id – Fenomena ikan sapu-sapu kembali menyita perhatian publik setelah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membentuk tim khusus untuk memburunya. Dalam sejumlah operasi di aliran sungai, puluhan ribu ekor berhasil ditangkap. Jumlahnya yang masif menunjukkan satu hal yang tidak bisa diabaikan, yaitu spesies yang dulu dianggap “pembersih” telah berubah menjadi ancaman bagi keseimbangan ekosistem.

Ikan sapu-sapu dikenal mampu hidup di air yang kotor, berkembang biak dengan cepat, dan hampir tidak memiliki predator alami. Dalam kondisi lingkungan yang rusak, spesies ini tidak hanya bertahan, tetapi juga mendominasi. Dampaknya, ikan lokal tersisih, sumber daya berkurang, dan keseimbangan ekosistem terganggu.

Fenomena ini sama halnya dengan kondisi ketatanegaraan Indonesia saat ini.

Empat pilar yang selama ini disebut sebagai penjaga kedaulatan rakyat, yakni kaum intelektual, budayawan atau tokoh adat, rohaniawan, serta TNI dan Polri, dalam situasi sekarang justru menunjukkan gejala yang serupa dengan ikan sapu-sapu. Dalam sistem yang tidak sehat, keempatnya malah berkembang menjadi kekuatan yang dominan, sulit dikritik, dan cenderung menguasai ruang publik.

Kaum intelektual, misalnya, memiliki peran strategis dalam membentuk opini. Namun dalam praktiknya, sebagian justru lebih sering memproduksi pembenaran daripada kritik. Budayawan dan tokoh adat yang seharusnya menjaga nilai kultural dapat terseret dalam kepentingan kekuasaan. Rohaniawan, dengan pengaruh moralnya, berpotensi meredam kritik atas nama stabilitas. Sementara itu, TNI dan Polri menghadapi tantangan menjaga netralitas di tengah tarik-menarik kepentingan politik.

Dalam konteks ini, keempat pilar tidak lagi hanya berfungsi sebagai penjaga keseimbangan, tetapi berpotensi menjadi kekuatan yang mendominasi. Seperti ikan sapu-sapu di ekosistem yang rusak, pertumbuhan menjadi cepat, posisi menjadi kuat, dan ruang bagi pihak lain semakin sempit.

Pihak yang paling terdampak dalam kondisi tersebut adalah rakyat. Ruang partisipasi menyempit, kritik mudah disalahartikan, dan kepentingan publik berisiko tersingkir. Rakyat yang seharusnya menjadi pemilik kedaulatan justru berada di posisi yang lemah dalam praktik ketatanegaraan. Rakyat ibarat ikan yang sedang dimakan oleh ikan sapu-sapu.

You Might Also Like

Baleg: RUU PPRT Harus Lindungi, Partai X: Lindungi Rakyat, Bukan Pejabat!
Analisis “Politik” Indonesia Harus Berpijak pada Keadilan dan Efisiensi Kekuasaan
Putusan MK Soal Sekolah Gratis, Menko PMK Siapkan Strategi: Partai X Ingatkan, Pendidikan Gratis Bukan Strategi, Tapi Hak!
Presiden Jangan Baper: Karena Negara Bukan Tempat untuk Bermain Kekuasaan

Kondisi ini tidak terlepas dari persoalan struktural. Setelah amandemen keempat UUD NRI 1945, tidak ada lagi lembaga tertinggi negara yang secara tegas merepresentasikan kedaulatan rakyat. MPR tidak lagi berada di posisi puncak, melainkan sejajar dengan lembaga negara lainnya. Di sisi lain, Presiden menjalankan dua fungsi sekaligus sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.

Pengaturan tersebut menimbulkan kaburnya batas antara negara dan pemerintah. Dalam praktiknya, kritik terhadap pemerintah kerap dipersepsikan sebagai kritik terhadap negara. Loyalitas terhadap negara berpotensi bergeser menjadi loyalitas terhadap kekuasaan. Situasi ini menciptakan ruang yang memungkinkan dominasi terjadi tanpa kontrol yang memadai.

Sejumlah kalangan menilai, pembenahan tidak cukup dilakukan pada level aktor. Perubahan perlu menyentuh struktur dasar ketatanegaraan. Wacana amandemen kelima UUD NRI 1945 kembali mengemuka sebagai salah satu opsi untuk memperjelas posisi kedaulatan rakyat dan menata ulang hubungan antar lembaga negara.

Pemisahan yang tegas antara negara dan pemerintah, termasuk kemungkinan pemisahan fungsi kepala negara dan kepala pemerintahan, dinilai dapat memperkuat mekanisme kontrol. Dengan struktur yang lebih jelas, kritik dapat ditempatkan sebagai bagian dari demokrasi, bukan sebagai ancaman terhadap negara.

Fenomena ikan sapu-sapu di Jakarta pada akhirnya menjadi pengingat. Ketika ekosistem dibiarkan rusak, yang muncul bukan keseimbangan, melainkan dominasi. Dalam konteks negara, peringatan tersebut mengarah pada satu hal yaitu tanpa pembenahan sistem yang mendasar, potensi ketimpangan akan terus berulang, dan rakyat berisiko semakin tersisih dari ruang kedaulatannya sendiri.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Saat Kepentingan Mendominasi, Etika Kepemimpinan Nusantara Ditinggalkan
Next Article Purbaya Tolak Bantuan IMF, Prioritaskan Kesejahteraan Rakyat Indonesia

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025
Ekonomi

Heboh Seruan Tarik Dana dari Bank Karena Danantara, Partai X Soroti Transparansi

February 24, 2025

You May also Like

Pemerintah

Pilkada Melalui DPRD, Hak Rakyat Ditinggal di Pinggir Jalan

December 23, 2025
Berita Terkini

Target 100 Mbps di 2029! Partai X: Jangan Sampai Infrastruktur Canggih, Layanan Malah Macet!

April 8, 2025
Pemerintah

Bamsoet Dilaporkan ke MKD, Partai X Desak Evaluasi Kinerja DPR

December 4, 2025
Kepala Otorita IKN Basuki menyebut prostitusi terjadi di luar area inti IKN, tepatnya di Kecamatan Sepaku. Satpol PP setempat mengonfirmasi
Sosial

PSK Ramai di Sekitar IKN, Partai X: Infrastruktur Dibangun, Moral dan Sosial Justru Diabaikan!

July 9, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.