beritax.id – Dalam situasi negara rapuh struktural, pertumbuhan ekonomi yang diklaim stabil tidak otomatis menghadirkan rasa aman bagi rakyat. Justru sebaliknya, kelas menengah Indonesia kini berada dalam posisi terdesak. Daya beli melemah, beban pajak meningkat, dan biaya hidup terus naik, sementara perlindungan negara terasa semakin tipis. Kondisi ini menegaskan bahwa persoalan ekonomi Indonesia bukan sekadar angka PDB, melainkan masalah struktural yang belum diselesaikan.
Paradoks Ekonomi: PDB Naik, Kehidupan Makin Sempit
Secara makro, pemerintah masih mengandalkan narasi pertumbuhan dan stabilitas. Namun di tingkat rumah tangga, kelas menengah menghadapi realitas berbeda: cicilan meningkat, tabungan tergerus, dan ketidakpastian kerja makin besar. Kebijakan fiskal yang bertumpu pada pajak konsumsi serta pengurangan subsidi justru mempersempit ruang hidup kelompok yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
Kelas Menengah Sebagai Penyangga yang Terabaikan
Kelas menengah bukan hanya konsumen, tetapi juga pembayar pajak utama dan penggerak ekonomi domestik. Ketika mereka terdesak, dampaknya berantai: konsumsi menurun, sektor UMKM melemah, dan basis penerimaan negara ikut tergerus. Dalam negara rapuh struktural, tekanan ini sering dialihkan ke rakyat. Hal ini karena negara gagal membenahi fondasi ekonomi dan tata kelola fiskal secara adil.
Tanggapan Rinto Setiyawan: Negara Jangan Salah Arah
Menanggapi kondisi tersebut, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan, mengingatkan bahwa negara tidak boleh kehilangan arah dalam menjalankan mandat konstitusionalnya.
“Tugas negara itu ada tiga: melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat. Jika kelas menengah justru terdesak oleh kebijakan negara sendiri. Maka ada yang keliru dalam cara negara mengatur dan melayani,” tegas Rinto.
Menurutnya, negara yang kuat bukan diukur dari angka statistik semata. Tetapi dari sejauh mana rakyat terutama kelas menengah merasakan kehadiran dan perlindungan negara dalam kehidupan sehari-hari.
Akar Masalah: Kebijakan Tambal Sulam dalam Struktur Rapuh
Rinto menilai, tekanan terhadap kelas menengah lahir dari kebijakan jangka pendek yang menutup defisit tanpa membenahi struktur. Ketergantungan pada pajak konsumsi, utang, dan pemangkasan belanja sosial menunjukkan negara belum berani melakukan reformasi mendasar pada sistem perpajakan, belanja negara, dan pengelolaan ekonomi nasional.
Solusi: Menguatkan Negara dengan Melindungi Kelas Menengah
Untuk keluar dari jebakan negara rapuh struktural, Partai X mendorong langkah-langkah berikut:
- Reorientasi Kebijakan Fiskal
Menghentikan ketergantungan pada pajak regresif dan mengalihkan beban ke sektor yang selama ini minim kontribusi namun menikmati privilese ekonomi. - Perlindungan Nyata bagi Kelas Menengah
Memperkuat jaminan sosial, pendidikan, kesehatan, dan transportasi publik agar biaya hidup tidak terus menekan rumah tangga produktif. - Penguatan Ekonomi Riil dan UMKM
Negara harus hadir melalui insentif produksi, bukan sekadar menarik pajak, agar lapangan kerja berkualitas kembali tercipta. - Pembenahan Tata Kelola Negara
Transparansi anggaran dan efisiensi belanja wajib dikedepankan agar rakyat tidak terus menjadi korban dari struktur negara yang rapuh.
Jika kelas menengah terus terdesak, maka rapuhlah fondasi ekonomi dan sosial bangsa. Negara harus kembali pada tugas utamanya: melindungi, melayani, dan mengatur rakyat secara adil. Tanpa perubahan arah kebijakan, negara rapuh struktural akan terus mempersempit ruang hidup rakyatnya sendiri.



