By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Wednesday, 11 February 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Indonesia: Antara Katanya dan Aslinya
Pemerintah

Indonesia: Antara Katanya dan Aslinya

Diajeng Maharani
Last updated: February 10, 2026 3:50 pm
By Diajeng Maharani
Share
5 Min Read
SHARE

beritax.id – Katanya negara Indonesia ini menjunjung tinggi keadilan. Katanya negara ini hadir buat menyejahterakan rakyat. Katanya suara rakyat itu suara Tuhan.

Contents
Menjunjung Tinggi Keadilan, KatanyaTidak Pandang Bulu dalam Memutuskan, KatanyaRakyat Adalah Pemegang Kekuasaan, KatanyaSolusi

Sering banget kan kita denger kalimat-kalimat manis kayak gitu? Enak banget didenger, berasa adem, berasa penuh harapan.

Tapi, ada sebuah jurang pemisah yang sangat lebar antara apa yang “Katanya” terjadi, dengan apa yang “Nyatanya” kita rasakan.

Mari kita bedah satu per satu.

Menjunjung Tinggi Keadilan, Katanya

Hukum itu nggak pandang bulu. Tapi jujur deh, nyatanya? Istilah ‘tajam ke bawah, tumpul ke atas’ itu beneran kejadian. Bahkan data dari World Justice Project aja bilang kalau hukum Indonesia lagi nggak baik-baik aja.

Masih inget sama kasusnya Nenek Asyani dari Situbondo yang pada tahun 2015 didakwa mencuri 7 batang kayu jati milik Perhutani, divonis bersalah dengan hukuman percobaan 1 tahun penjara. Sementara, penggundulan hutan di Sumatera yang berujung bencana sampai sekarang masih jadi tanda tanya.

You Might Also Like

Pendidikan Ala Barak Mau Diterapkan, Partai X: Jangan Tukar Disiplin dengan Militerisme Bisu!
Mahfud Masuk Tim Reformasi Polri, Partai X: Reformasi Nyata untuk Rakyat, Bukan Pejabat
Partai X Ragukan Janji Tiket Pesawat Lebaran Murah: Nyata atau Hanya Wacana?
Demokrasi Tanpa Keadilan: Ketimpangan dalam Sistem yang Seharusnya Menyatukan Semua Pihak

Terus dimana letak menjunjung tinggi keadilannya? Karena nyatanya tangisan dan rengekan akibat sewenang-wenang malah terjadi dimana-mana.

Tidak Pandang Bulu dalam Memutuskan, Katanya

Mas Daniel Tangkilisan. Dia itu aktivis yang mati-matian belain alam Karimunjawa dari tambak ilegal. Niatnya mulia banget, kan? Eh, balasannya malah kena UU ITE. Nyesek nggak tuh?

Bandingin sama koruptor. Pas 17-an kemarin, ribuan napi termasuk koruptor, malah dapat diskon hukuman alias remisi. Polanya kebaca banget, di mana rakyat kecil yang bener malah dikasusin, giliran yang punya kuasa dan duit ngerugiin negara malah dapet subsidi hukuman.

Terus soal korupsi, ini makin bikin geleng-geleng kepala. Pemerintah sering bilang bakal jujur, tapi skor korupsi kita stuck di situ-situ aja, kalah sama tetangga.

Yang paling bikin sakit hati tuh kasus korupsi Timah. Bayangin, kerugiannya sampai Rp 300 triliun! Dan gilanya, Rp 271 triliun itu kerusakan alam yang mungkin nggak bisa balik lagi. Alam kita hancur, duitnya dinikmati segelintir crazy rich. Kocaknya lagi, pas ahli lingkungan mau hitung kerugiannya, mereka malah dilaporin balik ke polisi.

Yah, nyatanya hanya pemilik kekayaan yang bisa bersenang-senang.

Bertindak Jujur Tanpa Bualan, Katanya

Nah, sekarang kita masuk ke poin yang sering bikin kita makan ati yaitu soal integritas.

Sering banget kan denger pemerintah ngomong ‘Kita bakal bertindak jujur’, ‘Kerja nyata tanpa banyak drama’, atau ‘Anti bualan’. Tapi coba deh buka mata lebar-lebar lihat realitanya. Nyatanya? Demi yang namanya ‘tahta’ atau ngamanin kursi kekuasaan, ribuan dusta itu rasanya udah jadi hal biasa.

Rakyat Adalah Pemegang Kekuasaan, Katanya

Terakhir, soal Oligarki. Katanya kedaulatan di tangan rakyat, tapi kok kebijakan strategis kayaknya cuma hasil deal-dealan penguasa sama pengusaha di ruang tertutup?

Inget kasus Rempang? Warga yang udah tinggal ratusan tahun dipaksa minggat pakai gas air mata demi investasi. Atau lihat PIK 2, itu kan proyek properti swasta mewah, kok tiba-tiba bisa jadi Proyek Strategis Nasional? Fasilitas negara dipakai buat proyek yang jelas-jelas bikin tembok pemisah antara si kaya dan si miskin.

Intinya gini, Teman-teman… Semua ini kayak tamparan buat kita. Kita tuh hidup di paradoks ‘Negara Katanya’. Narasi di berita bilang A, realita di lapangan bilang Z. Negara ‘katanya’ membangun, tapi nyatanya ninggalin bencana alam. Negara ‘katanya’ rakyat yang berkuasa, tapi nyatanya oligarki yang nyetir semuanya.

Solusi

Terus, kalau udah ruwet gini, solusinya apa dong?

Sebenernya kuncinya cuma satu: Balikin lagi kedaulatan ke tangan pemilik sahnya, yaitu Rakyat.

Masalah terbesar kita sekarang itu posisinya kebalik-balik. Pejabat yang harusnya melayani, malah bertingkah kayak Raja yang minta dilayani. Sementara kita rakyat yang harusnya jadi Tuan, malah sering diperlakukan kayak penumpang numpang lewat di negara sendiri.

Pemerintah dari yang paling atas sampai bawah harus sadar diri dan ‘tahu posisi’.

Logikanya simpel aja: Mereka itu ‘karyawan’ yang kita rekrut lewat pemilu dan kita gaji pakai uang pajak. Jadi, mindset-nya harus diubah total. Kalau rakyat teriak karena lapar atau diperlakukan nggak adil, itu bukan gangguan keamanan, tapi komplain dari ‘Bos’ yang harus segera diberesin.

Jadi solusinya? Pemerintah harus turun dari menara gadingnya dan mulai kerja beneran sebagai pelayan. Berhenti bikin kebijakan yang nyusahin ‘majikan’ sendiri. Karena tanpa rakyat, negara ini cuma tanah kosong tanpa kedaulatan.”

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Demokrasi Tanpa Negarawan: Pemerintahan yang Menjadi Mainan Penguasa, Bukan Milik Rakyat
Next Article Ketimpangan Demokrasi: Krisis Kedaulatan Rakyat yang Membentuk Struktur Negara Ini

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Pejabat Bea Cukai Terima Rp7 Miliar, Korupsi Harus Dibersihkan Tuntas!

February 10, 2026
Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025

You May also Like

Pemerintah

Pengendalian Narasi Nasional: Ketika Kebenaran Diatur Regulasi

December 17, 2025
Pemerintah

Empat Bupati Aceh Menyerah, Ada Pesan Terselubung?

December 9, 2025
Pemerintah

Pegawai Sebar Surat PPPK, Pelanggaran Harus Ditindak Tegas!

January 21, 2026
Pemerintah

Bunga Dana Rp200 T Standar Ganda, Partai X: Rakyat Terus Dikorbankan!

September 18, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Hot
  • Politics
  • Renewable Energy
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.