By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Wednesday, 13 May 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Ilusi Demokrasi: Dari Emas ke Batu
Pemerintah

Ilusi Demokrasi: Dari Emas ke Batu

Diajeng Maharani
Last updated: May 11, 2026 11:54 am
By Diajeng Maharani
Share
4 Min Read
SHARE

Oleh: Adv. Rinto Setiyawan, A.Md., S.H., CTP
Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan

beritax.id – Demokrasi sering diposisikan sebagai simbol tertinggi peradaban politik modern. Ia dipuji sebagai sistem yang memberi rakyat hak untuk memilih pemimpinnya sendiri. Di atas kertas, konsep ini tampak adil satu orang, satu suara. Semua warga negara dianggap memiliki nilai yang setara, tanpa memandang latar belakang sosial, pendidikan, kekayaan, atau kedudukan.

Sekilas, itu terdengar mulia.

Namun pertanyaan mendasarnya adalah apakah sesuatu yang tampak adil di permukaan selalu menghasilkan keadilan dalam kenyataan?

Analogi Sederhana: Emas dan Batu

Jika Anda memiliki emas satu kilogram, lalu seseorang menawarkan batu satu kilogram, apakah Anda bersedia menukarnya?

Tentu tidak. Nilai ditentukan oleh kualitas, manfaat, kelangkaan, dan integritas substansinya, bukan semata kuantitas.

Anehnya, dalam demokrasi liberal modern, logika sebaliknya sering diterapkan. Popularitas, citra, dan kemampuan membangun persepsi lebih menentukan daripada kapasitas dan kualitas nyata.

You Might Also Like

Jabatan Dibuat Panjang, Kritik Dibuat Pendek
PPATK Pastikan Dana Nasabah Utuh, Partai X: Kenapa Rakyat Baru Diberi Jaminan Setelah Kejadian?
Purbaya Tak Naikkan Cukai, Partai X: Rokok Elektrik Masih Menghimpit Rakyat!
MA Dapat Navigator Baru, Partai X: Jangan Cuma Ganti Sopir Kalau Peta Hukumnya Masih Ngawur!

Demokrasi yang Tampak Adil

Demokrasi liberal menjanjikan kesetaraan politik. Setiap orang memiliki hak memilih, tanpa aristokrasi atau hak istimewa.

Namun, kesetaraan hak memilih tidak otomatis menghasilkan kualitas hasil pilihan. Demokrasi berlangsung di tengah ketimpangan informasi, ekonomi, manipulasi opini, pencitraan, dan populisme emosional.

Rakyat memilih bukan di ruang steril, tetapi di tengah propaganda, algoritma media sosial, dan mesin. Hasilnya, demokrasi sering bukan tentang memilih yang terbaik, tetapi memilih yang paling mampu membangun persepsi.

Demokrasi liberal memberi kesan rakyat bebas memilih, tetapi kenyataannya rakyat hanya memilih dari kandidat yang berhasil lolos dalam sistem politik yang mahal, kompetitif, dan sering bergantung pada modal.

Seperti masuk ke toko perhiasan, tetapi semua yang tersedia hanyalah batu biasa yang dipoles menyerupai berlian. Rakyat diminta bangga karena “bebas memilih”, padahal pilihan itu dibatasi sejak awal oleh sistem.

Demokrasi dan Kualitas Kepemimpinan

Masalah utama demokrasi liberal bukan prinsip partisipasinya, tetapi ketidakmampuannya menjamin kualitas kepemimpinan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kualitas selalu didahulukan. Pilot, dokter, atau ahli bedah tidak dipilih berdasarkan popularitas. Namun untuk memimpin negara, sistem sering menyederhanakan semuanya menjadi kompetisi elektoral, sehingga yang menang bukan selalu yang paling layak, melainkan yang paling efektif memenangkan permainan.

Pendukung demokrasi liberal sering berkata: “Kedaulatan ada di tangan rakyat.”

Namun jika rakyat hanya memilih dari opsi yang dikonstruksi oleh sistem modal, partai, mesin propaganda, dan populisme, apakah itu benar-benar kedaulatan? Atau hanya simulasi kedaulatan?

Kedaulatan sejati berarti rakyat dapat memastikan pilihan yang tersedia lahir dari proses yang sehat, rasional, dan berorientasi pada kualitas. Tanpa itu, rakyat hanya diberi ilusi partisipasi.

Demokrasi Pancasila: Fokus pada Kualitas

Indonesia memiliki fondasi berbeda. Sila keempat Pancasila berbunyi:

“Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.”

Fokusnya bukan “siapa terbanyak menang”, melainkan hikmat kebijaksanaan, permusyawaratan, dan perwakilan.

Musyawarah memungkinkan rakyat tidak dipaksa memilih antara batu biasa yang dipoles. Demokrasi Pancasila menyaring kandidat terbaik sebelum sampai ke rakyat, berbeda dari demokrasi liberal yang membiarkan semua batu bercampur.

Negara Salah Desain

Jika negara diibaratkan bangunan, demokrasi liberal tanpa koreksi kontekstual seperti memasang desain rumah dari iklim Eropa di tropis Indonesia. Modern di atas kertas, tetapi bocor dalam praktik.

Masalah Indonesia bukan sekadar pada siapa presidennya atau partainya, tetapi desain sistem yang salah membaca karakter bangsa.

Ketika popularitas mengalahkan kualitas dan rakyat merasa berdaulat tetapi hanya memilih dari opsi yang dikondisikan, demokrasi sehat digantikan oleh ilusi demokrasi.

Jika Anda memiliki emas, apakah rela menukarnya dengan batu hanya karena sama berbobot satu kilogram?

Jika jawabannya tidak, mengapa dalam urusan memilih arah bangsa logika yang lebih buruk diterima? Demokrasi harus menjadi mekanisme lahirnya kualitas, bukan sekadar ritual angka.

Jika tidak, rakyat hanya diberi hak memilih tanpa benar-benar diberi pilihan yang layak. Yang bekerja bukan demokrasi, tetapi ilusi.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Hotman Paris Soroti Tuntutan Jaksa, Jangan Rugikan Uang Negara
Next Article RI Targetkan Stop Impor Solar, Harga BBM Tetap Terjangkau

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025
Ekonomi

Heboh Seruan Tarik Dana dari Bank Karena Danantara, Partai X Soroti Transparansi

February 24, 2025

You May also Like

Ekonomi

Sarasehan Ekonomi Bahas PHK dan Kemiskinan, Partai X: Diskusi Bagus, Tapi Solusi Jangan Cuma di Kertas!

April 16, 2025
Pemerintah

Ketika Penjajahan Modern Fiskal Menentukan Nasib Pajak Indonesia

January 27, 2026
Pemerintah

Subsidi Industri Plastik Dikaji, Prioritas Kesejahteraan Masyarakat

May 4, 2026
Anggota DPR RI ternyata mendapat tunjangan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 senilai Rp2,69 juta. Tunjangan ini membuat gaji
Seputar Pajak

Pajak Gaji DPR Ditanggung Negara? Partai X: Rakyat Bayar Pajak, DPR Malah Ditanggung!

August 26, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.