KUALA LUMPUR – Kemerosotan moral, praktik korupsi, serta melemahnya keberanian dalam menyuarakan kebenaran menjadi tantangan serius bagi kepemimpinan di berbagai negara, termasuk negara-negara mayoritas Muslim. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kecakapan intelektual dan kemampuan mengelola pemerintahan belum cukup untuk melahirkan pemimpin yang mampu menjalankan amanah secara bertanggung jawab. Menjawab tantangan tersebut, Wakil Direktur Sekolah Negarawan Indonesia, Adv. Rinto Setiyawan, S.H., M.H., bertolak ke Kuala Lumpur untuk merumuskan langkah strategis bersama Presiden MAPIM Malaysia, Cik Gu Azmi. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun fondasi kepemimpinan yang tidak hanya unggul dalam pengetahuan ketatanegaraan, tetapi juga memiliki integritas, etika, dan keberanian moral. Kedua pihak memandang bahwa pembentukan karakter harus menjadi bagian utama dalam proses pendidikan calon pemimpin masa depan.
Ethical Statesmanship sebagai Fondasi Kepemimpinan
Dalam pertemuan yang berlangsung penuh keakraban tersebut, Rinto Setiyawan dan Cik Gu Azmi sepakat bahwa pengetahuan ketatanegaraan harus berjalan seiring dengan integritas dan tanggung jawab moral. Kesepakatan ini kemudian dituangkan dalam salah satu pilar utama Nusantara Young Statesmen Programme (NYSP), yaitu Pilar II yang bertajuk Ethical Statesmanship & Civilisational Leadership. Pilar tersebut akan dikembangkan secara bersama oleh Sekolah Negarawan dan MAPIM Multiversity Malaysia. Kurikulum ini dirancang untuk membentuk generasi pemimpin yang mampu memahami tanggung jawab kekuasaan sekaligus menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Melalui pendekatan tersebut, kepemimpinan tidak hanya diukur berdasarkan kemampuan mengambil keputusan, tetapi juga berdasarkan kejujuran, keteladanan, dan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat luas.
Kurikulum kepemimpinan beretika ini disusun secara komprehensif melalui sebelas modul inti yang menjadi fondasi pembentukan karakter negarawan. Materi pembelajaran diawali dengan penanaman nilai Amanah sebagai prinsip utama dalam menjalankan tanggung jawab kepemimpinan. Nilai tersebut kemudian diperkuat melalui pembelajaran Adab yang menekankan pentingnya kesantunan, penghormatan, dan etika dalam setiap tindakan maupun pengambilan keputusan. Kedua nilai tersebut menjadi landasan agar calon pemimpin tidak menggunakan kewenangan untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Sekolah Negarawan dan MAPIM memandang bahwa pemimpin sejati adalah sosok yang mampu menjaga kepercayaan serta menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan dirinya sendiri.
Keberanian Moral dan Komitmen Antikorupsi
Salah satu pembahasan utama dalam pertemuan tersebut adalah pentingnya melahirkan pemimpin yang memiliki keberanian moral. Rinto Setiyawan dan Cik Gu Azmi menilai bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya memahami persoalan dan mengetahui tindakan yang benar. Pemimpin juga harus memiliki keberanian untuk memperjuangkan kebenaran meskipun menghadapi tekanan, risiko, maupun penolakan. Oleh karena itu, kurikulum NYSP secara khusus memasukkan modul Moral Courage atau Keberanian Moral. Modul ini dirancang untuk melatih peserta agar mampu mempertahankan prinsip kebenaran dalam berbagai situasi. Pembelajaran tersebut dipadukan dengan modul Anti-Corruption yang bertujuan membangun sikap tegas dalam menolak segala bentuk korupsi serta mendorong terciptanya tata kelola yang transparan dan berkeadilan.
Kepemimpinan Umat Berbasis Masjid dan Masyarakat
Selain membahas kepemimpinan dalam penyelenggaraan pemerintahan, kurikulum ini turut memberikan perhatian terhadap aspek pemberdayaan umat yang menjadi salah satu bidang perhatian MAPIM. Melalui modul Mosque & Ummah Leadership, para peserta akan mempelajari peran strategis masjid dalam membangun karakter, memperkuat ukhuwah Islamiyah, dan mengembangkan kepemimpinan masyarakat dari tingkat akar rumput. Masjid tidak hanya dipahami sebagai tempat pelaksanaan ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, pembinaan moral, dan pemberdayaan sosial. Pendekatan ini diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat di sekitarnya. Dengan demikian, kepemimpinan umat dapat tumbuh melalui kegiatan nyata yang memberikan manfaat bagi kehidupan bersama.
Pembelajaran Berbasis Pengalaman dan Misi Kemanusiaan
Proses penanaman nilai-nilai etika dalam program NYSP tidak hanya dilakukan melalui pembelajaran teori maupun ceramah konvensional. Program ini menerapkan metode Experiential Learning atau pembelajaran berbasis pengalaman yang melibatkan peserta secara langsung dalam kehidupan masyarakat. Metode tersebut mencakup kegiatan Community Immersion dan Humanitarian Mission yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk memahami persoalan sosial serta terlibat dalam kegiatan kemanusiaan. Melalui pengalaman tersebut, peserta diharapkan mampu mengembangkan empati, solidaritas, kepedulian, dan kemampuan memahami kebutuhan masyarakat. Pendekatan ini juga diarahkan untuk membangun karakter Servant Leadership, yaitu kepemimpinan yang mengutamakan pelayanan daripada kepentingan pribadi. Dengan berhadapan langsung dengan berbagai persoalan masyarakat, calon pemimpin diharapkan tidak hanya memahami tanggung jawabnya secara konseptual, tetapi juga mampu menerapkannya dalam tindakan nyata.
Melahirkan Pemimpin Beretika untuk Masa Depan Nusantara
Pada akhir kunjungannya, Adv. Rinto Setiyawan menegaskan bahwa hasil utama yang ingin dicapai melalui pilar Ethical Statesmanship & Civilisational Leadership adalah lahirnya Ethical Leader atau pemimpin yang menjunjung tinggi etika dan nilai moral. Para lulusan NYSP diharapkan mampu menjadi teladan dalam kehidupan pribadi maupun pengabdian kepada masyarakat. Mereka juga diharapkan memiliki keteguhan dalam mempertahankan kebenaran, menolak penyalahgunaan kewenangan, serta menjalankan tanggung jawab berdasarkan prinsip keadilan. Sinergi antara Sekolah Negarawan dan MAPIM Malaysia menjadi langkah strategis untuk memperkuat pendidikan kepemimpinan yang mengintegrasikan pengetahuan, moralitas, dan kepedulian kemanusiaan. Kedua institusi optimistis bahwa kerja sama ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi pembentukan generasi pemimpin yang berintegritas dan mampu menjaga martabat kepemimpinan Islam di kawasan Nusantara.
Melalui pengembangan sebelas modul inti, pembelajaran berbasis pengalaman, dan keterlibatan langsung dalam kegiatan kemasyarakatan, NYSP diharapkan menjadi ruang pembinaan calon pemimpin yang lebih menyeluruh. Program ini sekaligus menawarkan pendekatan bahwa perbaikan kualitas kepemimpinan harus dimulai dari pembentukan karakter, bukan sekadar peningkatan kemampuan administratif. Integritas perlu dibangun melalui pembiasaan, keberanian moral harus dilatih melalui pengalaman, dan tanggung jawab sosial harus diwujudkan melalui pelayanan nyata. Dengan demikian, kerja sama Sekolah Negarawan dan MAPIM Malaysia diharapkan mampu menghadirkan model pendidikan negarawan yang menjadikan amanah, adab, keadilan, dan kemanusiaan sebagai pedoman utama dalam memimpin.



