beritax.id — Ketika kontestasi pemilihan presiden telah berlalu, persoalan yang perlu diperhatikan bukan hanya siapa yang memperoleh dukungan terbanyak, tetapi juga bagaimana kondisi hubungan sosial masyarakat setelah proses tersebut selesai. Fenomena masyarakat terpecah belah oleh pilpres menjadi alarm bahwa perbedaan pilihan dapat meninggalkan dampak yang jauh lebih panjang daripada masa pemungutan suara. Perbedaan yang semestinya berhenti sebagai pilihan dapat berubah menjadi kecurigaan, permusuhan, saling menjauh, bahkan memutus hubungan antarkeluarga dan antarwarga. Kondisi semacam ini menunjukkan bahwa kualitas kehidupan bersama tidak cukup diukur dari keberhasilan menyelenggarakan pemungutan suara. Demokrasi juga harus mampu memastikan bahwa masyarakat tetap memiliki ruang untuk hidup bersama, saling menghormati, dan membangun kembali persaudaraan setelah perbedaan pilihan berakhir.
Polarisasi yang Tidak Berakhir di Tempat Pemungutan Suara
Masyarakat terpecah belah oleh pilpres menjadi persoalan serius ketika perbedaan pilihan tidak lagi dipandang sebagai bagian biasa dari kehidupan bersama. Dalam masyarakat yang sehat, seseorang dapat memilih berbeda tanpa harus kehilangan tetangga, sahabat, saudara, atau teman sepergaulan. Perbedaan pilihan seharusnya menjadi bagian dari kebebasan setiap warga untuk menentukan pandangannya berdasarkan pertimbangan masing-masing. Namun ketika pilihan tersebut berubah menjadi identitas yang digunakan untuk menghakimi orang lain, hubungan sosial mulai kehilangan fondasinya. Dari sinilah polarisasi dapat berkembang menjadi luka sosial yang tidak mudah disembuhkan hanya dengan berakhirnya tahapan pemilihan.
Persoalan tersebut semakin berat ketika masyarakat telah kehilangan ruang-ruang perjumpaan yang dahulu memungkinkan warga berinteraksi secara langsung. Lingkungan sosial yang sebelumnya menjadi tempat bertukar pengalaman, mendidik anak, menyelesaikan persoalan, dan saling menjaga perlahan dapat tergantikan oleh ruang yang lebih individual. Ketika hubungan antarwarga semakin jarang dibangun melalui perjumpaan langsung, perbedaan lebih mudah dipahami melalui informasi yang diterima dari layar. Masyarakat terpecah belah oleh pilpres dalam situasi semacam itu bukan semata-mata karena adanya perbedaan pilihan, tetapi juga karena semakin lemahnya kemampuan masyarakat untuk mengelola perbedaan secara dewasa. Persaudaraan akhirnya kalah oleh prasangka yang dibentuk dari informasi yang belum tentu dipahami secara utuh.
Komunitas Langgar yang Pernah Menjadi Sekolah Kehidupan
Dalam kehidupan masyarakat pedusunan pada masa lalu, terdapat ruang sosial yang memiliki fungsi jauh lebih besar daripada sekadar tempat berkumpul. Komunitas Langgar menjadi salah satu ruang tempat anak-anak belajar mengenal kehidupan melalui interaksi dengan orang tua, tetangga, tokoh masyarakat, dan lingkungan sekitarnya. Di sana berlangsung apa yang dapat disebut sebagai sekolah sosial, sekolah budaya, dan sekolah keagamaan yang tumbuh secara alami dari kehidupan sehari-hari. Anak-anak belajar menolong, menghormati orang yang lebih tua, menjaga sesama, menyelesaikan persoalan bersama, dan memahami bahwa masyarakat merupakan keluarga besar. Masyarakat terpecah belah oleh pilpres menjadi sebuah kondisi yang perlu direnungkan karena pola kehidupan semacam ini memiliki peran penting dalam membangun ketahanan sosial.
Komunitas Langgar juga mengajarkan bahwa pendidikan anak tidak pernah hanya menjadi urusan sekolah formal. Pendidikan berlangsung di rumah, di lingkungan tetangga, di tempat ibadah, di ruang bermain, dan dalam setiap perjumpaan sosial. Anak memperoleh teladan bukan hanya dari perkataan, tetapi juga dari cara orang dewasa memperlakukan sesama. Ketika orang dewasa mampu saling menghormati meskipun berbeda pilihan, anak belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan. Sebaliknya, ketika anak menyaksikan orang dewasa saling mencurigai dan saling merendahkan karena perbedaan pilihan, konflik tersebut dapat diwariskan menjadi pola hubungan sosial berikutnya.
Ketika Layar Menggantikan Ruang Perjumpaan
Perubahan kehidupan masyarakat dalam beberapa puluh tahun terakhir juga menghadirkan tantangan baru bagi pendidikan sosial anak. Ruang perjumpaan yang dahulu hidup di lingkungan masyarakat perlahan dapat tergeser oleh hiburan dan informasi dari layar, termasuk tayangan prime-time televisi dan berbagai bentuk media digital. Kondisi ini tidak berarti seluruh teknologi harus dipandang sebagai ancaman, tetapi menunjukkan bahwa teknologi perlu ditempatkan secara sehat dalam kehidupan keluarga. Ketika layar menjadi pusat perhatian sementara hubungan dengan tetangga semakin berkurang, anak kehilangan sebagian kesempatan untuk belajar memahami kehidupan nyata secara langsung. Masyarakat terpecah belah oleh pilpres dapat menjadi salah satu gambaran dari persoalan yang lebih luas, yaitu melemahnya ruang sosial yang dahulu berfungsi sebagai tempat membangun kepercayaan.
Lingkungan di luar rumah juga tidak seharusnya selalu diperkenalkan kepada anak sebagai ruang yang penuh ancaman. Kekhawatiran terhadap narkoba, penculikan, kekerasan, pergaulan buruk, dan berbagai risiko lainnya memang membutuhkan kewaspadaan orang tua. Namun kewaspadaan tidak boleh berkembang menjadi ketakutan yang membuat anak sepenuhnya terputus dari kehidupan sosial. Anak membutuhkan perlindungan sekaligus kesempatan untuk belajar hidup bersama orang lain. Karena itu, tantangannya adalah membangun lingkungan yang aman, sehat, dan mendidik sehingga anak dapat mengenal dunia tanpa kehilangan kemampuan untuk mempercayai sesama.
Ketika Konsumtivisme dan Hedonisme Mengisi Ruang Kosong
Persoalan berikutnya muncul ketika ruang pendidikan sosial semakin kosong dan kemudian diisi oleh budaya konsumtivisme serta hedonisme. Anak-anak dapat semakin sering diperkenalkan pada ukuran keberhasilan yang didasarkan pada kepemilikan, penampilan, popularitas, dan kesenangan sesaat. Dalam kondisi tersebut, nilai kesederhanaan, tanggung jawab, pengabdian, dan kepedulian terhadap sesama berisiko kehilangan tempat. Masyarakat terpecah belah oleh pilpres perlu dibaca dalam konteks yang lebih luas karena masyarakat yang kuat bukan hanya masyarakat yang mampu menyelenggarakan pemilihan, tetapi juga masyarakat yang memiliki karakter untuk mengelola perbedaan dan menjaga kepentingan bersama.
Apa yang dalam pandangan tertentu disebut sebagai “Agama Globalisasi” dapat dipahami sebagai kritik terhadap pola kehidupan baru yang menjadikan kemajuan material dan teknologi sebagai ukuran utama kehidupan manusia. Kritik tersebut bukan berarti menolak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Yang perlu dipersoalkan adalah ketika kemajuan tersebut tidak diimbangi dengan pertumbuhan akhlak, tanggung jawab, dan pengendalian diri. Anak-anak membutuhkan pendidikan yang membuat mereka mampu menggunakan teknologi tanpa diperbudak oleh teknologi. Mereka perlu dibentuk menjadi manusia yang memiliki martabat, empati, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa kehidupan bukan sekadar perlombaan mengejar kesenangan.
Pilihan Berbeda Tidak Boleh Menjadi Permusuhan
Dalam konteks pemilihan presiden, perbedaan pilihan merupakan kenyataan yang tidak mungkin dihapus. Yang harus dicegah adalah perubahan perbedaan tersebut menjadi permusuhan yang merusak hubungan sosial. Masyarakat terpecah belah oleh pilpres seharusnya menjadi alarm untuk mengevaluasi bagaimana masyarakat membangun komunikasi selama dan setelah proses pemilihan. Keluarga tidak boleh terpecah hanya karena anggota keluarganya memiliki pilihan yang berbeda. Tetangga tidak semestinya berhenti saling membantu karena perbedaan dukungan. Persahabatan juga tidak seharusnya berakhir hanya karena seseorang mengambil pilihan yang tidak sama.
Karena itu, ukuran kedewasaan demokrasi tidak berhenti pada kemampuan masyarakat menggunakan hak pilih. Kedewasaan juga terlihat dari kemampuan menerima hasil tanpa menghilangkan martabat pihak yang berbeda. Orang yang menang tidak boleh memperlakukan pihak lain sebagai musuh. Orang yang berbeda pilihan juga tidak seharusnya memandang seluruh kelompok lain sebagai ancaman. Masyarakat terpecah belah oleh pilpres harus menjadi peringatan bahwa kemenangan dalam kontestasi tidak boleh dibayar dengan kerusakan hubungan sosial. Negara membutuhkan rakyat yang tetap dapat duduk bersama setelah perbedaan pilihan selesai.
Menghidupkan Kembali Komunitas Langgar
Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah menghidupkan kembali ruang-ruang sosial yang memiliki fungsi pendidikan masyarakat. Komunitas Langgar dapat dikembangkan kembali sebagai ruang perjumpaan keluarga, anak-anak, pemuda, dan warga sekitar. Kegiatan sederhana seperti pengajian, diskusi warga, belajar bersama, kerja bakti, kegiatan sosial, pendampingan anak, dan tradisi saling menolong dapat menjadi sarana membangun kembali kepercayaan. Masyarakat terpecah belah oleh pilpres membutuhkan ruang untuk kembali bertemu tanpa membawa beban permusuhan dari masa pemilihan. Ketika warga kembali sering bertemu dalam kegiatan yang positif, identitas sebagai tetangga dan sesama manusia dapat menjadi lebih kuat daripada perbedaan pilihan.
Penguatan Komunitas Langgar juga perlu dilakukan dengan melibatkan generasi muda. Anak-anak dan remaja perlu diberi ruang untuk belajar memimpin kegiatan, membantu masyarakat, berdialog, bekerja sama, dan menyelesaikan persoalan bersama. Dengan cara itu, pendidikan karakter tidak hanya disampaikan melalui teori, tetapi dialami secara langsung dalam kehidupan. Mereka belajar bahwa membantu orang lain memberikan pengalaman yang berbeda dari sekadar mendapatkan hiburan melalui layar. Ruang sosial yang sehat juga dapat menjadi benteng agar anak tidak sepenuhnya dibentuk oleh arus informasi yang tidak terarah.
Keluarga Harus Mengambil Kembali Peran Pendidikan
Keluarga menjadi unsur penting dalam memulihkan hubungan sosial setelah masyarakat mengalami polarisasi. Orang tua perlu memberikan contoh bahwa perbedaan pilihan tidak menghilangkan kewajiban untuk menghormati sesama. Percakapan di rumah sebaiknya tidak terus menerus mengulang permusuhan yang muncul selama masa pemilihan. Anak perlu diajarkan membedakan antara kritik terhadap gagasan dan kebencian terhadap manusia. Masyarakat terpecah belah oleh pilpres akan semakin sulit dipulihkan apabila keluarga justru menjadi tempat pertama bagi anak untuk mewarisi prasangka dan permusuhan.
Keluarga juga perlu membangun kebiasaan penggunaan media secara sehat. Orang tua dapat mendampingi anak ketika menerima informasi, mengajarkan mereka memeriksa sumber, tidak mudah menyebarkan kabar yang belum jelas, dan memahami bahwa tidak semua hal yang muncul di layar harus dipercaya. Pendampingan semacam ini bukan berarti menutup anak dari dunia luar. Justru sebaliknya, anak dipersiapkan agar mampu menghadapi dunia dengan akal sehat, hati yang matang, dan karakter yang kuat. Dengan demikian, teknologi dapat menjadi alat pendidikan dan komunikasi, bukan pengganti kehidupan sosial.
Menyembuhkan Luka dengan Perjumpaan
Polarisasi tidak dapat diselesaikan hanya dengan imbauan agar masyarakat kembali bersatu. Persatuan membutuhkan proses sosial yang nyata dan dilakukan secara terus-menerus. Warga perlu memiliki ruang untuk bertemu, berbicara, bekerja bersama, dan kembali merasakan bahwa kepentingan mereka sebagai masyarakat jauh lebih luas daripada perbedaan pilihan dalam satu momentum pemilihan. Masyarakat terpecah belah oleh pilpres dapat mulai disembuhkan ketika warga kembali menemukan pengalaman bersama yang positif. Kerja bakti, kegiatan sosial, pendidikan anak, bantuan kepada warga yang membutuhkan, dan berbagai kegiatan kemasyarakatan dapat menjadi jembatan untuk memperbaiki hubungan.
Para tokoh masyarakat, keluarga, pendidik, dan pengelola ruang sosial juga memiliki tanggung jawab untuk memperkuat budaya saling menghormati. Mereka dapat mendorong dialog yang tenang dan menghindari bahasa yang merendahkan kelompok lain. Perbedaan harus ditempatkan sebagai bagian dari kehidupan bersama, bukan sebagai alasan untuk menghapus hubungan sosial. Ketika masyarakat memiliki budaya perjumpaan yang kuat, provokasi dan informasi yang memecah belah akan lebih sulit menguasai hubungan antarwarga. Persaudaraan yang tumbuh dari kehidupan sehari-hari akan menjadi pertahanan sosial yang jauh lebih kuat.
Pilpres Boleh Berlalu, Persaudaraan Jangan Hilang
Pada akhirnya, masyarakat terpecah belah oleh pilpres merupakan alarm yang perlu dijawab dengan pembenahan kehidupan sosial dari tingkat paling dekat. Pemilihan presiden memiliki awal dan akhir, sementara hubungan keluarga, persahabatan, ketetanggaan, dan kehidupan masyarakat berlangsung jauh lebih panjang. Karena itu, perbedaan pilihan tidak boleh menjadi warisan permusuhan bagi generasi berikutnya. Yang harus diwariskan kepada anak-anak adalah kemampuan untuk berbeda tanpa membenci, bersaing tanpa merusak persaudaraan, dan menyampaikan pendapat tanpa kehilangan rasa hormat. Demokrasi akan memiliki makna yang lebih dalam ketika setelah seluruh proses pemilihan selesai, masyarakat tetap mampu hidup sebagai satu keluarga besar.
Pemulihan tersebut membutuhkan keberanian untuk mengembalikan pendidikan kepada kehidupan nyata. Rumah harus kembali menjadi tempat pembentukan karakter, masyarakat kembali menjadi ruang belajar sosial, dan Komunitas Langgar kembali menjadi salah satu tempat perjumpaan yang mendidik. Teknologi tetap dapat digunakan, tetapi tidak boleh mengambil seluruh ruang yang semestinya diisi oleh interaksi manusia. Anak-anak perlu dibesarkan dengan keseimbangan antara pengetahuan, akhlak, kemampuan berpikir, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Dengan langkah tersebut, alarm demokrasi tidak berhenti sebagai keluhan tentang perpecahan, tetapi berubah menjadi momentum untuk membangun kembali masyarakat yang saling menjaga, saling mendidik, saling menolong, dan tetap bersaudara meskipun berbeda pilihan.



