By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Saturday, 25 July 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Ketika Upeti Berganti Nama, Rakyat Menonton Kekayaan
Pemerintah

Ketika Upeti Berganti Nama, Rakyat Menonton Kekayaan

Diajeng Maharini
Last updated: June 9, 2026 1:37 pm
By Diajeng Maharini
Share
6 Min Read
SHARE

beritax.id – Indonesia sering menampilkan citra modern melalui gedung tinggi, teknologi canggih, dan proyek-proyek ambisius. Namun rakyat menonton kekayaan yang berada di tanahnya sendiri. Jalan tol dibangun, gedung pencakar langit menjulang, teknologi digital merambah setiap aspek kehidupan. Pemerintah gencar bicara tentang transformasi digital, hilirisasi industri, dan visi Indonesia Emas. Dari kejauhan, semua tampak maju, efisien, dan beradab. Namun rakyat menonton kekayaan sambil mempertanyakan sejauh mana manfaat kembali kepada masyarakat lokal.

Contents
Modernitas Tidak Hanya PenampilanKritik Cak Nun: Upeti ModernKekuasaan Sehat vs Kekuasaan Tidak SehatEvaluasi Sistem dan Logika KekuasaanRinto Setiyawan: Negara Harus Melindungi dan MelayaniSolusi Mengurangi Ketimpangan

Modernitas Tidak Hanya Penampilan

Pertanyaan mendasar muncul: apakah modernitas cukup diukur dari gedung dan teknologi canggih? Apakah modernitas harus diukur dari keadilan yang dirasakan rakyat sehari-hari? Bangsa menjadi modern ketika sistem adil diterapkan, sumber daya dikelola untuk kesejahteraan publik, dan kekuasaan bekerja untuk rakyat. Rakyat menonton kekayaan sambil merasakan ketimpangan nyata. Pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur masih tertinggal dibanding kekayaan sumber daya yang diambil dari wilayah mereka.

Kritik Cak Nun: Upeti Modern

Cak Nun menegaskan bahwa sistem distribusi kekayaan saat ini melampaui logika kerajaan klasik. “Kabupaten dengan tambang uranium hanya menerima 3% hasilnya,” katanya. Sisanya dibagi antara pengusaha dan pemerintah pusat. Bahkan sebelum sumber daya digali, mekanisme pembagian telah diatur. Rakyat menonton kekayaan yang seharusnya menjadi hak mereka. Sistem ini lebih ekstrem daripada upeti kerajaan klasik, di mana hasil baru diberikan setelah diekstraksi. Kini, rakyat menjadi penyumbang utama keuntungan pusat sebelum hasil tersedia.

Distribusi yang timpang memunculkan perasaan ketidakadilan. Rakyat menonton kekayaan sambil melihat manfaat kembali sangat kecil. Infrastruktur, pendidikan, dan fasilitas kesehatan tidak sebanding dengan nilai sumber daya yang diambil. Daerah kaya terlihat sebagai lokasi eksploitasi, bukan pusat kemakmuran. Solidaritas nasional bisa dimaklumi, tetapi ketimpangan yang terlalu besar menjadi masalah serius. Ketimpangan mencerminkan cara berpikir kekuasaan yang lebih fokus mengumpulkan sumber daya daripada melayani rakyat.

Kekuasaan Sehat vs Kekuasaan Tidak Sehat

Kekuasaan yang sehat selalu bertanya bagaimana rakyat memperoleh manfaat. Adapun kekuasaan tidak sehat sibuk mengumpulkan dan mengendalikan sumber daya. Perbedaan ini menentukan arah pembangunan bangsa. Negara modern dibangun atas efisiensi, keadilan, transparansi, dan penghormatan terhadap hak rakyat. Modernitas sejati tercapai ketika sistem memastikan rakyat sebagai tujuan utama. Rakyat menonton kekayaan sambil menunggu perubahan nyata, bukan sekadar janji proyek atau slogan pembangunan.

Ketika negara fokus pada citra modern, kepercayaan rakyat luntur. Gedung tinggi dan istilah futuristik tidak menggantikan keadilan substantif. Modernitas kosmetik hanya mempercantik penampilan luar negara. Rakyat menonton kekayaan sambil mempertanyakan sejauh mana sistem melayani mereka. Tanpa reformasi, ketimpangan terus terjadi dan rakyat hanya menjadi penonton kekayaan yang dihasilkan dari tanah mereka sendiri.

You Might Also Like

Kebijakan Pemerintah Dibuat Cepat, Rakyat Menanggung Dampaknya Lama
IWPI Sudah Kirim 7 Surat, Tapi Puan Diam: Apakah Aspirasi Rakyat Pilih-Pilih?
Di Tengah Ketimpangan Sosial, Kekuasaan Tanpa Empati Semakin Nyata
Kekacauan Sosial dan Ketidakpastian: Demokrasi Tanpa Fondasi yang Merusak Struktur Negara

Evaluasi Sistem dan Logika Kekuasaan

Pertanyaan utama: apakah sistem benar-benar bekerja untuk rakyat? Jika ketimpangan terus terjadi, evaluasi desain sistem diperlukan. Bukan hanya individu pejabat yang harus disoroti, tetapi logika kekuasaan yang melahirkan kebijakan. Rakyat menonton kekayaan yang seharusnya menjadi hak mereka. Mekanisme distribusi harus adil dan proporsional. Sistem harus memastikan rakyat sebagai penerima manfaat utama, bukan sekadar objek pajak atau upeti modern.

Reformasi harus meliputi pengelolaan sumber daya strategis: minyak, gas, batu bara, dan mineral. Daerah penghasil harus mendapatkan manfaat yang sebanding. Infrastruktur, pendidikan, dan fasilitas publik harus meningkat sesuai kontribusi sumber daya. Ketimpangan struktural yang berkelanjutan menciptakan ketidakadilan. Rakyat menonton kekayaan dan menuntut perlindungan hak mereka atas sumber daya lokal.

Rinto Setiyawan: Negara Harus Melindungi dan Melayani

Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan, menegaskan tiga tugas utama negara: melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat secara adil. Negara modern wajib memastikan manfaat sumber daya alam dinikmati seluruh warga. Hukum dan kebijakan harus melindungi daerah penghasil agar tidak menjadi korban ketimpangan. Rakyat menonton kekayaan sambil menilai apakah pemerintah benar-benar bertindak untuk kesejahteraan masyarakat lokal.

Rinto menekankan perlunya distribusi transparan dan proporsional. Semua warga, terutama di daerah penghasil, harus menerima manfaat nyata. Negara kehilangan legitimasi jika rakyat terus dirugikan. Sistem yang hanya mengutamakan pusat dan pengusaha merusak kepercayaan publik. Rakyat menonton kekayaan sambil berharap keadilan ditegakkan melalui tindakan nyata, bukan hanya retorika.

Solusi Mengurangi Ketimpangan

  1. Revisi mekanisme distribusi dana sumber daya agar proporsional dan adil.
  2. Tingkatkan pengawasan terhadap pengelolaan sumber daya strategis.
  3. Terapkan transparansi penggunaan hasil tambang kepada publik.
  4. Perkuat kapasitas daerah untuk mengelola sumber daya sendiri.
  5. Edukasi masyarakat tentang hak mereka atas sumber daya lokal.
  6. Prioritaskan prinsip keadilan sosial dalam pembangunan.
  7. Maksimalkan partisipasi rakyat dalam keputusan terkait sumber daya.

Dengan langkah ini, rakyat menonton kekayaan dapat berubah menjadi rakyat menikmati kekayaan.

Modernitas sejati bukan sekadar gedung tinggi, teknologi, atau istilah futuristik. Modernitas adalah kemampuan menghadirkan keadilan. Rakyat menonton kekayaan seharusnya menjadi penerima manfaat nyata. Negara modern harus memastikan kekayaan alam bekerja untuk kesejahteraan rakyat. Sistem dan logika kekuasaan harus diarahkan untuk melayani, bukan mengeksploitasi. Reformasi distribusi sumber daya adalah langkah konkret menjawab pertanyaan: apakah Indonesia benar-benar modern, atau hanya modernitas kosmetik?

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Pasal Mengabdi Kekuasaan, Negeri dalam Cengkeraman Tafsir 
Next Article Kas Pemerintah Pengelolaan Kas Pemerintah Diarahkan untuk Tingkatkan Manfaat bagi Rakyat

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

“Pengalihan Pengadilan Pajak ke Mahkamah Agung dalam sistem peradilan Indonesia”
Berita Terkini

Catatan Adaptasi Pengadilan Pajak Menyongsong Pengalihan ke Mahkamah Agung

December 19, 2025
Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025

You May also Like

Mengapa Iran kua
Pemerintah

Mengapa Iran Kuat di Tengah Konflik Berkepanjangan?

July 8, 2026
Pemerintah

Akar Masalah Bangsa: Pergantian Presiden Bukan Solusi

June 17, 2026
Pemerintah

Negeri Dalam Ekstraksi, Ketika Kekayaan Tak Kembali

June 10, 2026
Gaya Hidup

Harga iPhone Naik, Dompet Rakyat Turun: Partai X Kritik Negara yang Diam Saat Barang Mewah Diutamakan!

May 13, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.