By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Friday, 29 May 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Ketua Umum Parpol: Dari Pemilik Agen Menjadi ART Negara
Pemerintah

Ketua Umum Parpol: Dari Pemilik Agen Menjadi ART Negara

Diajeng Maharini
Last updated: May 28, 2026 2:25 pm
By Diajeng Maharini
Share
5 Min Read
SHARE

beritax.id – Analogi agen ART kembali relevan membaca kondisi demokrasi Indonesia saat ini. Agen ART memahami cara kerja rekrutmen profesional. Mereka mencari kandidat sesuai kebutuhan pemilik rumah. Mereka menilai kemampuan, pengalaman, dan tanggung jawab calon pekerja. Setelah itu, mereka menyerahkan pilihan kepada pemilik rumah. Tidak ada pemilik agen yang memaksakan dirinya bekerja di rumah pelanggan. Cara itu dianggap melanggar etika dan akal sehat.

Namun praktik nasional justru sering menunjukkan kebalikan. Banyak ketua umum partai menjadikan organisasinya kendaraan menuju kekuasaan. Mereka bertindak seperti pemilik agen yang ingin menjadi ART negara. Struktur partai dipakai untuk mengamankan kepentingan pribadi. Situasi ini memunculkan ironi dalam demokrasi modern. Partai kehilangan fungsi dasarnya sebagai lembaga rekrutmen kepemimpinan.

Ketika Rekrutmen Berubah Menjadi Kendaraan Kekuasaan

Dalam demokrasi sehat, partai seharusnya menyeleksi calon terbaik bangsa. Seleksi dilakukan melalui mekanisme objektif dan terbuka. Setiap kader mendapat kesempatan yang sama. Integritas, kapasitas, dan rekam jejak menjadi ukuran utama.

Namun kenyataan sering bergerak sebaliknya. Ketua umum menjadi figur otomatis dalam pencalonan. Pendiri partai memegang kendali mutlak penentuan kandidat. Kompetisi internal menjadi sekadar formalitas organisasi. Mekanisme kaderisasi kehilangan makna substantif.

Akibatnya, rakyat tidak selalu mendapat pilihan terbaik. Mereka hanya menerima nama yang disiapkan penguasa partai. Demokrasi menjadi prosedural tanpa substansi meritokrasi. Pemilu tetap berlangsung meriah. Namun kualitas pencalonan tidak selalu mencerminkan kebutuhan bangsa.

Fenomena ini menunjukkan partai telah salah fungsi. Mereka bukan lagi penyaring aspirasi rakyat. Mereka berubah menjadi alat reproduksi kekuasaan penguasa. Dalam logika manajemen, keadaan ini sangat bermasalah.

You Might Also Like

Rakyat Ditekan Ketika Sistem Pemerintahan Dikuasai Penguasa yang Tak Peduli
Negara Katanya Bebas Korupsi, Kecuali Ketika Itu Menguntungkan Mereka
Kesalahan Struktur Ketatanegaraan Lahirkan Kejahatan “Politik”
Pajak Tanpa Transparansi, Zulhas Keliru Pahami Pajak

Negara Bukan Milik Pemilik Agen 

Jika Indonesia adalah rumah besar bersama, rakyat adalah pemiliknya. Pemerintah hanyalah pengelola amanah rakyat. Presiden bertugas melayani kebutuhan seluruh penghuni rumah besar itu. Ia bukan pemilik negara.

Dalam konteks itu, partai politik semestinya berfungsi sebagai agen profesional. Mereka mencari pengelola terbaik untuk rumah besar tersebut. Tugas mereka menyeleksi kandidat paling layak. Mereka tidak boleh mengutamakan kepentingan internal semata.

Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan, menegaskan fungsi negara harus dipahami secara sederhana. Menurutnya, negara hanya memiliki tiga tugas utama. Negara harus melindungi rakyat dari ancaman. Negara wajib melayani kebutuhan dasar masyarakat. Adapun negara juga harus mengatur kehidupan bersama secara tertib.

Ia menilai tiga tugas itu membutuhkan kepemimpinan berkualitas tinggi. Negara tidak boleh dipimpin oleh figur hasil kompromi penguasa semata. Kepemimpinan harus lahir dari seleksi objektif dan profesional. Menurutnya, partai wajib menghadirkan calon terbaik untuk menjalankan amanah tersebut.

Konflik Kepentingan yang Menggerus Demokrasi

Agen ART profesional menghindari konflik kepentingan. Mereka sadar tugasnya melayani kebutuhan pelanggan. Jika mereka memaksakan kepentingan sendiri, kepercayaan akan hilang.

Hal serupa seharusnya berlaku dalam pemerintahan. Partai tidak boleh memakai sistem rekrutmen untuk kepentingan penguasa. Namun praktik sebaliknya sering terjadi. Mekanisme pencalonan dikendalikan kelompok kecil. Penilaian objektif menjadi sulit dilakukan.

Situasi ini mempersempit kedaulatan rakyat. Secara formal rakyat memilih langsung pemimpin. Namun akses pencalonan terkunci di tangan penguasa partai. Pilihan rakyat menjadi terbatas sejak awal.

Demokrasi akhirnya kehilangan makna substantif. Ia berubah menjadi legitimasi administratif belaka. Rakyat memilih nama yang telah diputuskan sebelumnya. Kualitas pilihan menjadi sangat bergantung pada kehendak penguasa.

Solusi Mengembalikan Fungsi Partai

Reformasi internal partai menjadi langkah mendesak. Seleksi kandidat harus dilakukan secara terbuka. Semua kader wajib memperoleh kesempatan setara. Penilaian harus berbasis kompetensi dan integritas.

Partai juga perlu membangun sekolah kader modern. Pendidikan politik harus menyiapkan calon pemimpin profesional. Mereka harus memahami tata kelola negara secara menyeluruh. Penguasaan ekonomi, hukum, dan pelayanan publik menjadi keharusan.

Selain itu, transparansi pencalonan harus diperkuat. Publik perlu mengetahui parameter seleksi secara jelas. Uji publik terhadap kandidat harus diperluas. Langkah ini memperkuat akuntabilitas partai.

Rinto Setiyawan menilai pembenahan ini tidak bisa ditunda. Menurutnya, partai harus kembali menjadi alat pelayanan rakyat. Bukan kendaraan ambisi penguasa internal. Ia menegaskan, demokrasi kuat lahir dari partai sehat.

Pelajaran dari Agen ART

Pelajaran sederhana datang dari logika agen ART. Pihak yang mengelola rekrutmen tidak boleh menjadikan sistem sebagai alat pribadi. Profesionalisme harus selalu diutamakan.

Jika ketua umum terus bertindak sebagai pemilik agen yang ingin menjadi ART negara, demokrasi akan terus pincang. Rakyat kehilangan pilihan terbaik. Negara kehilangan arah pembangunan.

Indonesia membutuhkan partai yang modern dan profesional. Partai harus menjadi sekolah kepemimpinan bangsa. Mereka wajib menghadirkan pelayan rakyat terbaik melalui seleksi objektif.

Jika agen ART memahami etika rekrutmen, partai politik semestinya lebih mampu memahaminya. Demokrasi hanya sehat jika partai kembali pada fungsi sejatinya. Itu menjadi syarat mutlak masa depan bangsa.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Parpol sebagai Agen Kekuasaan yang Salah Fungsi

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Parpol sebagai Agen Kekuasaan yang Salah Fungsi

May 28, 2026
Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025

You May also Like

Pemerintah

Gugatan Bahlil Ditarik, Partai X: Rakyat Cuma Dengar Janji, Lagi!

October 9, 2025
Pemerintah

BUMN Buruhnya Rakyat: Siapa Sebenarnya yang Dilayani?

April 30, 2026
Pemerintah

OIKN Merespons IKN, Partai X: Jangan Cuma Tanggapi Media, Fokus Aksi!

November 22, 2025
Pemerintah

Pengkhianatan Konstitusi Terstruktur: Rakyat yang Hilang Suaranya dalam Negara yang Tidak Demokratis

March 9, 2026
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.