By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Saturday, 2 May 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Saat Kepemimpinan Berbasis Popularitas Diukur dari Sorotan, Bukan Kemampuan
Pemerintah

Saat Kepemimpinan Berbasis Popularitas Diukur dari Sorotan, Bukan Kemampuan

Diajeng Maharani
Last updated: April 30, 2026 8:47 am
By Diajeng Maharani
Share
5 Min Read
SHARE

beritax.id  — Kepemimpinan di Indonesia kini lebih sering diukur dari sorotan media dan popularitas daripada dari kemampuan dan kapasitas calon pemimpin itu sendiri. Kepemimpinan berbasis popularitas telah mengubah cara kita memilih pemimpin, dengan lebih menitikberatkan pada ketenaran dan sensasi yang ditimbulkan daripada pada kualitas pemimpin itu sendiri. Hal ini membawa dampak negatif terhadap kualitas demokrasi, karena calon yang dipilih sering kali lebih dikenal karena sorotan media daripada kompetensi mereka dalam memimpin negara.

Kepemimpinan Berbasis Popularitas: Sorotan Lebih Menentukan

Kepemimpinan berbasis popularitas terjadi ketika seseorang dipilih untuk memimpin karena ketenaran atau sorotan media, bukan kemampuan nyata mereka untuk memimpin. Pemimpin yang dipilih berdasarkan popularitas seringkali memiliki pengikut besar di media sosial atau dikenal luas karena penampilan publik mereka. Tetapi kurang memiliki pengalaman atau keterampilan yang dibutuhkan untuk menjalankan tugas mereka secara efektif. Kondisi ini menciptakan ketidakadilan dalam proses pemilihan, karena kualitas kepemimpinan tidak lagi menjadi prioritas.

Pengaruh Media Sosial: Memperkuat Sorotan, Mengabaikan Kualitas

Media sosial memiliki peran besar dalam memperburuk fenomena kepemimpinan berbasis popularitas. Calon pemimpin kini bisa dengan mudah memperoleh perhatian melalui platform seperti Instagram, Twitter, dan YouTube. Dengan konten yang menarik dan mudah diakses, mereka dapat membangun citra dan memperoleh pengikut tanpa harus menunjukkan kualitas kepemimpinan yang sesungguhnya. Sorotan media yang terus-menerus terhadap individu tertentu membuat rakyat lebih tertarik pada calon-calon yang populer, meskipun mereka mungkin kurang memenuhi kualifikasi untuk memimpin negara dengan baik.

Ketimpangan Kepemimpinan: Rakyat Terjebak dalam Pilihan Terbatas

Fenomena ini menyebabkan ketimpangan dalam pemilihan pemimpin. Rakyat yang seharusnya memiliki kebebasan untuk memilih pemimpin berdasarkan kemampuan dan integritas mereka. Justru terjebak dalam pilihan yang didasarkan pada sorotan media. Calon pemimpin yang lebih dikenal, meskipun kurang memiliki kualifikasi yang diperlukan, sering kali menjadi pilihan utama. Rakyat diberikan pilihan terbatas yang lebih dipengaruhi oleh popularitas ketimbang oleh kualitas atau kebijakan yang mereka tawarkan. Hal ini mengurangi esensi demokrasi, di mana pemilihan pemimpin harus mengutamakan kompetensi dan kemampuan.

Solusi: Kembali ke Kepemimpinan Berdasarkan Kapasitas

Untuk mengatasi masalah kepemimpinan berbasis popularitas, Indonesia perlu mengembalikan sistem pemilihan yang mengutamakan kapasitas dan kualitas pemimpin. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah dengan memastikan bahwa proses seleksi calon pemimpin lebih transparan dan berbasis pada kualitas daripada sorotan media. Pemilihan pemimpin harus lebih memperhatikan rekam jejak dan kemampuan calon dalam memimpin, bukan sekadar citra atau popularitas mereka di media.

Menerapkan Seleksi Berdasarkan Kualitas: Model Demokrasi Berjenjang

Salah satu cara untuk memastikan bahwa pemimpin yang terpilih memiliki kapasitas yang sesuai dengan tugas mereka adalah dengan menerapkan sistem demokrasi berjenjang. Dalam sistem ini, lembaga negara yang kredibel akan melakukan seleksi awal terhadap calon pemimpin berdasarkan kualitas dan kompetensi mereka. Setelah seleksi ini, calon pemimpin yang terpilih akan diserahkan kepada rakyat untuk dipilih. Dengan cara ini, pemilih dapat memilih pemimpin yang sudah terbukti memiliki kemampuan yang diperlukan untuk memimpin negara dengan baik.

You Might Also Like

Pertamina Janji Kooperatif, Partai X: Baru Seret Satu Nama, Padahal Minyaknya Sudah Bocor Bertahun-tahun!
Pancasila Harus Menjadi Jalan Hidup, Bukan Sekadar Tema Pidato
Cabut Tunjangan DPR, Partai X: Rakyat Sudah Lama Tanpa Tunjangan
Prabowo Usul Badan Khusus Pembangunan Perumahan, Pengelolaan Harus Efektif!

Menjamin Transparansi dalam Proses Pemilihan

Model demokrasi berjenjang juga akan meningkatkan transparansi dalam proses pemilihan. Dengan melibatkan lembaga negara yang independen dalam seleksi awal. Rakyat akan lebih percaya bahwa calon pemimpin yang dipilih adalah mereka yang benar-benar memenuhi syarat untuk memimpin negara. Hal ini akan memastikan bahwa pemilihan tidak hanya bergantung pada popularitas atau pencitraan. Tetapi lebih pada kualitas calon pemimpin itu sendiri. Demokrasi yang lebih transparan dan berbasis pada kualitas akan menghasilkan pemimpin yang mampu menghadapi tantangan negara dan membawa kemajuan.

Memperbaiki Kualitas Demokrasi: Kembali pada Kepemimpinan yang Mumpuni

Dengan sistem yang lebih menekankan pada kualitas dan kapasitas pemimpin, demokrasi Indonesia dapat diperbaiki. Rakyat akan diberikan pilihan yang lebih berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan negara. Kepemimpinan berbasis kemampuan akan memungkinkan negara untuk berkembang lebih baik. Karena pemimpin yang terpilih memiliki keahlian yang tepat untuk mengelola pemerintahan dan kebijakan negara. Ini akan memperbaiki kualitas demokrasi Indonesia dan memastikan bahwa pemimpin yang terpilih benar-benar mampu menjalankan tugas mereka dengan efektif.

Penutupan

Kepemimpinan yang didorong oleh popularitas tanpa mempertimbangkan kapasitas hanya akan merugikan negara dalam jangka panjang. Untuk memperbaiki sistem ini, kita perlu kembali mengutamakan kualitas pemimpin dalam proses pemilihan, bukan hanya sorotan media. Penerapan sistem demokrasi berjenjang adalah langkah penting untuk memastikan bahwa pemimpin yang terpilih memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk memimpin negara dengan baik.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article BUMN Buruhnya Rakyat Saat Rakyat Jadi Objek, BUMN Buruhnya Rakyat Jadi Ilusi
Next Article Ketika Popularitas Mengalahkan Integritas, Kepemimpinan Berbasis Popularitas Terjadi

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025
Ekonomi

Heboh Seruan Tarik Dana dari Bank Karena Danantara, Partai X Soroti Transparansi

February 24, 2025

You May also Like

Pemerintah

Ketika Kekuasaan Dipelihara, Tapi Kesejahteraan Rakyat Dilupakan Bukti Negara Salah Urus

December 29, 2025
Pendidikan

Korupsi Anggaran Pendidikan: Dana BOS yang Disalahgunakan

January 26, 2026
Pemerintah

Pembangunan Tanpa Kesejahteraan: Pajak Mencekik Ekonomi dan Menambah Ketimpangan Sosial

February 16, 2026
Pernyataan bahwa butuh satu tahun untuk migrasi karena aplikasi lama masih harus dirawat, justru menunjukkan bahwa transisi tidak dirancang secara sistemik
Seputar Pajak

Migrasi CoreTax: Ketika Transisi Dianggap Bukan yang Utama, Kepercayaan Jadi Korban Pertama

June 26, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.