beritax.id — Di Indonesia, kepemimpinan seringkali lebih ditentukan oleh popularitas daripada integritas. Pemimpin yang dipilih berdasarkan sorotan media dan ketenaran mereka, sering kali mengesampingkan kualitas dan kapasitas yang sebenarnya dibutuhkan untuk memimpin negara. Kepemimpinan berbasis popularitas telah mengubah cara pemilihan pemimpin, mengutamakan sensasi daripada integritas, yang berdampak pada kualitas demokrasi yang ada.
Kepemimpinan Berbasis Popularitas: Memilih Berdasarkan Sensasi, Bukan Kemampuan
Adapun kepemimpinan berbasis popularitas terjadi ketika seseorang terpilih untuk memimpin lebih karena ketenaran dan sorotan media daripada pada kualitas dan kemampuan untuk memimpin. Dalam hal ini, calon pemimpin yang terkenal atau memiliki pengikut besar di media sosial lebih mudah terpilih daripada mereka yang memiliki rekam jejak atau keahlian yang mumpuni. Kepemimpinan yang didasarkan pada popularitas ini menciptakan ketimpangan, di mana integritas dan kompetensi menjadi lebih rendah prioritasnya dibandingkan dengan kemampuan seseorang untuk menarik perhatian publik.
Media sosial berperan besar dalam memperburuk fenomena kepemimpinan berbasis popularitas. Platform seperti Instagram, Twitter, dan YouTube memberi individu kesempatan untuk membangun citra dengan cepat, meskipun tanpa kualitas atau rekam jejak yang memadai. Calon pemimpin bisa menjadi sangat populer dengan hanya menunjukkan kehidupan pribadi mereka atau dengan mengikuti tren tertentu di media sosial. Hal ini mengalihkan perhatian dari kemampuan dan kebijakan yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin, dan lebih fokus pada pencitraan yang dapat mempengaruhi opini publik.
Dominasi Partai: Menyaring Pemimpin Berdasarkan Popularitas
Selain pengaruh media sosial, dominasi partai juga memperburuk situasi ini. Partai-partai besar sering kali memilih calon pemimpin berdasarkan popularitas dan kemampuan mereka untuk meraih perhatian massa. Pilihan ini didorong oleh keuntungan yang bisa didapat, bukan oleh kualitas kepemimpinan atau kemampuan calon untuk memecahkan masalah negara. Sebagian besar pemilih hanya diberi pilihan di antara mereka yang mendapat dukungan kuat dari partai besar, yang mengutamakan popularitas daripada kemampuan yang sesungguhnya.
Dalam sistem yang lebih mengutamakan popularitas, rakyat tidak diberi banyak pilihan yang seimbang. Pemilu seharusnya memberi kesempatan kepada rakyat untuk memilih pemimpin berdasarkan kualitas dan kemampuan mereka, tetapi dalam kenyataannya. Pemilih sering kali terjebak dalam pilihan yang lebih mengutamakan ketenaran dan pencitraan daripada kualitas kepemimpinan. Rakyat lebih memilih calon yang familiar, yang sering kali dipromosikan oleh partai besar atau media sosial. Daripada yang memiliki kapasitas untuk memimpin dengan baik.
Solusi: Menerapkan Seleksi Berdasarkan Kapasitas, Bukan Popularitas
Untuk mengatasi masalah ini, Indonesia perlu reformasi dalam cara memilih pemimpin. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah dengan menerapkan model demokrasi berjenjang. Dalam sistem ini, lembaga negara yang kredibel melakukan seleksi terhadap calon pemimpin dengan menilai kapasitas dan kompetensi mereka terlebih dahulu. Proses ini akan memastikan bahwa calon pemimpin yang terpilih benar-benar memiliki kualitas dan kemampuan yang diperlukan untuk memimpin negara dengan baik.
Demokrasi Berjenjang: Menjamin Pemimpin yang Memiliki Kompetensi
Model demokrasi berjenjang memastikan bahwa calon pemimpin yang dipilih oleh rakyat telah melewati seleksi yang ketat berdasarkan kemampuan dan integritas. Proses seleksi dilakukan oleh lembaga negara yang memiliki kredibilitas untuk menilai kualitas calon pemimpin. Setelah seleksi ini, calon pemimpin yang memenuhi syarat akan diserahkan kepada rakyat untuk memilih, namun dengan pilihan yang lebih berkualitas. Dengan cara ini, rakyat dapat memilih pemimpin yang tidak hanya populer. Tetapi juga kompeten dan memiliki integritas yang diperlukan untuk memimpin negara.
Mengembalikan Kedaulatan Rakyat: Memperkuat Demokrasi dengan Pemilihan Berdasarkan Kualitas
Dengan sistem demokrasi berjenjang, kedaulatan rakyat dapat dipulihkan kembali. Rakyat akan diberikan lebih banyak pilihan yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan negara. Proses seleksi yang lebih transparan dan berbasis pada kapasitas kepemimpinan akan memastikan bahwa pemimpin yang terpilih benar-benar memenuhi standar yang dibutuhkan untuk memimpin negara. Hal ini akan memperbaiki kualitas demokrasi Indonesia, yang selama ini lebih dipengaruhi oleh popularitas daripada oleh kualitas calon pemimpin.
Penutupan
Kepemimpinan berbasis popularitas mengurangi kualitas demokrasi, dengan memilih pemimpin berdasarkan ketenaran, bukan kompetensi atau integritas. Untuk memperbaiki sistem ini, penerapan sistem demokrasi berjenjang yang berbasis pada kualitas dan kemampuan calon pemimpin sangat diperlukan. Dengan demikian, Indonesia akan memiliki pemimpin yang benar-benar mampu menjalankan tugasnya dan membawa negara menuju kemajuan.



