By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Friday, 9 January 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Pemerintah Gagal Paham Fungsinya: Dari Pelayan Rakyat Menjadi Tuan Kekuasaan
Pemerintah

Pemerintah Gagal Paham Fungsinya: Dari Pelayan Rakyat Menjadi Tuan Kekuasaan

Diajeng Maharani
Last updated: January 5, 2026 12:22 pm
By Diajeng Maharani
Share
4 Min Read
SHARE

Oleh: Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP
Ketua Umum IWPI, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan X Institute

“Sedemikian kaya rayanya bangsa Indonesia, sehingga lima tahun sekali mereka memilih sejumlah orang, dengan tugas memerintah mereka. Orang-orang pilihan itu dilantik, digaji, disiapkan semua fasilitas untuk memerintah.” — Emha Ainun Nadjib

Contents
Government Bukan Negara, Pemerintah Bukan PemilikDari Mandat Menjadi KepemilikanGood Governance yang Tinggal SloganKembali ke Posisi yang Benar

Kutipan Cak Nun tersebut bukan sekadar sindiran sastra, melainkan kritik mendasar terhadap cara negara ini memahami kekuasaan. Dalam kalimat yang sederhana namun telak, Cak Nun mengingatkan satu fakta yang kerap dilupakan: pemerintah adalah pihak yang digaji rakyat, bukan sebaliknya. Namun dalam praktik ketatanegaraan Indonesia hari ini, relasi itu justru terbalik.

Alih-alih bertindak sebagai pelayan yang menjalankan mandat, pemerintah kerap tampil sebagai penguasa yang merasa memiliki negara. Kritik publik dianggap ancaman, pengawasan dipersepsikan sebagai pembangkangan, dan rakyat diposisikan sebagai objek kebijakan, bukan subjek kedaulatan.

Masalah utamanya bukan sekadar soal moral pejabat, melainkan kegagalan memahami perbedaan mendasar antara government dan governance.

Government Bukan Negara, Pemerintah Bukan Pemilik

Secara konseptual, government merujuk pada orang dan lembaga yang memegang jabatan kekuasaan: presiden, menteri, DPR, birokrasi, dan seluruh aparat negara. Mereka bersifat sementara, berganti secara periodik, dan keberadaannya sepenuhnya bergantung pada mandat rakyat.

Sebaliknya, governance adalah cara kekuasaan itu dijalankan. Ia menyangkut proses, etika, transparansi, partisipasi publik, serta akuntabilitas. Negara yang sehat tidak diukur dari siapa yang berkuasa, tetapi dari bagaimana kekuasaan dijalankan.

You Might Also Like

BGN Ajak Bertani, Partai X: Bahan Pangan Tak Bisa Jadi Proyek!
Yusril Dorong Hukum Nasional, Partai X: Supaya Keadilan Tak Jadi Milik Segelintir!
Prabowo Sebut Lapangan Kerja Besar, Partai X: Kerja Rakyat Malah Semakin Berat!
Pemerintah Bicara Pro-Rakyat, Kebijakan Bicara Pro-Pejabat

Persoalan Indonesia hari ini adalah ketika government merasa identik dengan negara, lalu menggunakan kekuasaan negara untuk melanggengkan kepentingannya sendiri. Kritik dipersempit menjadi ujaran kebencian, oposisi dicurigai sebagai musuh, dan kebijakan dipaksakan atas nama “kepentingan nasional” tanpa ruang deliberasi yang memadai.

Dalam situasi seperti ini, governance runtuh, meskipun government tampak kuat.

Dari Mandat Menjadi Kepemilikan

Kutipan Cak Nun menyentil mentalitas feodal yang masih mengakar: jabatan diperlakukan sebagai hak milik, bukan amanah. Padahal secara etis dan konstitusional, pemerintah hanyalah kontraktor publik yang dikontrak rakyat melalui pemilu. Mereka digaji dari pajak, difasilitasi oleh negara, dan diberi kewenangan terbatas untuk mengelola urusan bersama.

Ketika pemerintah lupa bahwa dirinya “orang gajian”, lahirlah kebijakan-kebijakan yang jauh dari kebutuhan rakyat. Program dibuat besar-besaran, anggaran digelontorkan, tetapi suara publik dikesampingkan. Partisipasi diganti dengan sosialisasi satu arah. Pengawasan dianggap gangguan stabilitas.

Di titik inilah kritik Cak Nun menemukan relevansinya: pemerintah gagal paham fungsinya sendiri.

Good Governance yang Tinggal Slogan

Selama bertahun-tahun, istilah good governance dielu-elukan dalam dokumen resmi negara. Namun dalam praktik, prinsip-prinsip dasarnya transparansi, akuntabilitas, partisipasi, dan keadilan kerap dikorbankan demi kecepatan politik dan kepentingan kekuasaan.

Ketika rakyat mempertanyakan kebijakan, yang muncul bukan dialog, melainkan pembenaran. Ketika akademisi mengkritik, yang terjadi justru pembungkaman. Serta ketika masyarakat sipil mengawasi, mereka dicurigai punya agenda tersembunyi.

Padahal dalam negara demokratis, kritik adalah bagian dari tata kelola, bukan ancaman bagi pemerintah.

Kembali ke Posisi yang Benar

Tulisan ini bukan ajakan untuk membenci pemerintah, melainkan mengembalikan pemerintah ke posisi yang benar. Negara bukan milik pejabat, kekuasaan bukan hak istimewa, dan rakyat bukan beban yang harus diatur, apalagi ditundukkan.

Seperti diingatkan Cak Nun, pemerintah ada karena rakyat menggajinya. Maka sudah semestinya pemerintah bekerja dengan rendah hati, terbuka terhadap kritik, dan sadar bahwa legitimasi mereka bukan berasal dari kekuasaan itu sendiri, melainkan dari kepercayaan publik.

Jika pemerintah terus gagal memahami fungsinya, maka krisis bukan hanya soal kebijakan, tetapi krisis makna tentang apa itu negara dan untuk siapa kekuasaan dijalankan.

Dan dalam krisis semacam itu, rakyat berhak bertanya: siapa sebenarnya yang sedang memerintah siapa?

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Krisis Keadilan: Rakyat Diminta Relokasi, Investor Diberi Karpet Merah
Next Article Korupsi dan Oligarki: Penghalang Keadilan di Indonesia

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025
Ekonomi

Heboh Seruan Tarik Dana dari Bank Karena Danantara, Partai X Soroti Transparansi

February 24, 2025

You May also Like

Pemerintah

Pertalite Tercampur Biosolar, SPBU Disanksi, Partai X: Sampai Kapan BBM Rakyat Jadi Korban Kelalaian Korporasi?

August 7, 2025
Pemerintah

Purbaya Rancang Strategi, Partai X: Utang Negara Harus Dituntaskan, Bukan Diatur!

November 10, 2025
#IndonesiaGelap Trending, Partai X Ungkap Fakta Mengejutkan!
Pemerintah

Tagar Indonesia Gelap Trending, Partai X Ungkap Fakta Mengejutkan!

March 7, 2025
Pemerintah

Saksi Terima Rp 500 Juta dari Penyedia Chromebook, Korupsi Harus Diusut!

January 8, 2026
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Hot
  • Politics
  • Renewable Energy
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.