beritax.id – Indonesia krisis bukan sekadar jargon pesimistis, melainkan potret nyata yang kian dirasakan oleh kelas menengah. Di tengah klaim pemerintah tentang stabilitas ekonomi dan peningkatan kesejahteraan, jutaan keluarga kelas menengah justru mengalami penurunan kualitas hidup secara perlahan namun pasti. Biaya hidup meningkat, pendapatan stagnan, dan perlindungan sosial semakin menjauh dari mereka yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
Pemerintah kerap menyampaikan bahwa ekonomi nasional berada dalam kondisi sehat. Namun di balik narasi tersebut, kelas menengah menghadapi tekanan berlapis: cicilan rumah dan kendaraan membengkak, biaya pendidikan melonjak, serta pajak dan iuran terus bertambah. Mereka tidak cukup miskin untuk menerima bantuan, tetapi tidak cukup kuat untuk bertahan dari guncangan ekonomi.
Terjepit Tanpa Perlindungan Negara
Berbeda dengan kelompok miskin yang masih masuk skema bantuan sosial, kelas menengah justru berada di wilayah abu-abu kebijakan. Negara seolah menganggap mereka sudah “aman”, padahal kenyataannya banyak yang perlahan tergelincir menuju kerentanan ekonomi. Satu krisis kesehatan atau kehilangan pekerjaan saja cukup untuk menjatuhkan mereka.
Fokus pemerintah pada indikator makro seperti pertumbuhan ekonomi dan investasi telah mengaburkan krisis sosial yang berkembang di lapisan masyarakat. Ketika angka-angka dijadikan alat legitimasi, suara kelas menengah yang tertekan justru tidak terdengar dalam perumusan kebijakan publik.
Tanggapan Prayogi R. Saputra: Negara Tak Boleh Menutup Mata
Anggota Majelis Tinggi Partai X sekaligus Direktur X Institute, Prayogi R. Saputra, menilai situasi ini sebagai tanda kegagalan negara membaca denyut kehidupan rakyat.
“Jika pemerintah terus mengklaim sejahtera sementara kelas menengah jatuh perlahan, maka ada krisis kejujuran dalam kebijakan publik. Negara tidak boleh bersembunyi di balik statistik,” tegas Prayogi.
Ia kembali mengingatkan fungsi dasar negara yang tidak boleh diabaikan.
“Tugas negara itu tiga: melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat. Kelas menengah hari ini justru tidak dilindungi, tidak dilayani, dan hanya diatur untuk menanggung beban,” lanjutnya.
Kelas Menengah Melemah, Ekonomi Nasional Terancam
Prayogi menambahkan bahwa melemahnya kelas menengah bukan persoalan individu, melainkan ancaman struktural bagi ekonomi nasional. Tanpa kelas menengah yang kuat, konsumsi melemah, stabilitas sosial terganggu, dan ketimpangan akan semakin dalam.
“Negara yang membiarkan kelas menengah runtuh sedang menyiapkan krisis jangka panjang,” ujarnya.
Solusi: Menyelamatkan Kelas Menengah, Menyelamatkan Indonesia
Untuk mencegah krisis yang lebih dalam, diperlukan langkah kebijakan yang berpihak nyata pada kelas menengah:
- Menjadikan perlindungan kelas menengah sebagai prioritas kebijakan ekonomi
- Meringankan beban pajak dan iuran yang menekan pendapatan riil
- Menjamin akses terjangkau terhadap pendidikan, kesehatan, dan perumahan
- Menciptakan lapangan kerja berkualitas, bukan sekadar statistik serapan tenaga kerja
- Menyusun kebijakan berbasis realitas sosial, bukan sekadar narasi pertumbuhan
Indonesia tidak kekurangan potensi, tetapi sedang kekurangan keberanian untuk mengakui krisis yang dialami rakyatnya. Selama pemerintah lebih sibuk mempertahankan klaim sejahtera daripada menyelamatkan kelas menengah yang jatuh perlahan, maka Indonesia krisis akan terus menjadi kenyataan, bukan sekadar peringatan.



