By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Friday, 1 May 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Sistem Presidensial Menghancurkan: Dari Sistem ke Krisis Sistemik
Pemerintah

Sistem Presidensial Menghancurkan: Dari Sistem ke Krisis Sistemik

Diajeng Maharani
Last updated: April 30, 2026 2:39 pm
By Diajeng Maharani
Share
8 Min Read
Sistem presidensial menghancurkan
SHARE

beritax.id – Di Indonesia, banyak orang masih merasa bahwa negara kita tidak menuju arah yang buruk. Pemilu tetap ada, pembangunan berjalan, dan infrastruktur seperti jalan tol serta bandara baru terus muncul. Namun, ketika melihat kondisi yang lebih mendalam, menggunakan parameter Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), gambaran yang muncul jauh lebih mengkhawatirkan. Sistem presidensial menghancurkan upaya untuk mengelola masalah-masalah mendasar seperti ketimpangan anggaran dan ketergantungan pada utang luar negeri, karena konsentrasi kekuasaan yang terpusat pada satu figur menghambat pengambilan keputusan yang lebih inklusif dan berfokus pada kesejahteraan rakyat, menjadikan proyek besar yang tidak langsung menguntungkan masyarakat lebih diutamakan daripada sektor vital seperti pendidikan dan kesehatan.

Laporan PBB melalui UNCTAD berjudul A New World of Debt 2025 mengungkapkan tren yang mencemaskan: di banyak negara berkembang, pembayaran bunga utang tumbuh jauh lebih cepat daripada anggaran untuk pendidikan dan kesehatan. Dalam beberapa kasus, bunga utang bahkan mengalahkan anggaran untuk dua sektor vital tersebut.

Celios (Center of Economic and Law Studies) menghitung bahwa sepanjang 2015–2025, belanja bunga utang Indonesia lebih besar daripada anggaran kesehatan. Pada 2024, rasio beban bunga utang terhadap anggaran kesehatan sempat menyentuh 266%, dan diperkirakan tetap sekitar 253% pada 2025. Dibandingkan anggaran pendidikan, bunga utang mencapai sekitar 85% pada 2024 dan 76,3% pada 2025.

Sekjen PBB António Guterres menyatakan, negara yang lebih banyak membayar bunga utang daripada untuk sektor pendidikan dan kesehatan merupakan indikasi kegagalan sistemik. Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios, menegaskan bahwa dengan parameter tersebut, Indonesia bisa dianggap sebagai negara gagal secara sistemik. Itu terjadi karena utang pemerintah tidak berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan rakyat.

Menghadapi kenyataan ini, pertanyaannya bukan lagi “Apakah Indonesia menuju negara gagal?” tetapi “Kenapa sistem negara kita memproduksi kegagalan seperti ini, meskipun ekonomi terus berjalan?”

Desain Sistem Pemerintahan yang Sehat

Sebelum mencari siapa yang disalahkan, mari kita telaah desain sistem pemerintahan yang sehat. Baik di perusahaan, lembaga publik, maupun negara, ada tiga organ utama yang perlu diperhatikan:

You Might Also Like

Hak Anak Diabaikan, Partai X Minta Penguatan Tanggung Jawab Orang Tua
Pejabat Klaim Ekonomi Indonesia Tumbuh, Risiko Dialihkan ke Rakyat
Redenominasi Butuh Rp5 Triliun, Partai X: Jangan Mainkan Uang Rakyat!
Daur Ulang Pancasila agar Tidak Tinggal Seremonial dan Poster
  1. Organ No.1 – Pengambil Keputusan Tertinggi
    Organ ini adalah simbol kedaulatan dan penjaga konstitusi. Tugas utama Organ No.1 adalah menjaga keseimbangan kekuasaan, bukan mengurusi hal teknis harian. Organ No.1 harus mengawasi arah negara, bukan memegang cangkul setiap hari.
  2. Organ No.2 – Pengurus atau Pelaksana
    Organ ini berfungsi sebagai manajemen eksekutif yang menyusun dan menjalankan kebijakan negara, mengelola birokrasi, dan memimpin kabinet. Tugasnya adalah memastikan pemerintahan berjalan dengan lancar, sesuai dengan tujuan negara.
  3. Organ No.3 – Pengawas atau Dewan Kontrol
    Organ ini berfungsi sebagai pengawas, memastikan bahwa Organ No.2 tidak menyimpang dan Organ No.1 tetap dihormati. Organ No.3 meliputi parlemen, lembaga audit, badan pemeriksa, dan sistem hukum, berfungsi untuk mengoreksi penyalahgunaan kekuasaan.

Ketiga organ ini harus terpisah agar tidak ada satu pihak yang dapat membuat aturan, mengeksekusi, dan mengawasi dirinya sendiri. Desain ini penting agar organisasi tetap berfungsi meskipun orang-orang di dalamnya berganti.

Masalah Utama: Presidensialisme Menyatukan Organ No.1 dan No.2

Indonesia menganut sistem pemerintahan presidensial. Namun, dalam praktiknya, sistem ini menggabungkan dua organ yang seharusnya terpisah:

  • Presiden sebagai Kepala Negara (Organ No.1)
  • Presiden sebagai Kepala Pemerintahan (Organ No.2)

Dengan penyatuan dua peran ini, satu figur yang sama memegang banyak kekuasaan: sebagai simbol kedaulatan dan penjaga konstitusi, sekaligus pelaksana teknis harian dan pengendali birokrasi. Ini adalah cacat desain dalam sistem pemerintahan.

Tidak ada organisasi modern yang sehat yang menggabungkan peran pemilik legitimasi tertinggi dengan pelaksana teknis harian dalam satu individu. Ketika Organ No.1 dan No.2 digabungkan, tercipta jalur kekuasaan tunggal yang sulit untuk dikontrol, terutama jika Organ No.3 lemah atau hanya sekadar simbol.

Konsentrasi Kekuasaan: Jalan Menuju Negara Gagal

Penyatuan peran Presiden sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan memiliki konsekuensi serius:

  • Presiden menentukan arah dan kebijakan negara
  • Presiden mengendalikan birokrasi dan pemerintahan negara
  • Presiden mengakses anggaran, utang, dan program populis
  • Kritik terhadap pemerintah kadang dianggap sebagai kritik terhadap negara

Itulah yang disebut dengan konsentrasi kekuasaan, di mana negara menjadi identik dengan figur presiden. Ini menghasilkan kebijakan fiskal yang sering terjebak dalam populisme utang, demi menjaga citra dan elektabilitas, sementara sektor-sektor penting seperti kesehatan dan pendidikan terabaikan. Selain itu, ruang untuk koreksi menjadi sempit karena kritik dianggap sebagai ancaman terhadap stabilitas.

Negara Maju Memisahkan Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan

Jika kita melihat negara dengan demokrasi yang stabil seperti Belanda, Inggris, Jepang, dan Kanada, pola yang muncul cukup jelas:

  • Ada Kepala Negara yang netral (raja/ratu atau presiden seremonial), yang menjadi simbol kontinuitas dan kedaulatan.
  • Ada Kepala Pemerintahan (perdana menteri) yang memimpin kekuasaan harian, yang dapat diganti melalui pemilu atau mosi tidak percaya.

Pemisahan peran ini memungkinkan kebijakan jangka panjang tidak terfokus pada siklus pemilu lima tahunan. Selain itu, krisis pemerintahan dapat diredam tanpa mengguncang legitimasi negara secara keseluruhan. Negara-negara ini juga memiliki kontrol struktural yang lebih banyak, yang mencegah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.

Presidensialisme Rentan Terhadap Krisis

Berdasarkan kajian ilmiah, Juan J. Linz, seorang ilmuwan politik dari Yale University, telah lama mengingatkan tentang bahaya sistem presidensial. Sistem ini lebih rentan terhadap krisis, terutama di negara yang masyarakat dan partainya terbelah. Pola yang sering muncul dalam sistem presidensial adalah:

  • Pemilu presiden yang bersifat zero-sum, menciptakan polarisasi tajam
  • Konflik antara eksekutif dan legislatif yang mudah buntu, keduanya sama-sama membawa legitimasi rakyat
  • Presiden cenderung menggunakan anggaran dan utang untuk menjaga popularitas, bukan memperkuat institusi jangka panjang

Realitas Indonesia, dengan utang yang membengkak dan bunga utang yang menggerus anggaran publik, menunjukkan bahwa desain sistem presidensial justru memperburuk kondisi ini.

Indonesia: Bangunan Besar dengan Pondasi Retak

Indonesia sering disebut sebagai “negara besar dengan potensi luar biasa.” Namun, potensi ini disandarkan pada pondasi yang retak:

  • Penyatuan Organ No.1 dan No.2 dalam satu jabatan presiden
  • Pengawasan yang lemah (Organ No.3)
  • Ketergantungan pada utang sebagai instrumen kekuasaan
  • Belanja bunga utang yang mengalahkan sektor dasar seperti kesehatan dan pendidikan

Jika kita melihat data PBB dan Celios, sulit untuk tidak menyimpulkan bahwa Indonesia sedang menuju negara gagal secara sistemik.

Solusi: Memperbaiki Desain Sistem Pemerintahan

Untuk mengatasi masalah ini, beberapa langkah yang perlu dipertimbangkan antara lain:

  1. Pemisahan Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan
    Pemisahan ini penting untuk menghindari konsentrasi kekuasaan dalam satu figur.
  2. Penguatan Pengawasan Negara
    Lembaga pengawas seperti parlemen dan badan audit perlu diperkuat untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas.
  3. Pendidikan dan Kesehatan Sebagai Prioritas
    Anggaran negara harus lebih diprioritaskan untuk sektor pendidikan dan kesehatan daripada untuk membayar bunga utang.
  4. Mengurangi Ketergantungan pada Utang
    Negara harus mencari cara untuk mengurangi ketergantungan pada utang, dan memprioritaskan kebijakan fiskal yang berkelanjutan.

Tanggapan dari Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan

Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan, menegaskan bahwa tugas negara adalah melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat. Negara harus memastikan kesejahteraan rakyat, bukan mempertahankan citra kekuasaan.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Harga Minyak, Gula, dan Beras Naik, Ingatkan Jangan Bebani Rakyat!
Next Article 1.700 SPPG Dihentikan, Prioritaskan Kepentingan Konsumen dan Petani

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Ketua DPR Tegaskan Kampus untuk Pendidikan, Tegaskan Keadilan untuk Rakyat

April 28, 2026
Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025

You May also Like

Pemerintah

Kontroversi Lahan Sawit Aceh, Partai X Minta Kajian Ulang

December 9, 2025
Seputar Pajak

Tuntutan Transparansi Pajak Menguat, Pemerintah Justru Menghindar

December 17, 2025
Pemerintah

Rp 335 Triliun untuk MBG, Partai X: Uang Rakyat, Harus Nyata!

October 10, 2025
Pemerintah

Ilmu Negara Itu Wajib: Ketika Warga Negara Diberdayakan untuk Berpartisipasi dalam Pembangunan

April 2, 2026
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.