HELSINKI, FINLANDIA – Menjembatani dua dunia yang seolah berbeda mutlak membutuhkan medium yang digerakkan oleh ketulusan. Musik dan kebudayaan adalah medium tersebut. Untuk menyaksikan langsung arena bertemunya dua peradaban melalui kebudayaan, para pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan menyempatkan diri mengeksplorasi Gereja Munkkiniemi di Helsinki, Finlandia, yang menyimpan memori manis tentang diplomasi perdamaian Indonesia di kancah Eropa.

Rombongan riset sejarah yang menelusuri kawasan Munkkiniemi ini beranggotakan Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, dan CEO Enygma Erick Karya. Eksplorasi mereka ditemani oleh perwakilan diaspora Indonesia di Finlandia, Wiwik H, yang memberikan konteks sosiologis mengenai bagaimana masyarakat lokal merawat ruang-ruang peribadatan dan fasilitas publik mereka dengan penuh kedamaian.
Langkah delegasi di dalam gereja tersebut langsung memutar kembali ingatan ke tahun 2007. Di ruangan yang didominasi warna putih bersih inilah, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) bersama gamelan Kiai Kanjeng pernah menggetarkan hati publik Eropa. Pentas tersebut bukanlah sekadar pertunjukan kesenian, melainkan misi diplomasi kebudayaan tingkat tinggi untuk merajut kerukunan antaragama di tengah meningkatnya ketegangan global pada dekade tersebut.
Puncak dari memori kolektif tersebut adalah sebuah foto fenomenal yang beredar luas di Indonesia: potret Cak Nun dan Kiai Kanjeng yang sedang khusyuk mementaskan musik spiritual dengan latar belakang altar bertembok putih dan sebuah salib di belakangnya. Tidak ada benturan teologis dalam gambar tersebut; yang ada hanyalah saling penghormatan tingkat tinggi antara tuan rumah yang menyediakan ruang sucinya, dan tamu yang membawa doa-doa kedamaian dari tradisinya.
Bagi Direktur Sekolah Negarawan, Prayogi R. Saputra, pemandangan historis ini adalah referensi otentik bagi kurikulum kepemimpinan nasional. Berakar pada pemikiran kenegaraan Cak Nun, Prayogi mengingatkan bahwa Indonesia dibangun di atas fondasi kebinekaan yang sangat rapuh jika hanya diikat oleh hukum formal (prosedural). Diperlukan keluhuran budi dan empati substansial sebagaimana dicontohkan dalam pentas Munkkiniemi agar bangsa yang majemuk ini tidak mudah dipecah belah oleh provokasi.
Wakil Direktur Rinto Setiyawan menambahkan bahwa keberhasilan diplomasi budaya tahun 2007 itu tak lepas dari karakter egaliter warga Finlandia. Wiwik H membenarkan bahwa masyarakat Nordik sangat menghargai otentisitas; mereka menyambut Kiai Kanjeng karena melihat kejujuran dan kedalaman nilai yang dibawakan. Pelajaran ini menegaskan bahwa untuk dihormati di pergaulan internasional, bangsa Indonesia harus tampil dengan kepribadian kebudayaannya sendiri, bukan dengan meniru budaya bangsa lain.
Menerjemahkan kearifan tersebut ke era disrupsi, CEO Enygma, Erick Karya, memaparkan pentingnya etika integrasi dalam tata kelola teknologi. Platform Artificial Intelligence (AI) Enygma yang diintrodusir oleh Sekolah Negarawan bertugas untuk menjahit mahadata (big data) kependudukan Indonesia yang sangat beragam. Algoritma kebangsaan yang sedang dibangun ini harus dipastikan bekerja layaknya orkestrasi gamelan Kiai Kanjeng—merangkul berbagai perbedaan instrumen data untuk menghasilkan harmoni kebijakan publik yang menyejahterakan seluruh rakyat tanpa diskriminasi.
Penelusuran jejak peradaban di Finlandia ini melengkapi puzel besar ekspedisi Sekolah Negarawan di 12 negara lintas benua selama dua tahun terakhir. Kekayaan empiris dari kawasan Nordik, negara digital Estonia, Eropa Barat, Turkiye, Persia, dan Asia Tenggara ini terus dikelola menjadi energi pencerahan yang didiseminasikan secara simultan di seantero negeri, menjangkau ruang-ruang akademik dan publik dari Medan hingga kepulauan Ternate dan Tidore.



