QOM, IRAN — Sekolah Negarawan melanjutkan rangkaian kunjungan pengenalan budaya dan peradaban Islam di Iran dengan mengunjungi sejumlah situs penting di Kota Qom. Dalam kunjungan tersebut, para peserta diajak mengenal lebih dekat kehidupan keagamaan, sejarah, arsitektur, serta tradisi intelektual yang berkembang dalam masyarakat Islam Persia.
Tiga lokasi menjadi bagian utama dari agenda kunjungan, yakni Masjid Jamkaran, rumah Imam Khomeini, dan kompleks Sayyidah Fatimah Ma’sumah.
Kunjungan ini dirancang bukan sekadar sebagai wisata sejarah, tetapi sebagai bagian dari upaya memperluas perspektif peserta Sekolah Negarawan mengenai keragaman dunia Islam, khususnya tradisi Islam yang berkembang di Persia.
Mengenal Masjid Jamkaran
Perjalanan diawali dengan mengunjungi Masjid Jamkaran. Rombongan Sekolah Negarawan disambut oleh pengelola Masjid Jamkaran yang kemudian memberikan penjelasan mengenai masjid dan berbagai hal yang berkaitan dengan keberadaannya.
Bagi para peserta, kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung salah satu ruang keagamaan yang memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat setempat.
Interaksi dengan pengelola masjid juga memberikan pengalaman berbeda dibandingkan sekadar memperoleh informasi dari buku atau sumber digital. Peserta dapat berdialog dan mendapatkan penjelasan langsung mengenai tempat yang mereka kunjungi.
Dari sini, peserta Sekolah Negarawan diajak melihat bahwa memahami dunia Islam membutuhkan pengalaman langsung dan keterbukaan terhadap berbagai tradisi yang tumbuh di dalamnya.
Menelusuri Rumah Imam Khomeini

Dari Masjid Jamkaran, rombongan kemudian mengunjungi rumah Imam Khomeini.
Di lokasi tersebut, rombongan disambut oleh pengelola rumah Imam Khomeini. Para peserta mendapatkan penjelasan mengenai kehidupan Imam Khomeini, termasuk berbagai aspek kehidupan beliau yang tercermin dari rumah yang pernah ditempatinya.
Menariknya, penjelasan tidak hanya berkaitan dengan sosok Imam Khomeini, tetapi juga menyentuh aspek arsitektur rumah tersebut.
Peserta diajak melihat bagaimana sebuah bangunan dapat menjadi bagian dari narasi sejarah. Rumah tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang yang menyimpan cerita mengenai kehidupan seseorang dan konteks sosial pada zamannya.
Pengalaman tersebut memberikan perspektif bahwa sejarah tidak selalu harus dipelajari melalui teks. Ruang, bangunan, dan peninggalan sejarah juga dapat menjadi sumber pembelajaran yang mempertemukan peserta dengan masa lalu secara lebih konkret.

Mengenal Kompleks Sayyidah Fatimah Ma’sumah
Kunjungan kemudian dilanjutkan ke kompleks Sayyidah Fatimah Ma’sumah, yang dalam tradisi Syiah Imamah dikenal sebagai saudari Imam ke-8.
Di kompleks tersebut, rombongan kembali mendapatkan sambutan dari pihak pengelola. Peserta kemudian diajak berkeliling kompleks sembari memperoleh penjelasan mengenai berbagai bagian dan sejarah kompleks Sayyidah Fatimah Ma’sumah.
Kunjungan ini menjadi bagian penting dalam upaya Sekolah Negarawan memahami salah satu tradisi keagamaan yang berkembang kuat di Iran.
Dengan melihat langsung kompleks keagamaan dan mendengarkan penjelasan dari pengelolanya, peserta memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai bagaimana agama, sejarah, budaya, dan kehidupan sosial saling berkelindan dalam masyarakat Persia.
Memperluas Cara Pandang tentang Dunia Islam
Rangkaian kunjungan tersebut menjadi bagian dari program pengenalan budaya Sekolah Negarawan selama berada di Iran.
Program ini memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar mengenalkan tempat-tempat bersejarah. Peserta didorong untuk melihat dunia Islam dari perspektif yang lebih luas dan memahami bahwa dunia Islam memiliki keragaman tradisi, sejarah, budaya, dan pengalaman sosial.
Persia, dengan sejarah peradaban Islamnya yang panjang, menawarkan perspektif yang berbeda bagi peserta yang selama ini lebih banyak mengenal dunia Islam melalui pengalaman di Indonesia.
Pertemuan langsung dengan pengelola situs-situs keagamaan dan sejarah juga membuka ruang dialog yang memungkinkan peserta belajar dari masyarakat dan institusi lokal.
Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman semacam ini penting dalam membentuk calon-calon negarawan yang tidak hanya memiliki pengetahuan tentang Indonesia, tetapi juga mampu memahami dunia dan keragaman masyarakat global.
Pada akhirnya, perjalanan tersebut bukan hanya tentang mengunjungi tiga tempat di Qom.
Lebih dari itu, perjalanan tersebut merupakan upaya untuk membangun jembatan pemahaman antara Indonesia dan Persia melalui pengalaman, dialog, dan pengenalan budaya secara langsung.
Dengan mengenal lebih dekat sejarah dan tradisi masyarakat lain, peserta Sekolah Negarawan diharapkan semakin terbuka dalam melihat dunia Islam sekaligus semakin mampu menempatkan Indonesia dalam konteks pergaulan dunia yang lebih luas.



