beritax.id — Reformasi birokrasi digital bukan sekadar jargon modernisasi. Ini adalah langkah mendasar untuk membangun pemerintahan yang bersih, transparan, dan akuntabel. Selama ini, birokrasi sering menjadi ruang gelap tempat inefisiensi dan penyalahgunaan wewenang bersembunyi. Digitalisasi diharapkan memutus rantai tersebut. Namun, efektivitasnya bergantung pada integritas manusia di balik sistem.
Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan, menegaskan bahwa tugas negara itu tiga: melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat. Tiga prinsip ini harus menjadi fondasi dalam setiap kebijakan digitalisasi birokrasi agar tujuan utamanya, yakni kesejahteraan rakyat, benar-benar tercapai.
Tantangan Reformasi Birokrasi
Digitalisasi birokrasi masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari resistensi aparatur hingga ketimpangan infrastruktur. Banyak instansi belum siap secara mental maupun teknis untuk beralih ke sistem digital yang transparan dan terbuka. Selain itu, mentalitas lama yang memandang jabatan sebagai alat kekuasaan masih melekat kuat di sebagian kalangan birokrat.
Menurut Rinto, reformasi birokrasi tidak akan bermakna jika hanya mengganti alat tanpa mengganti perilaku. “Birokrasi digital harus menjadi alat untuk mengembalikan kepercayaan publik kepada pemerintah. Sistemnya boleh canggih, tapi jika mentalnya korup, maka hasilnya nihil,” tegasnya.
Prinsip Partai X: Negara Melayani, Bukan Menguasai
Berdasarkan prinsip Partai X dalam dokumen resmi, negara bukan rezim, dan pemerintah bukan penguasa. Pemerintah hanyalah sebagian kecil rakyat yang diberi kewenangan untuk melayani dan mengatur dengan transparansi. Digitalisasi birokrasi harus mencerminkan semangat ini pelayanan yang cepat, terbuka, dan berpihak pada rakyat, bukan pada kepentingan pejabat.
Reformasi digital juga harus memastikan bahwa pemerintah dapat menjalankan kewenangan secara efektif, efisien, dan transparan sebagaimana makna negara menurut Partai X. Tujuan akhirnya adalah keadilan dan kesejahteraan rakyat, bukan efisiensi administratif semata.
Solusi Partai X: Dari Sistem Manual Menuju Tata Kelola Modern
Partai X menawarkan solusi konkret melalui Transformasi Birokrasi Digital, salah satu dari 10 poin penyembuhan bangsa:
- Membangun sistem digital nasional yang terintegrasi antar-lembaga untuk mencegah manipulasi data dan praktik korupsi.
- Memastikan setiap pelayanan publik memiliki dashboard keterbukaan informasi yang bisa diakses rakyat secara real-time.
- Menyusun regulasi berbasis kepakaran, bukan kepentingan individu, agar tata kelola digital berjalan adil dan profesional.
- Memberikan pendidikan moral dan ideologi berbasis Pancasila bagi aparatur negara, agar teknologi digunakan dengan tanggung jawab.
- Membangun Dewan Pengawasan Digital independen untuk menjamin keamanan data dan akuntabilitas kebijakan publik.
Penutup: Menuju Pemerintahan Bersih dan Berkeadilan
Reformasi birokrasi digital bukan hanya agenda teknologi, tapi gerakan moral dan tanggung jawab. Sebagaimana ditegaskan oleh Partai X, Pancasila harus menjadi pedoman operasional, bukan sekadar slogan. Digitalisasi hanya akan membawa manfaat jika dijalankan dengan semangat pelayanan, bukan kekuasaan.
Rinto Setiyawan menutup pernyataannya dengan tegas “Negara yang melayani adalah negara yang modern. Dan birokrasi yang bersih hanya lahir dari niat tulus untuk mengabdi kepada rakyat.”



