Oleh: Adv. Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP
Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan
beritax.id – Setiap kali bangsa ini berbicara mengenai perubahan, harapan publik hampir selalu diarahkan kepada kalangan penguasa. Presiden, menteri, anggota parlemen, pimpinan partai politik, hingga pejabat tinggi negara sering diposisikan sebagai pihak yang diharapkan mampu membawa pembaruan besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sebagian masyarakat percaya bahwa suatu hari akan muncul kesadaran dari para pemegang kekuasaan untuk memperbaiki sistem yang dianggap bermasalah. Harapan tersebut terdengar ideal dan menenangkan. Namun jika melihat perjalanan sejarah manusia, perubahan besar justru jarang lahir dari pihak yang paling menikmati keadaan yang sedang berjalan. Semakin nyaman seseorang berada di dalam suatu sistem, semakin kecil dorongan untuk mengubah sistem tersebut. Sebaliknya, pihak yang paling terdampak oleh kerusakan biasanya menjadi kelompok yang paling menginginkan perubahan.

Kemapanan Sering Menjadi Penghalang Perubahan
Dalam salah satu forum Maiyah, Cak Nun pernah menyampaikan kritik yang sangat tajam mengenai hubungan antara kekuasaan dan perubahan.
“Seseorang tidak akan memperjuangkan perubahan dari ketidakbenaran menjadi kebenaran ketika yang harus dipelihara adalah kemapanannya dalam ketidakbenaran.”
Pernyataan tersebut menjelaskan mengapa perubahan sering berjalan lambat meskipun kerusakan terlihat jelas di depan mata. Persoalannya bukan karena manusia tidak mengetahui adanya ketidakadilan atau penyimpangan. Banyak orang sebenarnya memahami bahwa ada sistem yang bermasalah. Namun keberanian untuk mengubah keadaan sering tidak muncul karena perubahan menuntut pengorbanan.
Bagi masyarakat kecil, harga perubahan mungkin berupa tenaga, waktu, dan perjuangan hidup. Tetapi bagi mereka yang berada di lingkaran kekuasaan, perubahan bisa berarti hilangnya fasilitas, berkurangnya pengaruh politik, bahkan berakhirnya kenyamanan yang selama ini dinikmati. Di sinilah konflik kepentingan mulai terlihat dengan jelas. Sulit mengharapkan pihak yang sedang menikmati keuntungan terbesar menjadi motor utama perubahan. Secara manusiawi, manusia cenderung mempertahankan sesuatu yang memberikan manfaat bagi dirinya.
Analogi sederhananya seperti sebuah rumah yang rusak di banyak bagian. Atap bocor, dinding retak, dan saluran air bermasalah. Sebagian besar penghuni merasakan dampaknya setiap hari. Namun ada satu ruangan yang sangat nyaman dan nyaris tidak terkena dampak kerusakan. Penghuni ruangan nyaman tersebut mungkin mengetahui bahwa rumah itu bermasalah. Akan tetapi dorongan untuk memperbaiki rumah tentu tidak akan sebesar dorongan para penghuni lain yang setiap hari terkena dampak langsung. Logika yang sama sering terjadi dalam kehidupan bernegara.
Ketika rakyat menghadapi tekanan ekonomi, pelayanan publik yang buruk, atau hukum yang terasa tidak adil, dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat. Namun sebagian elite yang berada di puncak kekuasaan tidak selalu mengalami tekanan yang sama. Akibatnya, kebutuhan rakyat dan kebutuhan elite sering kali berbeda. Rakyat membutuhkan perubahan karena merasakan akibat dari kerusakan sistem. Sebaliknya, sebagian pemegang kekuasaan lebih membutuhkan stabilitas karena sedang menikmati manfaat dari keadaan yang ada.
Pergantian Figur Tidak Selalu Mengubah Sistem
Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam kehidupan pemerintahan adalah terlalu besarnya harapan terhadap figur. Banyak orang percaya bahwa pergantian tokoh otomatis akan menyelesaikan persoalan bangsa. Padahal pengalaman menunjukkan bahwa pergantian orang tidak selalu mengubah keadaan. Hari ini satu tokoh diganti, besok muncul tokoh baru, tetapi persoalan yang sama tetap berulang dalam bentuk berbeda.
Hal tersebut terjadi karena akar masalahnya sering kali bukan pada individu semata, melainkan pada sistem yang melahirkan perilaku tersebut. Pergantian pemain tidak otomatis mengubah permainan. Pergantian pengemudi tidak otomatis memperbaiki kendaraan yang rusak. Adapun pergantian penghuni tidak otomatis memperbaiki rumah yang salah desain.
Figur terbaik sekalipun akan menghadapi keterbatasan ketika bekerja di dalam sistem yang bermasalah. Sebaliknya, sistem yang sehat mampu membatasi dampak buruk dari kelemahan manusia. Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya siapa yang sedang berkuasa, tetapi apakah sistem yang ada memang mendorong perubahan atau justru mempertahankan kemapanan.
Perubahan Besar Lahir dari Kesadaran Kolektif
Sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar hampir selalu lahir dari kesadaran masyarakat yang lebih luas. Perubahan terjadi ketika rakyat mulai memahami akar persoalan, bukan sekadar mengeluhkan gejalanya. Kesadaran tersebut muncul ketika masyarakat mulai menyadari bahwa banyak masalah bangsa tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengganti orang per orang. Akar persoalan sering berada pada desain sistem yang terus menghasilkan pola kerusakan yang sama.
Jika struktur kekuasaan memberikan keuntungan terlalu besar kepada kelompok tertentu, maka kelompok tersebut secara alamiah akan mempertahankannya. Karena itu, perubahan tidak bisa hanya menunggu kesadaran dari atas. Perubahan membutuhkan kesadaran dari bawah. Kesadaran bahwa sistem yang salah harus diperbaiki. Kesadaran bahwa masa depan bangsa tidak boleh terus bergantung pada kenyamanan segelintir pihak.
Membangun Kesadaran untuk Masa Depan Bangsa
Pernyataan Cak Nun mengenai kemapanan dalam ketidakbenaran sesungguhnya bukan sekadar kritik kepada individu tertentu. Pernyataan tersebut adalah ajakan agar masyarakat memahami realitas kekuasaan secara lebih jernih. Tidak semua pihak yang menikmati sistem akan rela mengubah sistem tersebut. Tidak semua pemegang kekuasaan akan dengan sukarela mengurangi kewenangan yang dimilikinya. Karena itu, harapan perubahan tidak boleh hanya bergantung pada kemurahan hati para penikmat keadaan.
Perubahan harus tumbuh dari kesadaran masyarakat yang memahami apa yang salah dan apa yang harus dibenahi. Sebab sejarah memberikan satu pelajaran penting bahwa sistem yang bermasalah jarang runtuh karena kesadaran para penikmatnya. Sistem berubah ketika semakin banyak orang menyadari bahwa keadaan tersebut tidak boleh terus dipertahankan. Dan ketika kesadaran kolektif itu tumbuh, perubahan tidak lagi menjadi permintaan kecil kepada kekuasaan. Perubahan berubah menjadi kebutuhan bersama demi membangun masa depan bangsa yang lebih adil, lebih sehat, dan lebih benar daripada keadaan hari ini.



