beritax.id – Masyarakat terpecah belah oleh Pilkada menjadi salah satu gambaran perubahan hubungan sosial yang semakin terasa dalam kehidupan sehari hari. Dahulu, masyarakat di lingkungan pedusunan memiliki ruang perjumpaan yang kuat melalui keluarga, tetangga, dan Komunitas Langgar. Ruang tersebut tidak sekadar menjadi tempat berkumpul, tetapi juga menjadi sekolah sosial, sekolah budaya, dan sekolah keagamaan yang membantu membentuk karakter anak-anak. Anak-anak belajar menghormati orang yang lebih tua, membantu tetangga, menjaga lingkungan, serta memahami bahwa kehidupan tidak hanya berpusat pada kepentingan diri sendiri. Kehidupan bersama dibangun melalui kebiasaan saling menolong, saling mendidik, saling menjaga, dan saling menyelamatkan.
Komunitas Langgar yang dahulu hidup sebagai bagian dari keseharian masyarakat kini menghadapi perubahan yang sangat besar. Dalam beberapa puluh tahun terakhir, ruang perjumpaan masyarakat semakin kehilangan tempatnya dalam kehidupan keluarga. Waktu yang dahulu digunakan untuk berinteraksi dengan tetangga semakin banyak berpindah ke ruang hiburan di dalam rumah. Tayangan televisi pada jam utama menjadi salah satu bentuk hiburan yang secara perlahan menggantikan sebagian ruang perjumpaan tersebut. Anak-anak semakin banyak menerima informasi dari layar, sementara kesempatan untuk belajar langsung dari kehidupan masyarakat semakin berkurang.
Perubahan tersebut bukan semata persoalan teknologi. Persoalan yang lebih mendasar adalah hilangnya keseimbangan antara kemajuan teknologi dengan kekuatan hubungan sosial. Ketika ruang sosial melemah, anak-anak kehilangan salah satu lingkungan penting untuk belajar mengenai kehidupan secara langsung. Mereka lebih mudah berhadapan dengan berbagai informasi tanpa pendampingan yang memadai. Akibatnya, rumah dan masyarakat tidak lagi selalu menjadi dua ruang yang saling menguatkan dalam membentuk karakter generasi.
Ketika Ruang di Luar Rumah Dipandang sebagai Ancaman
Masyarakat terpecah belah oleh Pilkada dalam konteks perubahan hubungan sosial menunjukkan bahwa ruang bersama dapat berubah ketika rasa saling percaya semakin melemah. Di luar rumah, keluarga menghadapi berbagai kekhawatiran seperti narkoba, penculikan, kekerasan, pergaulan yang tidak sehat, serta berbagai bentuk pengaruh yang sulit dikendalikan. Kekhawatiran tersebut pada satu sisi merupakan bentuk perhatian orang tua terhadap keselamatan anak. Namun, jika seluruh lingkungan luar rumah dianggap sebagai ancaman, anak-anak justru kehilangan kesempatan untuk belajar bersosialisasi secara sehat.
Kondisi tersebut dapat menciptakan lingkaran yang semakin sulit diputus. Orang tua menjadi semakin khawatir membiarkan anak beraktivitas di luar rumah. Anak kemudian lebih banyak berada di dalam rumah dan berinteraksi dengan perangkat digital. Pada saat yang sama, masyarakat semakin jarang memiliki kesempatan untuk mengenal dan menjaga anak-anak di lingkungannya. Hubungan antarwarga menjadi renggang karena fungsi sosial yang dahulu dijalankan bersama mulai berpindah ke ruang pribadi.
Padahal, masyarakat yang sehat membutuhkan ruang perjumpaan. Anak membutuhkan lingkungan yang memungkinkan mereka melihat contoh nyata tentang bagaimana manusia menghormati manusia lain. Mereka perlu mengalami sendiri bagaimana tetangga saling membantu ketika ada kesulitan, bagaimana orang yang lebih tua mendidik yang lebih muda, serta bagaimana sebuah lingkungan menjaga keselamatan anggotanya. Pengalaman semacam itu tidak seluruhnya dapat diperoleh melalui layar atau materi pendidikan formal.
Ketika Perbedaan Pilihan Menjadi Jarak Sosial
Masyarakat terpecah belah oleh Pilkada ketika perbedaan pilihan dalam pemilihan kepala daerah tidak lagi ditempatkan sebagai bagian dari perbedaan biasa dalam kehidupan bersama. Perbedaan pilihan dapat berkembang menjadi saling curiga apabila hubungan sosial tidak memiliki fondasi yang cukup kuat. Dalam keadaan tertentu, perbedaan tersebut dapat masuk ke dalam keluarga, lingkungan kerja, pertemanan, bahkan hubungan bertetangga. Persoalannya bukan sekadar adanya perbedaan pilihan, melainkan ketika perbedaan membuat seseorang berhenti melihat orang lain sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat.
Kondisi seperti itu dapat memberikan dampak yang lebih panjang terhadap generasi muda. Anak-anak yang menyaksikan orang dewasa saling bermusuhan karena perbedaan dapat belajar bahwa perbedaan harus dibalas dengan permusuhan. Mereka dapat tumbuh dengan kecenderungan membangun kelompok berdasarkan kesamaan dan menjauh dari orang yang berbeda. Jika pola tersebut berlangsung terus menerus, ruang sosial semakin terfragmentasi dan rasa kebersamaan semakin melemah.
Karena itu, penting membedakan antara perbedaan pilihan dengan hubungan kemasyarakatan. Pilihan dapat berbeda, tetapi hubungan sebagai sesama anggota masyarakat harus tetap dijaga. Perbedaan tidak seharusnya menghapus kewajiban untuk saling menghormati, membantu ketika ada kesulitan, dan menjaga keselamatan lingkungan. Masyarakat membutuhkan kemampuan untuk mempertahankan persaudaraan meskipun setiap orang memiliki pandangan dan pilihan yang tidak selalu sama.
Tantangan Konsumtivisme dan Hedonisme
Perubahan sosial juga berlangsung melalui arus informasi dan budaya konsumsi yang semakin kuat. Anak-anak berhadapan dengan berbagai tayangan yang memperlihatkan gaya hidup, barang, hiburan, dan ukuran keberhasilan yang sering kali diletakkan pada kepemilikan materi. Konsumtivisme dapat membuat seseorang terbiasa mengukur kebahagiaan berdasarkan apa yang dimiliki. Sementara itu, hedonisme dapat mendorong kecenderungan menempatkan kesenangan sebagai ukuran utama dalam menjalani kehidupan.
Dalam kondisi seperti ini, pendidikan keluarga dan masyarakat menjadi semakin penting. Anak tidak cukup hanya diberi larangan terhadap berbagai pengaruh dari luar. Mereka membutuhkan kemampuan untuk memahami mengapa sesuatu baik atau buruk bagi kehidupannya. Mereka perlu dibimbing agar mampu membedakan kebutuhan dengan keinginan, manfaat dengan kemewahan, serta kebebasan dengan perilaku yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
Nilai keagamaan juga dapat menjadi landasan penting dalam proses tersebut. Pendidikan agama perlu hadir sebagai pembentukan akhlak dan tanggung jawab, bukan hanya penyampaian pengetahuan. Anak perlu dibiasakan memahami bahwa manusia memiliki kewajiban menjaga dirinya, menghormati orang lain, merawat lingkungan, dan menggunakan kemajuan untuk kebaikan. Dengan demikian, perkembangan zaman tidak membuat manusia kehilangan arah dalam menentukan tujuan hidup.
Siapa yang Diuntungkan Ketika Masyarakat Terpecah?
Pertanyaan tentang siapa yang diuntungkan ketika masyarakat terpecah belah oleh Pilkada perlu ditempatkan sebagai pertanyaan mengenai kualitas kehidupan bersama. Masyarakat yang saling curiga akan lebih sulit bekerja sama dalam menyelesaikan persoalan lingkungan. Masyarakat yang sibuk mempertentangkan perbedaan juga dapat kehilangan perhatian terhadap persoalan yang lebih mendasar seperti pendidikan anak, keselamatan lingkungan, kesejahteraan keluarga, dan kualitas hubungan sosial. Ketika energi masyarakat habis untuk saling berhadapan, kekuatan kolektif yang seharusnya digunakan untuk membangun kehidupan bersama menjadi melemah.
Pertanyaan tersebut juga penting agar masyarakat tidak berhenti pada pencarian pihak yang dianggap bersalah. Yang lebih penting adalah memahami bagaimana perpecahan dapat terjadi dan bagaimana kondisi tersebut dapat dicegah. Setiap warga memiliki tanggung jawab untuk menjaga agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan. Keluarga memiliki tanggung jawab dalam memberikan teladan kepada anak. Komunitas memiliki tanggung jawab menjaga ruang perjumpaan. Lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab memperkuat kemampuan berpikir kritis sekaligus membangun karakter.
Menghidupkan Kembali Komunitas Langgar
Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah menghidupkan kembali fungsi Komunitas Langgar sebagai ruang pembelajaran sosial, budaya, dan keagamaan. Komunitas Langgar tidak harus kembali dalam bentuk yang sama persis seperti masa lalu. Nilai dasarnya dapat dihidupkan dengan menyesuaikan kebutuhan masyarakat masa kini. Anak-anak dapat memiliki ruang untuk belajar bersama, berdiskusi, membaca, bermain, mengaji, membantu kegiatan lingkungan, serta berinteraksi dengan generasi yang lebih tua.
Kegiatan tersebut dapat dilakukan secara sederhana dan berkelanjutan. Warga dapat membuat jadwal pertemuan anak dan keluarga, kegiatan membaca, pembelajaran agama, kerja bersama, serta kegiatan sosial yang melibatkan berbagai kelompok usia. Ruang tersebut perlu menjadi tempat yang aman dan menyenangkan sehingga anak tidak merasa bahwa kehidupan sosial merupakan beban. Dengan cara itu, masyarakat kembali menjadi lingkungan pendidikan yang hidup dan dekat dengan keseharian anak.
Penguatan Komunitas Langgar juga dapat menjadi jalan untuk memulihkan kepercayaan antarwarga. Ketika orang kembali sering bertemu, mereka memiliki kesempatan untuk mengenal satu sama lain secara lebih baik. Kesalahpahaman dapat dibicarakan secara langsung. Perbedaan dapat diterima sebagai bagian dari kehidupan bersama. Dari perjumpaan yang terus menerus, tumbuh kembali rasa saling mengenal, saling menghormati, dan saling menjaga.
Mengembalikan Manusia sebagai Pusat Peradaban
Kemajuan teknologi tidak harus ditolak. Televisi, internet, perangkat digital, dan berbagai teknologi baru dapat memberikan manfaat besar apabila digunakan dengan kesadaran dan pendampingan. Persoalannya adalah bagaimana memastikan teknologi tetap menjadi alat bagi manusia, bukan manusia yang kehilangan kendali karena teknologi. Keluarga perlu membangun kebiasaan penggunaan teknologi yang sehat. Anak perlu memperoleh ruang yang cukup untuk berinteraksi langsung dengan keluarga, teman, guru, tetangga, dan masyarakat.
Pada saat yang sama, masyarakat perlu mengembangkan kembali budaya saling menjaga. Keselamatan anak tidak cukup hanya menjadi tanggung jawab keluarga masing-masing. Lingkungan yang sehat membutuhkan kepedulian bersama. Ketika masyarakat kembali mengenal anak-anak yang tumbuh di sekitarnya, muncul mekanisme sosial yang membuat anak merasa memiliki tempat untuk pulang dan bertanya. Dengan demikian, lingkungan luar rumah tidak selalu dipandang sebagai ancaman, tetapi dapat kembali menjadi ruang belajar yang aman.
Membangun Kembali Keluarga Besar Masyarakat
Pada akhirnya, persoalan masyarakat terpecah belah oleh Pilkada tidak dapat diselesaikan hanya dengan meminta masyarakat berhenti berbeda. Perbedaan merupakan bagian dari kehidupan manusia. Yang perlu diperkuat adalah kemampuan masyarakat menjaga hubungan meskipun terdapat perbedaan. Fondasi sosial harus dibangun kembali melalui keluarga, komunitas, pendidikan, dan lingkungan yang saling mendukung. Komunitas Langgar dapat menjadi salah satu ruang untuk menghidupkan kembali kebiasaan saling menolong, saling mendidik, saling menjaga, dan saling menyelamatkan.
Peradaban yang maju bukan hanya peradaban yang mampu menghasilkan teknologi tinggi. Peradaban yang maju adalah peradaban yang mampu memastikan kemajuan tersebut tetap membuat manusia semakin beradab. Anak-anak harus tumbuh dengan kecerdasan sekaligus akhlak. Masyarakat harus memiliki kemajuan sekaligus solidaritas. Keluarga harus memiliki akses terhadap teknologi sekaligus tetap memiliki waktu untuk berbicara dan hidup bersama.
Karena itu, pertanyaan tentang siapa yang diuntungkan ketika masyarakat terpecah seharusnya diikuti pertanyaan yang lebih penting, yaitu siapa yang bertanggung jawab menyatukan kembali masyarakat. Jawabannya tidak cukup dibebankan kepada satu pihak. Keluarga, komunitas, sekolah, tokoh masyarakat, dan setiap warga memiliki peran dalam menghidupkan kembali ruang kebersamaan. Jika masyarakat kembali menjadi keluarga besar yang saling menyayangi dan melindungi, perbedaan tidak mudah berubah menjadi permusuhan. Dari sanalah kehidupan sosial dapat kembali menjadi sekolah kehidupan yang membentuk manusia kuat, berkarakter, dan mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan kemanusiaannya.



