PARIS — Ruang kelas tidak selalu memiliki papan tulis dan bangku belajar. Kadang ruang kelas dapat berbentuk museum yang menyimpan jejak masa lalu. Kadang ruang kelas hadir melalui monumen yang mengingatkan manusia tentang perjalanan sebuah bangsa. Bahkan sebuah kota dapat menjadi ruang pembelajaran ketika seseorang datang dengan keinginan untuk memahami, membaca, dan mengambil pelajaran dari sejarah.
Paris menjadi ruang kelas semacam itu bagi delegasi Sekolah Negarawan pada September 2025. Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, dan CEO Enygma Solusi Negeri Erick Karya mengunjungi sejumlah situs sejarah dan kebudayaan yang menjadi bagian penting dari identitas Paris. Perjalanan tersebut mencakup Menara Eiffel, Arc de Triomphe, Champs-Élysées, Louvre, Les Invalides dan makam Napoleon, Notre-Dame de Paris, serta Musée de Cluny. Bagi sebuah lembaga yang bergerak dalam pendidikan kenegaraan, perjalanan tersebut memiliki makna lebih luas daripada sekadar mengunjungi tempat terkenal.
Sekolah Negarawan membawa gagasan bahwa masyarakat perlu memahami negara secara lebih mendalam, termasuk mengenai nilai kebangsaan, tanggung jawab kepemimpinan, kedaulatan rakyat, serta arah masa depan kehidupan bersama. Karena itu, sejarah menjadi salah satu bagian penting dalam proses pembelajaran. Sejarah tidak hanya berisi cerita masa lalu, tetapi juga menjadi sumber refleksi untuk memahami bagaimana sebuah bangsa membangun identitas dan menentukan langkah ke depan.

Belajar dari Bangunan
Setiap tempat yang dikunjungi di Paris menghadirkan pelajaran tersendiri. Menara Eiffel mengajarkan bagaimana keberanian manusia menghadirkan inovasi dapat berubah menjadi simbol identitas sebuah bangsa. Arc de Triomphe menunjukkan bagaimana sebuah bangsa membangun ingatan kolektif melalui simbol yang menjaga memori perjalanan sejarah. Louvre memperlihatkan pentingnya merawat pengetahuan dan kebudayaan agar tetap dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
Les Invalides dan makam Napoleon memberikan pelajaran mengenai jejak kepemimpinan dalam perjalanan sejarah. Kisah seorang tokoh besar tidak hanya dilihat dari keberhasilan yang dicapai pada masanya, tetapi juga dari bagaimana sejarah menilai pengaruh dan warisan yang ditinggalkan. Notre-Dame de Paris menunjukkan daya tahan sebuah warisan budaya yang tetap bertahan melewati berbagai perubahan zaman. Sementara Musée de Cluny mengingatkan bahwa sebuah peradaban memiliki akar panjang yang terbentuk melalui berbagai lapisan sejarah.
Jika seluruh pengalaman tersebut disatukan, Paris memberikan satu pelajaran besar bahwa sebuah bangsa tidak dibangun hanya melalui pembangunan fisik. Sebuah bangsa juga dibangun melalui ingatan, simbol, kebudayaan, institusi, ilmu pengetahuan, dan kemampuan merawat warisan yang dimiliki. Peradaban tumbuh ketika masyarakat mampu menghargai masa lalu sekaligus menggunakannya sebagai dasar untuk menghadapi masa depan.
Negarawan Harus Memiliki Perspektif Panjang
Salah satu perbedaan antara pemimpin biasa dan negarawan terletak pada cara memandang waktu. Pemimpin yang hanya melihat masa kini akan mudah terjebak pada persoalan jangka pendek. Sementara seorang negarawan harus memiliki pandangan yang lebih panjang dengan memikirkan dampak keputusan bagi generasi berikutnya. Ia harus memahami bahwa sebuah kepemimpinan tidak hanya dinilai ketika seseorang berada dalam posisi tanggung jawab, tetapi juga dari warisan yang ditinggalkan setelahnya.
Karena itu, belajar sejarah menjadi penting dalam pendidikan kenegarawanan. Kisah Napoleon di Paris, misalnya, bukan hanya cerita mengenai seorang tokoh besar dalam sejarah Eropa. Kisah tersebut dapat menjadi bahan refleksi mengenai bagaimana seorang pemimpin mengambil keputusan, bagaimana pengaruhnya terhadap masyarakat luas, dan bagaimana perjalanan sejarah memberikan penilaian yang lebih panjang dibandingkan masa hidup seseorang.
Sejarah mengajarkan bahwa kekuatan seseorang tidak hanya diukur dari seberapa besar pengaruhnya pada suatu masa. Yang lebih penting adalah apakah keputusan yang diambil mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Perspektif semacam itu diperlukan agar seorang pemimpin tidak hanya berpikir mengenai keberhasilan sesaat, tetapi juga mengenai masa depan bangsa yang dipimpinnya.

Indonesia Juga Memiliki Ruang Kelas Sejarah
Pelajaran terpenting dari perjalanan ke Paris bukan hanya mengenai Prancis. Pelajaran yang lebih besar adalah bagaimana Indonesia dapat membaca dirinya sendiri melalui sejarah yang dimiliki. Indonesia mempunyai banyak ruang yang sesungguhnya dapat menjadi ruang kelas kenegarawanan bagi generasi masa kini.
Borobudur, Prambanan, Banten Lama, Kota Tua Jakarta, Kesultanan Yogyakarta, pesantren-pesantren tua, museum perjuangan, serta berbagai situs sejarah di Nusantara merupakan sumber pembelajaran yang sangat besar. Tempat-tempat tersebut menyimpan pengalaman mengenai kebudayaan, perjuangan, ilmu pengetahuan, kehidupan masyarakat, dan perjalanan bangsa. Persoalannya bukan karena Indonesia kekurangan sejarah, tetapi bagaimana sejarah tersebut dibaca dan dimaknai.
Sejarah harus mampu menjawab pertanyaan masa kini. Apa yang dapat dipelajari generasi muda dari pengalaman masa lalu? Nilai apa yang perlu dipertahankan? Apa yang harus diperbaiki? Dan warisan seperti apa yang ingin diberikan kepada generasi berikutnya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat sejarah tetap relevan sebagai bagian dari pendidikan kenegaraan.
Dari Paris untuk Indonesia
Perjalanan Sekolah Negarawan ke Paris pada akhirnya dapat dibaca sebagai perjalanan intelektual untuk memahami bagaimana sebuah peradaban dibangun. Menara Eiffel bukan hanya tentang sebuah menara tinggi. Louvre bukan hanya tentang kumpulan karya seni. Napoleon bukan hanya tentang seorang tokoh sejarah. Notre-Dame bukan hanya tentang sebuah bangunan keagamaan.
Semuanya menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana manusia membangun gagasan, menjaga nilai, dan mewariskan peradaban. Paris mengajarkan bahwa sebuah bangsa yang ingin membangun masa depan harus memiliki kemampuan membaca perjalanan masa lalunya. Tanpa memahami sejarah, sebuah bangsa dapat kehilangan arah dalam menentukan langkah berikutnya.
Dari perjalanan tersebut, Sekolah Negarawan mendapatkan satu pelajaran penting bahwa pembangunan masa depan tidak dapat dipisahkan dari pemahaman terhadap masa lalu. Seorang negarawan harus mampu melihat hubungan antara sejarah, ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat. Sebab untuk membangun masa depan yang kuat, manusia harus terlebih dahulu mampu membaca sejarah yang membentuk dirinya.



