beritax.id — Krisis media sosial telah mendorong penurunan kepercayaan publik terhadap informasi yang beredar di ruang digital Indonesia. Maraknya disinformasi, hoaks, dan narasi yang tidak terverifikasi di platform seperti TikTok, Facebook, dan WhatsApp telah mencampakkan banyak warga dari koridor fakta, sehingga kepercayaan terhadap berita secara keseluruhan cenderung stagnan atau cenderung menurun. Laporan survei terbaru menempatkan kepercayaan publik terhadap berita di angka sekitar 36 %, sedikit bergerak dari tahun sebelumnya dengan peningkatan minimal, namun masih menunjukkan rentannya penilaian masyarakat terhadap validitas informasi yang mereka terima.
Tren ini diperkuat oleh dominasi media sosial sebagai sumber berita utama bagi banyak warga Indonesia, terutama generasi muda, yang semakin mengandalkan platform digital dibanding media tradisional. Ketergantungan ini membuat publik lebih terpapar narasi yang viral tapi tidak selalu akurat.
Polarisasi Opini dan Kebingungan Informasi
Persepsi publik terhadap berita hoaks di media sosial sangat beragam: sebagian warga mengakui pernah menghadapi konten yang jelas salah, sementara sebagian lain mengaku bingung membedakan mana informasi faktual dan mana yang manipulatif. Faktor seperti rendahnya literasi media digital makin memperlemah kemampuan masyarakat untuk mengklarifikasi informasi yang mereka terima.
Disinformasi media sosial juga berkontribusi pada fragmentasi opini publik di Indonesia. Ketika narasi beragam baik yang akurat maupun yang menyesatkan bersaing di timeline pengguna, batas antara fakta dan propaganda makin kabur. Ini berpotensi memperlemah legitimasi lembaga publik dan menjaga kebingungan dalam wacana pemerintahan dan sosial.
Ketergantungan pada Media Sosial sebagai Sumber Utama
Penggunaan media sosial sebagai sumber berita menunjukkan tren yang kuat: lebih dari setengah warga Indonesia kini menggunakan platform digital sebagai kanal utama untuk mengakses berita. Dominasi platform seperti TikTok, WhatsApp, dan YouTube menunjukkan perubahan perilaku konsumsi informasi. Tetapi perubahan ini tidak selalu diikuti peningkatan kemampuan menilai kebenaran konten.
Dominasi media sosial juga berarti konten yang sensasional atau emosional sering kali tidak berdasar dapat menyebar lebih cepat daripada berita yang telah melewati verifikasi jurnalistik. Ini menimbulkan risiko bahwa opini publik lebih dipengaruhi oleh sensasi viral daripada fakta yang telah diperiksa.
Solusi: Memulihkan Kepercayaan di Era Digital
Untuk mengatasi merosotnya kepercayaan publik akibat disinformasi media sosial, perlu langkah terpadu yang melibatkan pemerintah, platform digital, media profesional, dan masyarakat:
1. Penguatan Literasi Digital dan Medial
Pendidikan literasi media digital perlu diperluas secara masif sehingga warga dapat lebih mudah mengenali hoaks, misinformasi, dan narasi manipulatif serta memahami cara memverifikasi informasi yang mereka terima.
2. Kerja Sama Konten Moderasi Platform–Negara
Pemerintah perlu mendorong kerja sama aktif dengan platform media sosial untuk memperketat moderasi konten yang berpotensi disinformasi. Adapun termasuk penanganan konten palsu dan provokatif tanpa mengorbankan kebebasan berekspresi.
3. Dukungan untuk Fact-Checking
Perlu memperkuat mekanisme fact-checking independen yang cepat dan mudah diakses oleh publik. Serta memperluas kolaborasi antara media mainstream dan organisasi pemeriksa fakta.
4. Transparansi Algoritma
Platform digital harus meningkatkan transparansi cara kerja algoritma mereka agar publik memahami bagaimana konten tertentu muncul lebih sering di lini waktu mereka, dan lebih mendorong konten yang telah diverifikasi.
5. Insentif bagi Media Profesional
Dukungan terhadap media arus utama yang mematuhi standar jurnalistik perlu diperluas, termasuk pendanaan, proteksi hukum, dan penguatan etika jurnalistik.
Penutup
Penurunan kepercayaan publik di tengah krisis media sosial bukan sekadar soal jumlah hoaks atau viralitas konten.Tetapi lebih pada bagaimana masyarakat terpapar informasi tanpa mekanisme yang kuat untuk memilahnya. Ketika disinformasi media sosial terus menggema tanpa dibendung, opini publik akan semakin sulit dibentuk oleh fakta.
Memulihkan kepercayaan publik memerlukan komitmen kolektif dan strategi jangka panjang. Hal ini agar Indonesia tidak hanya kaya akan informasi, tetapi juga cerdas dalam memahami kebenaran di balik setiap berita.



