Oleh: Adv. Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP
Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan
beritax.id – Cak Nun pernah mengajukan pertanyaan sederhana, tetapi mengguncang cara berpikir kita. “Jawa itu kok disebut suku? Jawa itu sudah memenuhi seluruh syarat menjadi bangsa.”
Pertanyaan ini terdengar aneh, tetapi ketika direnungkan, masuk akal. Apa yang dimaksud dengan bangsa? Dalam pengertian modern, bangsa adalah kumpulan manusia yang memiliki identitas budaya, bahasa, sejarah, nilai, dan kesadaran kolektif yang relatif sama. Dengan ukuran tersebut, Jawa memenuhi semua kriteria: bahasa sendiri, sistem nilai sendiri, budaya kaya, dan sejarah panjang dengan kerajaan-kerajaan besar sebelum Indonesia lahir. Hal yang sama berlaku untuk Melayu, Madura, Bugis, Aceh, Minangkabau, Batak, Banjar, Dayak, dan ratusan kelompok besar lainnya di Nusantara.

Perbandingan dengan Belanda
Cak Nun memberi perbandingan menarik, “Orang Belanda itu jumlahnya sedikit sekali. Bahkan hanya seukuran Jawa Barat. Tetapi disebut bangsa.”
Ini bukan soal membesarkan Jawa atau mengecilkan yang lain, melainkan soal konsistensi cara berpikir. Jika kelompok dengan bahasa, budaya, sejarah, dan identitas khas disebut bangsa di Eropa, mengapa kelompok dengan karakteristik sama di Nusantara hanya disebut suku?
Pertanyaan ini membawa kita pada refleksi lebih dalam: apakah Indonesia dipahami sebagai satu bangsa yang membentuk negara, atau sebagai perserikatan bangsa-bangsa Nusantara yang memilih hidup bersama?
Indonesia: Perserikatan Bangsa-Bangsa
Banyak yang membayangkan Indonesia dibentuk dari satu bangsa yang kemudian membangun negara. Namun realitas sejarah menunjukkan sebaliknya. Indonesia lahir dari berhimpunnya berbagai bangsa Nusantara ke dalam satu rumah besar bernama Indonesia. Bangsa Jawa tidak hilang ketika Indonesia berdiri. Bangsa Melayu tidak hilang ketika merdeka. Bangsa Bugis tidak hilang ketika UUD 1945 disahkan. Identitas mereka tetap hidup. Yang lahir pada 1945 bukan penghapusan bangsa-bangsa Nusantara, melainkan kesepakatan sosial-pemerintahan untuk hidup bersama.
Cak Nun menyebutnya, “Indonesia itu sebenarnya perserikatan bangsa-bangsa.”
Persatuan Indonesia tidak menghapus perbedaan. Justru keberagaman yang ada diatur melalui kesepakatan untuk hidup bersama. Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya semboyan, tetapi prinsip dasar bagaimana berbagai bangsa ini memilih bersatu tanpa kehilangan identitas masing-masing.
Warisan Cara Berpikir Barat
Menurut Cak Nun, cara pandang kita sering tertutup oleh pola pikir warisan Barat.
“Kita ini diombang-ambingkan oleh cara berpikir Barat yang sudah menjajah dunia lima abad.”
Bukan berarti menolak pemikiran Barat, tetapi penjajahan tidak selalu hadir dalam bentuk tentara dan senjata. Penjajahan juga bisa hadir sebagai cara berpikir. Ketika suatu bangsa menilai dirinya hanya melalui kacamata orang lain, perlahan ia kehilangan kemampuan memahami dirinya sendiri.
Kategori-kategori Eropa diterapkan begitu saja di Nusantara, padahal struktur sosial, budaya, dan peradaban Nusantara memiliki karakteristik khas yang tidak selalu sesuai dengan definisi dari luar.
Kesadaran ini penting terutama ketika menghadapi tantangan modern: kesenjangan ekonomi meningkat, utang negara bertambah, dan keputusan strategis semakin jauh dari rakyat. Bangsa yang tidak memahami dirinya sendiri mudah diarahkan pihak lain, mudah kehilangan masa depan, dan mudah dipecah oleh kepentingan eksternal maupun internal.
Indonesia bukan penghapus identitas, tetapi rumah besar yang menampung berbagai bangsa. Negara ini adalah hasil kesepakatan sejarah bangsa-bangsa Nusantara yang memilih hidup bersama. Bukan hadiah, bukan proyek administratif, bukan sekadar wilayah di peta. Maka, jika Jawa, Melayu, Madura, Bugis, dan komunitas besar lainnya memenuhi syarat sebagai bangsa, Indonesia dapat dipahami sebagai rumah besar yang berhimpun dari ratusan bangsa, bahasa, budaya, dan tradisi.
Indonesia adalah eksperimen peradaban yang unik sebuah negara yang tidak dibangun dari satu bangsa tunggal, melainkan dari ratusan bangsa yang berbeda yang berkata bersama: “Kami berbeda, tetapi kami sepakat menjadi Indonesia.”
Kesepakatan inilah yang menjadi fondasi persatuan, bukan penyeragaman identitas. Indonesia berhasil menyatukan perbedaan, bukan menghapusnya, dan menjadikan keragaman sebagai kekuatan, bukan penghalang.



