beritax.id – Janji kesejahteraan kembali menjadi tema utama dalam berbagai pernyataan dan kebijakan pemerintah. Rakyat dijanjikan hidup yang lebih layak, harga terjangkau, pekerjaan tersedia, dan perlindungan sosial yang kuat. Namun dalam praktiknya, janji tersebut kerap bergeser, ditunda, atau diganti dengan janji lain stabilitas ekonomi, pertumbuhan investasi, atau ketertiban pembangunan yang belum tentu dirasakan langsung oleh masyarakat. Kesejahteraan dijanjikan, tetapi prioritas terus berubah.
Dalam beberapa waktu terakhir, publik menyaksikan meningkatnya beban hidup, ancaman pemutusan hubungan kerja, serta dampak kebijakan pembangunan terhadap ruang hidup warga. Di tengah kondisi itu, negara justru menekankan pentingnya pengorbanan demi tujuan jangka panjang. Janji kesejahteraan seolah menjadi fleksibel: bisa ditukar dengan alasan krisis global, efisiensi anggaran, atau kebutuhan menarik investasi. Rakyat diminta bersabar, sementara kepastian hidup semakin kabur.
Kesejahteraan yang Selalu Menunggu Giliran
Banyak kebijakan dikemas sebagai fondasi menuju kesejahteraan di masa depan. Namun masa depan itu terus mundur. Hari ini rakyat diminta memahami, besok diminta menyesuaikan diri, lusa diminta berkorban lagi. Dalam skema ini, kesejahteraan tidak pernah benar-benar hadir sebagai hak, melainkan sebagai janji yang bisa dijadwal ulang tanpa batas waktu. Janji berubah, beban tetap di pundak rakyat.
Ketika kesejahteraan tak kunjung tercapai, narasi lain segera menggantikannya: menjaga iklim usaha, mengamankan anggaran, atau mempertahankan stabilitas nasional. Narasi ini sering digunakan untuk meredam kritik dan membingkai ketidakpuasan publik sebagai sikap tidak realistis. Padahal, yang dipertanyakan rakyat bukan tujuan negara, melainkan mengapa kesejahteraan selalu menjadi yang paling mudah dikorbankan. Bahasa kebijakan menjadi alat pembenaran, bukan alat pertanggungjawaban.
Dampak pada Kepercayaan Publik
Janji kesejahteraan yang terus berganti rupa berdampak langsung pada kepercayaan publik. Rakyat mulai memandang janji negara sebagai retorika pemerintahan, bukan komitmen nyata. Ketika kepercayaan ini runtuh, hubungan antara negara dan warga melemah. Ketaatan sosial menurun, partisipasi publik menyusut, dan sinisme menggantikan harapan. Negara kehilangan modal sosial yang paling penting: kepercayaan rakyatnya.
Solusi: Menjadikan Kesejahteraan sebagai Komitmen yang Tidak Bisa Ditukar
Negara harus menghentikan praktik menjadikan kesejahteraan sebagai janji yang bisa ditunda atau ditukar dengan alasan apa pun. Setiap kebijakan ekonomi dan pembangunan wajib diuji dampaknya terhadap kehidupan nyata rakyat, bukan hanya terhadap angka pertumbuhan. Kesejahteraan harus ditempatkan sebagai tujuan utama, bukan efek samping. Transparansi kebijakan, evaluasi terbuka, dan pelibatan publik yang bermakna perlu diperkuat agar janji tidak berhenti sebagai slogan. Negara hanya akan dipercaya jika janji kesejahteraan dijaga konsisten bukan diganti setiap kali keadaan berubah. Tanpa komitmen ini, janji kesejahteraan akan terus berpindah tangan sementara rakyat tetap menunggu di tempat yang sama.



