beritax.id — Inflasi negara terkendali kembali dijadikan narasi utama untuk menenangkan publik dan pasar. Pemerintah menyebut tekanan harga berada dalam batas aman, stabilitas makro terjaga, dan risiko ekonomi dapat dikelola. Namun di tingkat rumah tangga, kenyataan berkata lain. Meski inflasi rendah, beban hidup masyarakat tetap tinggi dan tekanan ekonomi sehari-hari belum mereda.
Dalam beberapa bulan terakhir, masyarakat justru merasakan biaya hidup yang tidak kunjung turun. Harga pangan tertentu masih bergejolak, biaya pendidikan dan kesehatan meningkat, serta kebutuhan perumahan dan transportasi kian mahal. Deflasi dan inflasi rendah yang sempat terjadi lebih mencerminkan melemahnya daya beli karena masyarakat menahan belanja bukan karena hidup menjadi lebih terjangkau.
Inflasi Rendah, Tekanan Nyata
Inflasi yang terkendali di data tidak otomatis berarti biaya hidup murah. Banyak komponen pengeluaran utama rumah tangga berada di luar keranjang inflasi inti atau bergerak lebih cepat dari rata-rata inflasi nasional. Akibatnya, meski angka inflasi terlihat aman, pengeluaran bulanan keluarga justru meningkat.
Kondisi ini diperparah oleh pendapatan riil yang stagnan dan ketidakpastian kerja, terutama di sektor padat karya yang belakangan diwarnai PHK dan perluasan kerja kontrak.
Stabilitas Makro vs Ketahanan Rumah Tangga
Stabilitas makro saat ini lebih menenangkan negara dan pasar dibandingkan rumah tangga. Kebijakan pengetatan fiskal, optimalisasi pajak, dan penyesuaian tarif layanan publik menjaga neraca negara, tetapi berdampak langsung pada konsumsi masyarakat. Rumah tangga menjadi penyangga stabilitas, menanggung beban penyesuaian ekonomi tanpa perlindungan yang memadai.
Akibatnya, banyak keluarga hidup dari gaji ke gaji, mengurangi kualitas konsumsi, dan menguras tabungan demi bertahan.
Risiko Sosial di Balik Inflasi Terkendali
Ketika inflasi rendah tidak diikuti oleh perbaikan kesejahteraan, ketahanan sosial melemah. Konsumsi rumah tangga motor utama ekonomi nasional ikut tertekan. Jika kondisi ini dibiarkan, stabilitas yang dijaga hari ini berpotensi rapuh di masa depan karena fondasi sosialnya terkikis.
Inflasi terkendali yang tidak dirasakan manfaatnya justru berisiko menciptakan ketidakpuasan dan ketimpangan.
Solusi: Menjadikan Rumah Tangga sebagai Fokus
Agar inflasi terkendali benar-benar bermakna bagi rakyat, diperlukan koreksi arah kebijakan yang lebih membumi, antara lain:
- Menjadikan keterjangkauan biaya hidup sebagai indikator utama keberhasilan pengendalian inflasi, bukan hanya angka agregat.
- Mengendalikan harga kebutuhan esensial, terutama pangan, pendidikan, kesehatan, dan perumahan.
- Memperkuat perlindungan daya beli rumah tangga, khususnya kelas pekerja dan kelas menengah yang tertekan.
- Menahan kebijakan fiskal yang menekan konsumsi, seperti perluasan pajak konsumsi di tengah pendapatan stagnan.
- Mendorong peningkatan pendapatan riil dan kerja layak, agar stabilitas makro sejalan dengan kesejahteraan rakyat.
Inflasi yang terkendali seharusnya menenangkan dapur rakyat, bukan hanya laporan negara. Selama rumah tangga tetap tertekan, keberhasilan pengendalian inflasi masih menyisakan persoalan besar dalam kehidupan nyata masyarakat Indonesia.



