By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Thursday, 8 January 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Indonesia Negara Bahagia: Antara Angka Survei dan Ilusi Kenegaraan
Pemerintah

Indonesia Negara Bahagia: Antara Angka Survei dan Ilusi Kenegaraan

Diajeng Maharani
Last updated: January 7, 2026 11:50 am
By Diajeng Maharani
Share
5 Min Read
SHARE

Oleh: Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP
Ketua Umum IWPI, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan X Institute

beritax.id – Klaim bahwa Indonesia termasuk negara bahagia di dunia terdengar menenangkan, bahkan mengharukan. Di tengah tekanan ekonomi, ketidakpastian global, dan hiruk-pikuk pemerintahan, kabar seperti ini seolah menjadi penegas bahwa bangsa ini “baik-baik saja”. Namun justru karena terdengar indah, klaim tersebut perlu dibaca dengan kewaspadaan intelektual, bukan diterima sebagai kebenaran final.

Contents
Bahagia yang Diukur, Bukan yang DilindungiNegara sebagai Keluarga yang Rumah Tangganya BubarIlusi Stabilitas dan Normalisasi KetidakberesanBahagia Tanpa Negara yang Hadir

Dalam jurnalisme dan ilmu sosial, setiap angka survei tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu membawa asumsi, definisi, dan metodologi di belakangnya. Maka pertanyaan paling mendasar yang seharusnya diajukan bukanlah “apakah kita bahagia?”, melainkan bahagia menurut ukuran apa, dan dalam struktur kenegaraan seperti apa?

Bahagia yang Diukur, Bukan yang Dilindungi

Sebagian besar survei kebahagiaan bertumpu pada persepsi subjektif: rasa puas, syukur, atau emosi positif individu. Ukuran ini sah secara psikologis, tetapi tidak otomatis mencerminkan kesehatan negara. Rakyat bisa merasa bahagia karena daya tahan mental, budaya gotong royong, atau kemampuan beradaptasi dalam kesulitan. Namun kebahagiaan semacam ini lebih tepat disebut ketangguhan sosial, bukan hasil dari sistem negara yang bekerja dengan baik.

Bahagia dalam survei tidak selalu berarti rakyat merasa aman secara hukum, terlindungi secara struktural, atau berdaulat dalam menentukan arah hidupnya. Di sinilah letak jarak antara angka kebahagiaan dan realitas kenegaraan.

Negara sebagai Keluarga yang Rumah Tangganya Bubar

Jika negara dianalogikan sebagai sebuah keluarga, maka kebahagiaan sejati tidak cukup diukur dari senyum para anggotanya. Ia harus ditopang oleh keutuhan rumah tangga dan kejelasan peran di dalamnya. Masalahnya, secara ketatanegaraan, Indonesia hari ini justru menunjukkan gejala rumah tangga yang sudah bubar.

Sejak Amandemen Ketiga UUD 1945 pada tahun 2001, terjadi perubahan mendasar dalam pelaksanaan kedaulatan rakyat. Rakyat tidak lagi menguasai kedaulatannya melalui lembaga mandataris yang secara eksplisit bertanggung jawab kepadanya. Hubungan konstitusional antara pemilik kedaulatan dan pengelola negara menjadi kabur.

You Might Also Like

Rahasia Negara Kuat: Pejabat Pelayan, Rakyat Tuannya
Mengapa Pemerintah Tidak Serius Membenahi Pendidikan? Ini Akar Masalahnya
Keadilan Hilang: Ruang Hidup Dikorbankan Demi Profit
Diguyur Emas Tapi Masih Miskin, Partai X: Negara Ini Tidak Akan Maju Kalau SDA Diborong Orang!

Dalam analogi keluarga, ini bukan sekadar konflik internal, melainkan perceraian struktural. Rakyat kehilangan mekanisme perlindungan langsung, sementara kekuasaan harian justru menguat. Ketika struktur dasar rumah tangga negara tidak utuh, kebahagiaan apa pun yang muncul patut dipertanyakan fondasinya.

Ilusi Stabilitas dan Normalisasi Ketidakberesan

Negara yang rumah tangganya bubar tidak selalu tampak kacau. Justru sebaliknya, ia sering terlihat stabil di permukaan. Pelayanan tetap berjalan, ekonomi bergerak, dan rutinitas berlangsung. Namun stabilitas semacam ini sering kali dibangun di atas normalisasi ketidakberesan.

Ketidakadilan dianggap wajar. Prosedur yang menyulitkan diterima sebagai nasib. Kritik dipandang mengganggu ketenangan. Dalam situasi ini, rakyat belajar untuk menyesuaikan diri, bukan karena setuju, tetapi karena tidak melihat ruang koreksi yang efektif.

Kebahagiaan yang lahir dari kondisi seperti ini lebih mirip adaptasi psikologis, bukan buah dari negara yang sehat.

Metodologi Survei yang Perlu Diuji

Di sinilah pentingnya mempertanyakan metodologi survei kebahagiaan. Apakah survei tersebut memasukkan variabel perlindungan hukum, keadilan sosial, dan rasa aman politik? Bagaimana komposisi sampelnya? Apakah kelompok rentan, wilayah terpencil, dan mereka yang paling terdampak kebijakan terwakili secara memadai?

Selain itu, kredibilitas lembaga survei juga layak diuji: independensi, transparansi pendanaan, serta keterbukaan metode. Mempertanyakan hal ini bukan sikap sinis, melainkan tanggung jawab publik agar angka tidak menggantikan kenyataan.

Bahagia Tanpa Negara yang Hadir

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) pernah mengatakan dengan getir bahwa di Indonesia, rakyat sering kali merasa tidak dilindungi siapa-siapa. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati tidak lahir dari angka survei, melainkan dari rasa aman dan kepercayaan bahwa negara hadir untuk pemiliknya.

Negara bisa saja disebut bahagia, tetapi bahagia tanpa perlindungan struktural adalah kebahagiaan yang rapuh. Ia mudah runtuh ketika krisis datang, ketika hukum dibutuhkan, atau ketika keadilan diuji.

Penutup

Indonesia boleh disebut negara bahagia menurut survei. Namun tugas publik—dan media—bukan sekadar mengulang klaim, melainkan menguji maknanya. Selama rumah tangga konstitusional bangsa ini belum dipulihkan, selama rakyat belum benar-benar dilindungi sebagai pemilik kedaulatan, maka kebahagiaan yang dirayakan berisiko menjadi ilusi kenegaraan.

Angka boleh menenangkan. Tetapi hanya negara yang adil dan melindungi rakyatnya yang mampu menghadirkan kebahagiaan yang nyata dan berkelanjutan.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article PDB Naik, Pajak Jadi Andalan Negara Rapuh Struktural
Next Article Indonesia Negara Bahagia: Klaim Survei di Atas Rumah Tangga Konstitusi yang Bubar

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025
Ekonomi

Heboh Seruan Tarik Dana dari Bank Karena Danantara, Partai X Soroti Transparansi

February 24, 2025

You May also Like

Sosial

Antara Stabilitas Pemerintahan dan Ketimpangan Sosial

December 10, 2025
Pemerintah

Indonesia Tidak Krisis Pemimpin, Tetapi Krisis Negarawan

November 22, 2025
Berdasarkan prinsip Partai X, negara wajib memastikan keberadaan lembaga publik yang independen, transparan, dan berpihak kepada rakyat.
Internasional

Banggar DPR Bicara Lembaga Internasional, Partai X: Dalam Negeri Saja Belum Kuat, Jangan Sibuk Global!

July 24, 2025
Pemerintah

Prabowo Sentil Hukum Tumpul ke Atas, Partai X: Saatnya Tajam untuk Semua!

October 21, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Hot
  • Politics
  • Renewable Energy
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.