Oleh Adv. Rinto Setiyawan, A.Md., S.H., CTP
Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan
Indonesia tidak pernah kekurangan sosok yang bercita-cita menjadi pemimpin. Setiap lima tahun, berbagai tokoh berkompetisi untuk menduduki jabatan presiden, gubernur, bupati, wali kota, hingga anggota lembaga perwakilan. Beragam gagasan pembangunan disampaikan untuk memperoleh kepercayaan masyarakat. Namun, di tengah besarnya perhatian terhadap perebutan jabatan dan kewenangan, terdapat pertanyaan mendasar yang perlu direnungkan bersama. Siapakah sesungguhnya sosok yang layak disebut negarawan dan mengapa Indonesia membutuhkannya?
Negarawan Bukan Sekadar Pemegang Jabatan
Tidak setiap presiden otomatis dapat disebut negarawan. Demikian pula seseorang yang memiliki pengaruh besar, pernah menduduki jabatan tinggi dalam pemerintahan, atau memimpin organisasi besar belum tentu mempunyai kualitas kenegarawanan. Masyarakat perlu memahami perbedaan antara pemimpin, pejabat, penguasa, politikus, dan negarawan agar tidak keliru menilai kualitas seseorang. Seseorang dapat berhasil memenangkan pemilihan umum tanpa memiliki pemahaman mendalam mengenai hakikat negara dan tantangan masa depannya. Sebaliknya, seorang negarawan tidak selalu harus menduduki jabatan tertinggi untuk memberikan sumbangsih besar bagi bangsa. Kenegarawanan pada dasarnya merupakan kualitas pemikiran, integritas, kebijaksanaan, dan pengabdian yang melampaui kepentingan pribadi.
Pengertian Negarawan Menurut Sekolah Negarawan
Sekolah Negarawan merumuskan negarawan sebagai pribadi yang bijaksana, berwibawa, visioner, serta menguasai ilmu kenegaraan, pemerintahan, dan politik. Sosok tersebut memiliki komitmen untuk menjaga tata nilai, kedaulatan, dan kepentingan jangka panjang negara. Ia juga mampu mengarahkan penyelenggaraan negara secara efektif, efisien, dan transparan untuk mewujudkan keadilan serta kesejahteraan seluruh rakyat. Pengertian ini menegaskan bahwa kenegarawanan bukanlah gelar yang melekat secara otomatis karena jabatan atau kedudukan tertentu. Kenegarawanan merupakan kualitas intelektual, moral, dan kepemimpinan yang dibangun melalui pengetahuan, integritas, kebijaksanaan, serta pengabdian yang konsisten kepada bangsa dan negara.
Seorang negarawan perlu memahami tiga bidang pengetahuan yang saling berkaitan, tetapi memiliki ruang lingkup berbeda. Ilmu kenegaraan membahas hakikat negara, kedaulatan, konstitusi, serta struktur kelembagaan yang menopang kehidupan berbangsa dan bernegara. Ilmu pemerintahan mempelajari bagaimana mandat dan kewenangan eksekutif dijalankan untuk melayani kepentingan masyarakat. Sementara itu, ilmu politik menjelaskan proses memperoleh, menggunakan, dan mempertanggungjawabkan kewenangan dalam kehidupan bernegara. Penguasaan ketiga bidang tersebut membantu seseorang melihat persoalan secara menyeluruh dan tidak hanya berorientasi pada keberhasilan meraih jabatan. Kemampuan memenangkan persaingan tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran untuk menilai kualitas seseorang sebagai negarawan.
Pesan Cak Nun tentang Pentingnya Memahami Dunia
Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun pernah menyampaikan pandangan mengenai pentingnya pemimpin Indonesia memiliki wawasan bertaraf dunia. Dalam pandangannya, pemimpin harus memahami apa yang dilakukan dunia terhadap Indonesia agar tidak mudah diperdaya oleh berbagai kepentingan dari luar. Pesan tersebut mengingatkan bahwa Indonesia tidak hidup dalam ruang yang terpisah dari perkembangan global. Kehidupan bangsa senantiasa dipengaruhi oleh dinamika hukum internasional, pertahanan, keamanan, teknologi, sumber daya alam, ekonomi, dan kebudayaan. Oleh sebab itu, pemimpin yang ingin membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik harus mampu membaca perkembangan dunia sekaligus memahami dampaknya terhadap kepentingan nasional.
Bayangkan sebuah kapal besar yang sedang berlayar melintasi samudra. Seorang nakhoda mungkin mahir mengoperasikan mesin dan mengetahui tujuan perjalanannya, tetapi kemampuan tersebut belum cukup apabila ia tidak memahami arus laut, arah angin, perubahan cuaca, serta pergerakan kapal lain. Ketidakmampuan membaca keadaan dapat membahayakan seluruh penumpang meskipun nakhoda telah memiliki pengalaman panjang. Gambaran tersebut relevan dengan kepemimpinan sebuah negara yang menghadapi tantangan domestik dan internasional secara bersamaan. Seorang pemimpin mungkin mampu membangun infrastruktur, menyusun program pembangunan, dan menetapkan berbagai kebijakan strategis, tetapi keputusan yang tidak mempertimbangkan perkembangan global dapat menimbulkan risiko jangka panjang. Karena itu, negarawan harus memiliki wawasan luas agar Indonesia mampu menjaga kemandirian dan menentukan arah masa depannya sendiri.
Negarawan berkelas dunia bukanlah sosok yang berambisi menguasai negara lain. Ia adalah pribadi yang memahami tatanan dunia, mampu membaca perubahan zaman, serta sanggup memperjuangkan kepentingan bangsanya secara bijaksana. Pengetahuan mengenai hubungan antarnegara diperlukan agar setiap keputusan strategis tidak hanya memberikan keuntungan sesaat. Seorang negarawan harus mampu mengenali peluang kerja sama sekaligus mengantisipasi risiko yang dapat melemahkan kedaulatan negara. Dengan wawasan global yang kuat, Indonesia diharapkan dapat membangun hubungan internasional yang setara dan saling menguntungkan. Inilah salah satu fondasi penting untuk mewujudkan kepemimpinan yang matang dan bertanggung jawab.
Perbedaan Orientasi Pemimpin dan Negarawan
Aktivitas politik merupakan bagian dari kehidupan demokrasi karena memberikan ruang bagi masyarakat untuk menentukan kepemimpinan dan memperjuangkan kepentingannya. Menjadi politikus bukanlah sesuatu yang buruk selama kewenangan dijalankan sesuai aturan dan ditujukan bagi kepentingan masyarakat. Namun, terdapat perbedaan antara orientasi yang hanya berpusat pada perolehan kekuasaan dan kualitas kenegarawanan yang mengutamakan masa depan bangsa. Seorang politikus mungkin memusatkan perhatian pada kemenangan dalam pemilihan berikutnya. Seorang pejabat dapat menitikberatkan keberhasilan program selama masa jabatannya. Sementara itu, seorang negarawan memikirkan keberlanjutan negara, keadilan, kesejahteraan, dan kedaulatan bahkan setelah dirinya tidak lagi memegang jabatan.
Seorang negarawan juga dituntut memiliki keberanian moral untuk menempatkan kepentingan rakyat dan negara di atas kepentingan kelompok ketika menjalankan kewenangan publik. Ia tidak boleh mengukur keberhasilan hanya dari popularitas, dukungan sesaat, atau pencapaian selama masa jabatan. Setiap keputusan harus mempertimbangkan dampaknya terhadap generasi mendatang dan keberlangsungan kehidupan berbangsa. Kenegarawanan menuntut kesanggupan untuk mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang matang, meskipun keputusan tersebut tidak selalu memberikan keuntungan pribadi. Dengan demikian, negarawan dapat berasal dari berbagai latar belakang, termasuk kalangan pendidik, ilmuwan, pemikir, pemimpin masyarakat, politikus, maupun pejabat publik. Hal terpenting bukanlah jabatan yang dimiliki, melainkan kualitas pemikiran, tindakan, integritas, dan tanggung jawabnya terhadap masa depan Indonesia.
Sekolah Negarawan dan Pentingnya Pendidikan Kenegarawanan
Sekolah Negarawan berpandangan bahwa negarawan tidak muncul secara tiba-tiba setelah seseorang memenangkan pemilihan umum atau menduduki jabatan tertentu. Kualitas tersebut perlu dibangun melalui proses pendidikan yang menanamkan kesadaran kebangsaan, tata nilai, ilmu pengetahuan, integritas, dan kebijaksanaan. Pendidikan negarawan tidak cukup hanya mengajarkan keterampilan memimpin, komunikasi, atau strategi memperoleh jabatan. Calon negarawan perlu memahami sejarah bangsa, konstitusi, kedaulatan rakyat, sistem pemerintahan, serta perkembangan peradaban dunia. Mereka juga harus dibiasakan berpikir kritis, bersikap terbuka terhadap pengetahuan, dan bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil. Melalui proses tersebut, kepemimpinan dapat diarahkan menjadi sarana untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan seluruh rakyat.
Pendidikan kenegarawanan sebaiknya dimulai sejak dini, jauh sebelum seseorang memiliki ambisi untuk menduduki jabatan publik. Anak-anak dan generasi muda perlu memperoleh pemahaman mengenai tujuan negara, tanggung jawab warga negara, pentingnya integritas, serta arti pengabdian kepada masyarakat. Pendidikan semacam ini dapat membentuk pola pikir yang tidak hanya mengejar keberhasilan pribadi, tetapi juga memperhatikan kepentingan bersama. Indonesia membutuhkan generasi yang mampu memahami persoalan bangsa sekaligus membaca perkembangan dunia dengan pemikiran yang jernih. Mereka harus memiliki keberanian untuk mempertahankan prinsip, kecakapan untuk merumuskan solusi, dan kebijaksanaan untuk mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang. Dengan persiapan yang tepat, Indonesia dapat membangun fondasi kepemimpinan yang lebih kuat bagi generasi mendatang.
Menyiapkan Negarawan untuk Masa Depan Indonesia
Indonesia tidak kekurangan orang yang ingin menjadi presiden, kepala daerah, ataupun pejabat publik. Tantangan yang lebih mendasar adalah menyiapkan manusia yang memahami hakikat negara sebelum berambisi memimpin pemerintahan. Bangsa ini membutuhkan sosok yang memahami perkembangan dunia sebelum menentukan arah pembangunan dan mengerti kepentingan rakyat sebelum menggunakan kewenangan. Jabatan presiden merupakan kedudukan dalam penyelenggaraan negara, sedangkan politikus merupakan peran dalam kehidupan demokrasi. Adapun negarawan adalah sosok yang memiliki kualitas pemikiran, moral, dan pengabdian untuk menjaga kedaulatan, tata nilai, serta masa depan bangsa melampaui kepentingan sesaat. Oleh karena itu, pembangunan Indonesia tidak cukup hanya bertumpu pada pergantian pemimpin, tetapi juga memerlukan proses pendidikan yang mampu melahirkan pribadi berwawasan luas dan berintegritas.
Pada akhirnya, masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas manusia yang dipersiapkan untuk memimpin dan mengabdi kepada bangsa. Kemajuan negara membutuhkan pemimpin yang tidak hanya cakap menjalankan pemerintahan, tetapi juga memahami sejarah, konstitusi, kepentingan rakyat, dan perubahan dunia. Kenegarawanan harus menjadi orientasi dalam pendidikan, pembentukan karakter, serta pengembangan kepemimpinan nasional. Seluruh unsur masyarakat memiliki peran dalam menumbuhkan generasi yang bijaksana, berwawasan global, dan bertanggung jawab terhadap keberlangsungan negara. Sudah saatnya perhatian tidak hanya tertuju pada siapa yang akan menduduki jabatan tertinggi berikutnya, tetapi juga pada bagaimana membentuk manusia yang mampu menjaga masa depan Indonesia. Pertanyaan yang perlu menjadi renungan bersama adalah siapa yang sedang kita persiapkan untuk menjadi negarawan bagi generasi mendatang.



