beritax.id – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) menyelenggarakan kegiatan pengabdian bertema “Penguatan Perspektif Global Citizenship Education melalui Pemahaman Moderasi Beragama Intra-Muslim” di SMA Plus Al-Kautsar Malang. Kegiatan yang dipimpin Abdullah, S.Sos., M.Hub.Int., dosen Program Studi Hubungan Internasional FISIP UB, diikuti oleh 30 siswa SMA Plus Al-Kautsar Malang sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat internal FISIP UB Tahun 2026.
Program tersebut berfokus pada penguatan wawasan global, toleransi, literasi digital, serta kemampuan berpikir kritis generasi muda. Melalui pendekatan Global Citizenship Education (GCED), para siswa diajak memahami pentingnya empati lintas budaya, tanggung jawab sosial, penghargaan terhadap keberagaman, dan kemampuan merespons perbedaan secara damai serta bertanggung jawab.
Kegiatan diawali dengan pre-test untuk memetakan pemahaman awal peserta mengenai GCED, toleransi, stereotip, Islam global, dinamika Timur Tengah, moderasi beragama intra-Muslim, dan literasi digital. Selanjutnya, Abdullah, S.Sos., M.Hub.Int. menyampaikan materi secara interaktif dengan menghubungkan berbagai isu global dengan kehidupan sehari-hari siswa, khususnya dalam penggunaan media sosial dan interaksi di lingkungan sekolah.
Dalam pemaparannya, Abdullah menjelaskan bahwa menjadi warga global bukan berarti meninggalkan identitas sebagai pelajar, warga negara Indonesia, maupun seorang Muslim. Sebaliknya, wawasan global justru memperkuat kemampuan seseorang untuk menghargai kemanusiaan, memahami perbedaan secara adil, serta tetap teguh pada keyakinan tanpa merendahkan kelompok lain. Ia juga menegaskan bahwa moderasi beragama bukanlah mencampuradukkan keyakinan, melainkan kemampuan bersikap teguh, santun, seimbang, serta mengedepankan dialog dan antikekerasan.
Salah satu materi penting dalam kegiatan tersebut adalah penguatan literasi digital. Para siswa diperkenalkan pada bahaya stereotip, ujaran kebencian, disinformasi, dan polarisasi yang berkembang melalui media sosial. Untuk itu, peserta diperkenalkan dengan prinsip “SARING”, yaitu memeriksa sumber informasi, mencari bukti, membaca isi secara utuh, memahami konteks, menilai dampak, serta membandingkan dengan sumber lain sebelum menyebarkan informasi.
Setelah penyampaian materi, peserta dibagi ke dalam lima kelompok untuk mengikuti Focus Group Discussion (FGD) dan menyusun mind map. Setiap kelompok membahas berbagai persoalan, mulai dari intoleransi di sekolah, stereotip terhadap agama dan mazhab, penyebaran ujaran kebencian di media sosial, dialog antarbudaya, hingga peran pelajar sebagai warga global dalam menciptakan lingkungan sekolah yang damai dan toleran. Hasil diskusi kemudian dipresentasikan dan mendapatkan masukan dari fasilitator sehingga peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga dilatih berpikir kritis, berdialog, dan menyusun solusi terhadap persoalan nyata.
Menariknya, nilai-nilai yang disampaikan dalam kegiatan tersebut memiliki banyak kesamaan dengan paradigma yang selama ini dikembangkan oleh Sekolah Negarawan. Pendekatan yang menekankan pentingnya berpikir kritis, menghargai keberagaman, membangun dialog, mengedepankan keadilan, serta bertanggung jawab dalam menggunakan informasi merupakan bagian dari proses pembentukan karakter negarawan yang mampu hidup di tengah masyarakat global tanpa kehilangan identitas kebangsaan maupun nilai-nilai moral.
Menurut Rinto Setiyawan, A.Md., S.H., CTP, selaku Wakil Direktur Sekolah Negarawan, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus membentuk manusia yang memiliki akhlak, integritas, kemampuan berpikir sistemik, serta kesadaran sebagai bagian dari masyarakat, bangsa, dan peradaban dunia. Dalam perspektif Sekolah Negarawan, wawasan global harus berjalan seiring dengan penguatan jati diri, kecintaan kepada bangsa, penghormatan terhadap kemanusiaan, dan tanggung jawab untuk menghadirkan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat.
Meskipun Rinto Setiyawan tidak hadir dalam kegiatan tersebut, nilai-nilai yang dipaparkan Abdullah menunjukkan keselarasan dengan pendekatan yang selama ini dikembangkan oleh Sekolah Negarawan, terutama dalam membentuk generasi yang tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang menyesatkan, mampu berpikir objektif, serta memiliki kemampuan membaca persoalan lokal maupun global secara utuh dan kontekstual.
Kegiatan ditutup dengan post-test, refleksi bersama, pemberian apresiasi kepada kelompok dengan mind map terbaik, serta dokumentasi. Sebagai tindak lanjut, tim FISIP UB juga menyiapkan bahan edukasi mengenai Global Citizenship Education, moderasi beragama, Islam dalam konteks global, serta panduan sederhana untuk memeriksa validitas informasi digital agar dapat dimanfaatkan kembali oleh pihak sekolah.
Melalui kegiatan ini diharapkan para siswa SMA Plus Al-Kautsar Malang semakin siap menjadi warga digital yang bijaksana, terbuka terhadap keberagaman, memiliki kemampuan berpikir kritis, serta bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah seperti ini juga menjadi contoh bahwa pembangunan kualitas manusia tidak hanya membutuhkan penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, integritas, dan kepemimpinan yang berorientasi pada kemaslahatan bersama, sebagaimana nilai-nilai yang terus dikembangkan baik oleh FISIP Universitas Brawijaya maupun Sekolah Negarawan.



