BERLIN, JERMAN – Bagaimana sebuah negara mengubah jejak masa lalu yang penuh konflik menjadi fondasi tata kelola pemerintahan yang transparan menjadi pokok kajian para pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan (SN) saat melakukan eksplorasi di pusat Kota Berlin, Jerman. Rute observasi kali ini membentang di sepanjang arteri utama ibu kota, dimulai dari kawasan akademik Humboldt University dan berakhir di kompleks Brandenburg Gate serta Gedung Parlemen Reichstag.
Rombongan pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan yang terdiri dari Direktur Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, dan CEO Enygma Erick Karya menelusuri satu per satu marka tanah (landmark) bersejarah di jalur tersebut. Kawasan ini merupakan laboratorium sejarah hidup yang mempertemukan warisan intelektual Prusia, luka Perang Dunia II, ketegangan Perang Dingin, hingga arsitektur demokrasi Jerman modern.
Selepas mengamati atmosfer akademik di Humboldt University dan monumen peringatan pembakaran buku di Bebelplatz, perhatian delegasi tertuju pada dinamika sejarah abad ke-20 yang terekam di Museum Perang Dingin (Cold War Museum) di kawasan Unter den Linden. Di tempat ini, tersaji dokumentasi komprehensif mengenai bagaimana Kota Berlin pernah menjadi titik paling berbahaya di muka bumi ketika tank-tank Amerika Serikat dan Uni Soviet saling berhadapan akibat kebuntuan diplomasi.
Direktur Sekolah Negarawan, Prayogi R. Saputra, menyampaikan bahwa keberadaan Museum Perang Dingin di tengah jalur antara universitas dan gedung parlemen memberikan pengingat keras bagi para penyelenggara negara. Berlandaskan pemikiran kenegaraan dan kebangsaan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang menjadi ruh kurikulum Sekolah Negarawan, Prayogi menekankan bahwa ketika kekuasaan kehilangan kebijaksanaan dan hanya mengandalkan ego kekuatan, maka rakyat kecillah yang selalu menjadi korban pertama dari perpecahan.
Bergerak ke ujung jalan Unter den Linden, delegasi melintasi Pariser Platz dan berdiri tepat di bawah pilar-pilar megah Brandenburg Gate, sebelum meninjau kawasan Gedung Parlemen Jerman (Reichstag) serta Memorial bagi Orang Yahudi yang Terbunuh di Eropa (Holocaust Memorial) di sisi selatannya. Keberanian pemerintah Jerman menempatkan monumen pengakuan atas dosa-dosa sejarah masa lalunya tepat di samping gedung parlemen dan kantor kanselir menunjukkan kedewasaan bernegara yang luar biasa.
Wakil Direktur Sekolah Negarawan, Rinto Setiyawan, menilai bahwa kejujuran sejarah dan keterbukaan ruang publik di sekitar Brandenburg Gate dan Gedung Parlemen Reichstag adalah kunci mengapa Jerman mampu bangkit menjadi pemimpin ekonomi dan teknologi di Eropa. Negara tidak menutupi masa lalunya dengan pencitraan semu, melainkan menjadikannya pelajaran konstitusional agar kekuasaan tidak pernah lagi disalahgunakan secara absolut.
Dalam konteks tata kelola kontemporer, CEO Enygma, Erick Karya, menguraikan bahwa pengawasan terhadap kekuasaan di era digital kini dapat diperkuat melalui teknologi kecerdasan buatan. Sistem Artificial Intelligence (AI) yang dibangun oleh Enygma Solusi Negeri bersama Sekolah Negarawan hadir sebagai instrumen transparansi modern memastikan proses legislasi dan eksekusi kebijakan publik berjalan berbasis data yang objektif, akuntabel, dan bebas dari manipulasi kepentingan sempit.
Rangkaian observasi dari Humboldt University hingga Brandenburg Gate ini memperkaya khazanah riset global Sekolah Negarawan yang telah menjangkau 12 negara selama dua tahun terakhir, mulai dari Perancis, Belgia, Belanda, Jerman, Finlandia, Estonia, Turkiye, kawasan Timur Tengah, Persia (Iran), hingga Asia Tenggara. Seluruh insight strategis dari ekspedisi ini terus didiseminasikan secara berkelanjutan di tanah air, menjangkau ruang-ruang kesadaran publik dari Medan di barat hingga Ternate dan Tidore di timur Indonesia.



