TEHERAN — Bagi Sekolah Negarawan, salah satu pelajaran penting dari Konferensi Internasional Persatuan Islam di Teheran adalah bahwa persatuan umat tidak dapat dibangun hanya melalui slogan. Persatuan membutuhkan perjumpaan yang dilakukan secara terus-menerus melalui ruang dialog dan komunikasi. Pemahaman tersebut menjadi semakin relevan ketika delegasi Sekolah Negarawan mengikuti berbagai rangkaian agenda yang mempertemukan tokoh-tokoh Islam dari berbagai negara dan latar belakang pemikiran.
Delegasi Sekolah Negarawan yang hadir terdiri atas Direktur Prayogi R. Saputra, PhD, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, serta Direktur International Affairs untuk Urusan Iran Abdullah Assegaf. Kehadiran delegasi menjadi bagian dari proses pembelajaran mengenai bagaimana persatuan dapat dibangun melalui hubungan antarmanusia. Berbagai pertemuan yang berlangsung di Iran memberikan gambaran bahwa dialog menjadi salah satu cara penting untuk memahami keberagaman.
Dalam forum tersebut, salah satu pesan yang terus mengemuka adalah pentingnya mencegah perbedaan keyakinan dan mazhab berkembang menjadi keterasingan serta perpecahan. Bagi Sekolah Negarawan, pesan tersebut memiliki dimensi pendidikan yang sangat kuat. Kemampuan hidup bersama dalam keberagaman tidak lahir secara otomatis, tetapi perlu dibangun melalui proses pembelajaran yang berkelanjutan.
Seseorang perlu belajar mendengarkan pandangan orang lain dan memahami bahwa perbedaan tidak selalu menjadi ancaman. Perbedaan dapat menjadi ruang untuk memperluas wawasan apabila disikapi dengan keterbukaan dan penghormatan. Selain itu, masyarakat juga perlu memiliki kemampuan menemukan kepentingan bersama tanpa harus menghilangkan identitas masing-masing.

Karena itu, ruang akademik memiliki posisi yang sangat penting dalam membangun tradisi dialog. Universitas, lembaga penelitian, forum ulama, dan organisasi masyarakat dapat menjadi tempat untuk mempertemukan berbagai pandangan secara sehat dan konstruktif. Melalui ruang tersebut, masyarakat dapat belajar bahwa keberagaman dapat dikelola melalui pengetahuan dan komunikasi yang baik.
Sekolah Negarawan melihat bahwa kerja sama antarnegara juga dapat memainkan peran dalam memperluas ruang perjumpaan. Pertukaran akademisi, mahasiswa, peneliti, dan pemimpin muda dapat membuka kesempatan untuk saling mengenal serta memahami pengalaman masyarakat dari berbagai negara. Hubungan yang dibangun melalui pendidikan dan kebudayaan dapat menjadi fondasi penting bagi kerja sama yang berkelanjutan.
Dalam konteks hubungan Indonesia dan Iran, ruang kerja sama tersebut masih memiliki peluang yang luas. Kedua negara memiliki pengalaman sejarah dan karakter masyarakat yang berbeda, tetapi dapat bertemu dalam berbagai bidang seperti pendidikan, kebudayaan, penelitian, teknologi, serta pengembangan sumber daya manusia. Pertukaran pengalaman tersebut dapat menjadi sarana untuk memperkuat pemahaman bersama.
Persatuan tidak selalu harus dimulai dari ruang yang besar. Persatuan dapat tumbuh dari lingkungan akademik, dari mahasiswa yang saling berdiskusi, dari para ulama yang bersedia duduk bersama, maupun dari percakapan sederhana antarmanusia yang memiliki latar belakang berbeda. Setiap perjumpaan yang dibangun dengan rasa saling menghormati dapat menjadi langkah kecil menuju hubungan yang lebih kuat.
Inilah yang dirasakan delegasi Sekolah Negarawan selama mengikuti rangkaian agenda di Iran. Perjumpaan dengan berbagai lembaga dan tokoh memberikan pengalaman bahwa hubungan antarbangsa dan persatuan tidak hanya dibangun melalui keputusan besar, tetapi juga melalui kepercayaan yang tumbuh di antara manusia. Dialog menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai perbedaan menuju pemahaman bersama.
Karena itu, pesan persatuan dari Teheran memiliki relevansi luas bagi Indonesia. Persatuan bukan berarti meminta semua orang memiliki pandangan yang sama atau menghilangkan keberagaman yang ada. Persatuan berarti memastikan bahwa perbedaan tidak membuat manusia berhenti saling menghormati, duduk bersama, dan menjaga hubungan sebagai satu kesatuan masyarakat.



