BERLIN, JERMAN – Selama 28 tahun berdiri membelah kota, Tembok Berlin menjadi simbol paling nyata dari terampasnya kedaulatan rakyat oleh pertarungan ideologi global. Guna membaca langsung jejak sejarah tersebut, para pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan melakukan kunjungan observasi ke East Side Gallery, sisa bentangan Tembok Berlin di bagian timur yang dulunya merupakan jantung wilayah kekuasaan blok Uni Soviet di Jerman.

Rombongan pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan yang hadir melakukan pengamatan di situs bersejarah ini adalah Direktur Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, dan CEO Enygma Erick Karya. Ketiganya menyusuri satu per satu panel beton yang memisahkan distrik Friedrichshain (bekas Berlin Timur) dan Kreuzberg (bekas Berlin Barat), sembari membedah implikasi tata ruang politik terhadap psikologi masyarakat.
Direktur Sekolah Negarawan, Prayogi R. Saputra, menyoroti ironi besar dari penamaan resmi tembok tersebut oleh rezim komunis Jerman Timur di masa lalu, yang menyebutnya sebagai “Benteng Perlindungan Anti-Fasis”, padahal faktanya tembok itu dibangun untuk mencegah rakyatnya sendiri melarikan diri mencari kehidupan yang lebih layak. Manipulasi bahasa dan hukum prosedural oleh penguasa semacam ini, menurut Prayogi, adalah gejala klasik ketika negara kehilangan substansi keadilannya.
Dalam perspektif kurikulum Sekolah Negarawan yang menjadikan pemikiran kenegaraan dan kebangsaan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) sebagai pilar utamanya, negara tidak boleh menempatkan rakyat sebagai objek kepemilikan yang bisa dikurung atau dikendalikan seenaknya. Kedaulatan sejati berada di tangan rakyat dan nilai-nilai kemanusiaan universal; ketika negara berubah menjadi penjara bagi warganya, maka runtuhnya tembok kekuasaan tersebut hanyalah soal waktu.
Wakil Direktur Sekolah Negarawan, Rinto Setiyawan, mencatat bagaimana pemerintah Kota Berlin saat ini mengelola East Side Gallery sebagai ruang publik terbuka yang bebas diakses secara gratis oleh warga dunia. Penataan kawasan sisa Tembok Berlin di sisi timur ini tidak hanya merawat ingatan sejarah, tetapi juga menggerakkan ekosistem ekonomi kreatif dan pariwisata edukatif tanpa menghilangkan kesakralan pesan sejarahnya.
Sementara itu, CEO Enygma, Erick Karya, membandingkan kontrasnya nasib wilayah-wilayah yang dulu pernah berada di bawah pengaruh Uni Soviet. Jika di Berlin Timur sisa tembok ini menjadi monumen runtuhnya sistem yang tertutup, di Estonia—negara bekas Uni Soviet lainnya yang juga dikunjungi dalam rangkaian ekspedisi Sekolah Negarawan—kemerdekaan justru dirayakan dengan membangun sistem tata kelola pemerintahan berbasis IT paling maju dan paling makmur di dunia, sebuah semangat transformasi yang juga diusung oleh Enygma melalui backbone AI untuk Indonesia.
Rangkaian penelusuran sejarah di Jerman, Eropa Barat, Nordik (Finlandia), hingga Baltik (Estonia) ini menyempurnakan misi napak tilas intelektual Sekolah Negarawan di 12 negara, yang juga mencakup Turkiye, Timur Tengah, Persia (Iran), dan Asia Tenggara. Dari depan sisa Tembok Berlin di East Side Gallery, para pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan membawa pulang pesan kuat yang terus didiseminasikan dari Medan hingga Ternate dan Tidore: bahwa masa depan Indonesia harus dibangun di atas keterbukaan, keadilan substantif, dan persatuan yang memerdekakan manusia.



