ISFAHAN, IRAN — Perjalanan Sekolah Negarawan di Iran mempertemukan dua tema yang sekilas terlihat berbeda, yaitu konstitusi dan artificial intelligence. Konstitusi berkaitan dengan nilai, hukum, institusi, dan arah kehidupan bernegara, sedangkan AI berkaitan dengan teknologi, data, algoritma, dan kemampuan komputasi. Namun, keduanya memiliki satu titik temu yang penting, yaitu bagaimana sebuah bangsa menjaga keberlanjutan dan mempersiapkan masa depannya.
Dalam kunjungan sebelumnya, Sekolah Negarawan mempelajari bagaimana nilai dan prinsip sebuah negara diterjemahkan melalui konstitusi dan institusi. Ketika mengunjungi Artificial Intelligence Technology Olympiad (AITO) 2026 di Universitas Islam Azad Isfahan (Khorasgan), perhatian kemudian bergeser pada pertanyaan mengenai bagaimana generasi baru dipersiapkan menghadapi perubahan teknologi yang semakin cepat.
Ketahanan Tidak Hanya tentang Bertahan

AITO 2026 memberikan gambaran mengenai salah satu cara Iran mengembangkan talenta di bidang kecerdasan buatan. Kompetisi tersebut mempertemukan lebih dari 100 tim yang berkompetisi dalam bidang pemrosesan citra, pemrosesan teks, dan pemrosesan data. Penyelenggara menempatkan kompetisi tersebut tidak hanya sebagai ajang perlombaan, tetapi juga sebagai ruang untuk menemukan talenta, membangun tim, dan mengembangkan kemampuan teknologi.
Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut memperluas pemahaman mengenai konsep civilizational resilience atau ketahanan peradaban. Ketahanan sebuah bangsa tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mempertahankan identitas, nilai, dan warisan sejarah, tetapi juga dengan kemampuan untuk belajar, beradaptasi, menghasilkan pengetahuan, dan menguasai teknologi baru.
Sebuah bangsa dapat memiliki sejarah dan kebudayaan yang panjang. Namun, warisan tersebut perlu berjalan bersama kemampuan generasi baru untuk menghadapi perubahan. Tanpa kemampuan beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, ketahanan yang dibangun selama berabad-abad dapat menghadapi tantangan baru.
AI sebagai Bagian dari Masa Depan
Dalam konteks tersebut, kecerdasan buatan dapat dilihat sebagai salah satu bagian penting dari persiapan masa depan. Penguasaan teknologi bukan semata-mata mengenai kemampuan menggunakan perangkat digital, tetapi juga menyangkut kemampuan menciptakan pengetahuan dan solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman di AITO memperlihatkan bahwa pembangunan sumber daya manusia perlu dimulai sejak dini. Pendidikan yang mendorong rasa ingin tahu, kemampuan memecahkan masalah, dan keberanian mencoba hal baru dapat menjadi fondasi untuk melahirkan generasi yang siap menghadapi perubahan teknologi.
Hal tersebut terlihat dari kehadiran dua peserta berusia 11 tahun asal Hamedan yang ikut berkompetisi dan memperoleh penghargaan. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengembangan talenta tidak harus menunggu seseorang memasuki perguruan tinggi. Proses tersebut dapat dimulai sejak sekolah melalui pendidikan, kompetisi, dan lingkungan belajar yang mendorong anak untuk mengenal teknologi.
Menghubungkan Konstitusi dan Teknologi
Pengalaman di AITO kemudian melengkapi pembelajaran Sekolah Negarawan selama berada di Iran. Jika konstitusi memberikan kerangka mengenai nilai dan arah sebuah negara, maka pendidikan dan teknologi menjadi bagian dari upaya menyiapkan manusia yang akan membawa nilai tersebut menghadapi masa depan.
Dari perspektif tersebut, ketahanan sebuah bangsa memiliki dimensi yang semakin luas. Ketahanan bukan hanya kemampuan menghadapi tekanan, tetapi juga kemampuan untuk tetap relevan ketika dunia berubah. Pengetahuan, pendidikan, inovasi, dan penguasaan teknologi menjadi bagian dari kemampuan tersebut.
Perjalanan Sekolah Negarawan dari ruang kajian konstitusi menuju arena kompetisi AI di Khorasgan akhirnya menghadirkan satu refleksi. Sebuah peradaban tidak cukup hanya menjaga apa yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya, tetapi juga perlu menyiapkan generasi baru agar mampu menciptakan masa depan.
Dari AITO 2026, pelajaran tersebut terasa semakin jelas: menjaga peradaban berarti tidak hanya merawat masa lalu, tetapi juga mempersiapkan manusia untuk menguasai masa depan.



