By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Monday, 4 May 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Dari Keruntuhan Indonesia, Siapa yang Meraih Keuntungan?
Pemerintah

Dari Keruntuhan Indonesia, Siapa yang Meraih Keuntungan?

Diajeng Maharani
Last updated: May 4, 2026 9:03 am
By Diajeng Maharani
Share
6 Min Read
SHARE

beritax.id – Dalam beberapa periode kebijakan di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, muncul kekhawatiran bahwa arah kebijakan ekonomi tidak selalu sepenuhnya berpihak pada kondisi riil masyarakat bawah. Beberapa keputusan sering kali menimbulkan tekanan langsung pada daya beli masyarakat.

Contents
Pihak yang Paling DirugikanTerjebak Antara Harapan dan RealitaPihak yang Diuntungkan: Pemilik Modal BesarDampak yang Tidak Pernah Merata

Pihak yang Paling Dirugikan

Dalam situasi krisis atau ketidakpastian global, masyarakat umum tetap menjadi pihak yang paling terdampak secara langsung. Kenaikan harga kebutuhan pokok, tekanan ekonomi, dan ketidakpastian penghasilan membuat kondisi semakin sulit. Namun di saat yang sama, muncul fenomena baru yang memperumit keadaan seperti maraknya influencer pasar saham yang menampilkan gaya hidup mewah, keuntungan besar, dan portofolio yang terlihat menggiurkan.

Konten seperti ini secara tidak langsung membentuk persepsi bahwa pasar saham adalah jalan keluar dari tekanan ekonomi. Banyak masyarakat yang sedang tertekan justru melihat investasi sebagai solusi cepat untuk memperbaiki kondisi finansial mereka. Apalagi ketika saham sering diposisikan sebagai instrumen yang “lebih aman” dibandingkan kripto, yang dikenal lebih fluktuatif dan berisiko tinggi.

Masalahnya, yang ditampilkan sering kali hanya sisi keberhasilan, bukan risiko atau kerugian. Dalam kondisi ekonomi yang sedang sulit, narasi seperti ini bisa mendorong masyarakat untuk masuk ke pasar tanpa pemahaman yang cukup. Akibatnya, mereka bukan hanya menghadapi tekanan ekonomi di kehidupan sehari-hari, tetapi juga berpotensi mengalami kerugian tambahan dari keputusan investasi yang kurang matang.

Terjebak Antara Harapan dan Realita

Investor kecil berada di posisi yang semakin rentan karena terjebak di antara dua tekanan: kondisi pasar yang tidak pasti dan pengaruh kuat dari narasi yang beredar.

Di satu sisi, mereka melihat pasar yang bergejolak dan penuh risiko. Namun di sisi lain, mereka terus terpapar konten dari influencer yang menunjukkan bahwa keuntungan besar tetap mungkin didapat, bahkan di tengah krisis. Hal ini menciptakan dorongan psikologis yang kuat untuk ikut masuk ke pasar, dengan harapan bisa mendapatkan hasil yang sama.

You Might Also Like

Denda Faktur Pajak Tidak Lengkap: Sanksi dan Implementasinya di Coretax System
Krisis Demokrasi: Patronase yang Menjerat dalam Sistem Pemerintahan yang Tidak Adil
Penonaktifan BPJS PBI, RS Harus Terima Pasien Tanpa Syarat!
Anggaran Pengadaan Motor Listrik Disetujui Kemenkeu, Ingatkan Penggunaan Dana Harus Transparan

Perbedaan utama dengan kripto juga memperkuat dorongan ini. Saham sering dianggap lebih stabil, lebih “resmi”, dan lebih aman karena diawasi oleh regulator. Persepsi ini membuat banyak investor kecil merasa lebih percaya diri untuk masuk, meskipun kondisi global sedang tidak stabil.

Namun realitanya, mereka tetap menghadapi keterbatasan yang sama: akses informasi yang terlambat, pengalaman yang minim, dan kecenderungan untuk bereaksi secara emosional. Mereka bisa masuk di waktu yang kurang tepat, mengikuti tren yang sudah berjalan, dan akhirnya menanggung risiko yang lebih besar.

Di titik ini, investor kecil bukan hanya menghadapi pasar, tetapi juga menghadapi ekspektasi yang dibentuk oleh narasi luar. Harapan yang terlalu tinggi, ditambah dengan kondisi pasar yang tidak pasti, membuat mereka semakin mudah terjebak dalam keputusan yang merugikan.

Pihak yang Diuntungkan: Pemilik Modal Besar

Di sisi lain dari tekanan yang dialami masyarakat dan investor kecil, terdapat kelompok yang justru berada pada posisi paling siap untuk memanfaatkan kondisi krisis: pemilik modal besar.

Ketika pasar mengalami penurunan akibat kepanikan, banyak aset dijual dalam kondisi harga rendah. Bagi investor kecil, ini sering menjadi momen kerugian. Namun bagi pemilik modal besar, ini adalah fase akumulasi. Mereka memiliki dana yang cukup untuk masuk dalam jumlah besar saat harga sedang turun, sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh sebagian besar investor ritel.

Keunggulan mereka tidak hanya terletak pada besarnya dana, tetapi juga pada kesiapan strategi. Mereka tidak bereaksi terhadap pasar, tetapi sudah mengantisipasi siklusnya. Saat kondisi memburuk, mereka bersiap membeli. Saat kondisi membaik, mereka berada di posisi untuk menikmati kenaikan nilai aset secara signifikan.

Selain itu, mereka juga memiliki fleksibilitas tinggi. Mereka bisa memindahkan dana ke sektor yang lebih menguntungkan, atau bahkan ke negara lain yang dianggap lebih stabil. Mereka tidak bergantung pada satu pasar atau satu kondisi ekonomi.

Di titik ini, terlihat jelas perbedaan mendasar dimana kelompok kecil berusaha bertahan dari krisis, sementara pemilik modal besar justru menggunakannya sebagai momentum untuk berkembang.

Institusi Global: Bermain di Skala Lebih Besar

Di atas semua itu, terdapat institusi keuangan global yang bermain dalam skala yang jauh lebih besar.

Mereka mengelola dana dalam jumlah sangat besar dan memiliki akses ke berbagai pasar di seluruh dunia. Dengan jaringan dan teknologi yang mereka miliki, mereka mampu memindahkan dana dalam waktu singkat, menyesuaikan posisi sesuai kondisi global, dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang lebih cepat dan lebih luas.

Keunggulan utama mereka adalah kemampuan untuk melihat gambaran besar. Mereka tidak hanya melihat satu negara atau satu sektor, tetapi keseluruhan sistem global. Ketika satu wilayah mengalami tekanan, mereka bisa mengalihkan dana ke wilayah lain yang lebih menguntungkan.

Dalam kondisi krisis, kecepatan dan skala ini menjadi faktor penentu. Mereka sering menjadi pihak yang paling siap, paling fleksibel, dan paling diuntungkan dari perubahan besar yang terjadi.

Dampak yang Tidak Pernah Merata

Dari seluruh pembahasan ini, satu hal menjadi sangat jelas: krisis atau “kehancuran” tidak pernah dirasakan secara merata.

Masyarakat umum menghadapi tekanan langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Investor kecil terjebak di antara ketidakpastian dan ekspektasi yang sering tidak realistis.

Sementara itu, pemilik modal besar, sektor tertentu, dan institusi global justru memiliki peluang untuk mendapatkan keuntungan.

Pada akhirnya, realita yang muncul adalah krisis bukan hanya tentang siapa yang rugi, tetapi tentang siapa yang siap memanfaatkan situasi.

Dan di sinilah letak ketimpangan terbesar. Bukan semua orang mengalami krisis yang sama, meskipun berada dalam sistem yang sama.

Sebagian berjuang untuk bertahan, sementara sebagian lainnya bergerak lebih jauh ke depan.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Negara Salah Desain: Ketika Pajak Tinggi Menjauhkan Kemakmuran
Next Article Kepala BGN Pastikan Insentif Fokus Untuk Tenaga yang Bekerja Nyata

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025
Ekonomi

Heboh Seruan Tarik Dana dari Bank Karena Danantara, Partai X Soroti Transparansi

February 24, 2025

You May also Like

Kredibilitas dan Integeritas
Pemerintah

Partai X Soroti Kredibilitas Bahlil Pasca Pembatalan Disertasi oleh DGB UI

March 7, 2025
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menanggapi pernyataan eks Wamenaker Immanuel Ebenezer yang meminta amnesti Presiden
Pemerintah

KPK: Jangan Dikit-dikit Amnesti, Partai X: Rakyat Mana Pernah Dapat Amnesti?

August 26, 2025
Pemerintah

Pemerintah Gagal Total: Ketika Kebijakan Justru Menambah Beban Rakyat

March 10, 2026
Anggota Komisi II DPR RI Ahmad Doli Kurnia menilai ijazah capres-cawapres bukan dokumen rahasia. Ia menegaskan informasi
Pemerintah

DPR Sebut Ijazah Capres Bukan Rahasia, Partai X: Rakyat Butuh Transparansi, Bukan Drama!

September 17, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.