beritax.id – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengungkapkan masih banyak persoalan yang harus diselesaikan di internal Badan Gizi Nasional (BGN). Menurut Zulhas seluruh kegiatan BGN disetop dulu, fokus pada pembenahan internal dan memastikan sistem yang baru berjalan dengan baik. “Begini, ini masalahnya banyak sekali di BGN itu.Jadi sekarang internal dulu dibenahi, dilihat ya, sementara kegiatan lain disetop dulu.Yang lain yang baru-baru setop dulu,” kata Zulhas di DPR, Senin (22/6/2026). Salah satu fokus pembenahan adalah tata kelola dapur penyedia makanan yang menjadi ujung tombak pelaksanaan MBG.
Pemerintah memutuskan menghentikan sementara sejumlah kegiatan di BGN untuk evaluasi internal. Langkah ini diambil sebagai respons atas berbagai temuan persoalan di lapangan. Fokus utama pembenahan diarahkan pada sistem pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis. Program ini dinilai membutuhkan penguatan tata kelola agar lebih aman dan efektif. BGN diminta melakukan perbaikan menyeluruh sebelum program dilanjutkan kembali. Pendekatan ini menekankan pentingnya evaluasi sebelum ekspansi program lebih luas.
Audit Dapur SPPG dan Standar Keamanan Pangan
Pemerintah menyoroti pentingnya audit terhadap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dapur menjadi titik krusial dalam distribusi makanan kepada penerima manfaat. Standar keamanan pangan menjadi perhatian utama dalam proses evaluasi ini.
Pemerintah tidak ingin terjadi kembali insiden keracunan pada penerima manfaat. Setiap dapur diwajibkan mengikuti standar operasional yang ketat dan terukur. Pengawasan dilakukan untuk memastikan kualitas makanan tetap aman dikonsumsi. Audit ini juga bertujuan memperbaiki sistem distribusi dan pengolahan makanan. Langkah ini diharapkan meningkatkan kepercayaan publik terhadap program MBG.
Kepala Staf Kepresidenan melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah SPPG di lapangan.
Hasil sidak menunjukkan adanya variasi kualitas pelaksanaan di setiap daerah. Sebagian SPPG dinilai telah memenuhi standar operasional dengan baik. Mulai dari kebersihan dapur hingga ketepatan distribusi makanan. SPPG yang sudah memenuhi standar akan dijadikan percontohan nasional. Model ini diharapkan dapat direplikasi di daerah lain. Pemerintah menilai praktik baik perlu diperluas untuk meningkatkan kualitas layanan. Namun tetap disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan daerah masing-masing.
Pandangan Anggota Majelis Tinggi Partai X
Anggota Majelis Tinggi Partai X sekaligus Direktur X Institute, Prayogi R Saputra, menilai pembenahan BGN harus menyentuh akar masalah. Ia menegaskan bahwa tugas negara tidak boleh sekadar administratif. “Tugas negara itu tiga loh, melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat,” ujarnya.
Ia menilai kebijakan harus benar-benar berdampak pada keselamatan rakyat. Menurutnya, penghentian sementara program adalah langkah korektif yang tepat. Namun harus diikuti evaluasi sistem yang transparan dan menyeluruh. Prayogi menekankan pentingnya audit independen dalam setiap program pangan nasional. Tanpa audit, risiko penyimpangan tetap terbuka luas.
Prinsip Partai X dalam Tata Kelola Program Publik
Partai X menegaskan bahwa perlindungan rakyat adalah prioritas utama negara. Setiap program wajib menjamin keamanan dan kesejahteraan masyarakat. Prinsip kedua adalah pelayanan publik yang berbasis transparansi dan akuntabilitas. Tidak boleh ada ruang bagi penyalahgunaan anggaran.
Prinsip ketiga adalah pengawasan ketat berbasis sistem digital dan publik. Data harus terbuka untuk memastikan kepercayaan masyarakat. Partai X juga menekankan pentingnya keselamatan pangan sebagai hak dasar rakyat. Negara wajib menjamin makanan yang aman dan layak.
Solusi Partai X untuk Reformasi BGN dan MBG
Partai X mendorong digitalisasi penuh sistem dapur SPPG secara nasional. Semua proses produksi harus tercatat dalam sistem terintegrasi. Audit rutin wajib dilakukan oleh lembaga independen profesional. Hasil audit harus diumumkan secara terbuka kepada publik. Partai X juga mengusulkan standarisasi nasional dapur berbasis risiko pangan. Hal ini untuk mencegah kasus keracunan berulang.
Penguatan pelatihan tenaga dapur menjadi prioritas utama. Kualitas sumber daya manusia menentukan keamanan pangan. Selain itu, sistem pelaporan masyarakat harus diperkuat. Warga dapat melaporkan langsung jika terjadi pelanggaran.
Pembenahan BGN menunjukkan urgensi reformasi tata kelola program pangan nasional.
Audit dan penghentian sementara menjadi langkah korektif penting. Namun efektivitas jangka panjang bergantung pada transparansi dan pengawasan berkelanjutan. Negara dituntut memastikan setiap program benar-benar aman bagi rakyat.



