By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Monday, 2 November 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Ilmu Tinggi Belum Menjamin Peradaban yang Benar
Pemerintah

Ilmu Tinggi Belum Menjamin Peradaban yang Benar

Diajeng Maharini
Last updated: November 2, 2026 12:02 pm
By Diajeng Maharini
Share
13 Min Read
SHARE

Ketika Kepintaran Tidak Diiringi Kesadaran, Moralitas, dan Kebijaksanaan

Oleh: Adv. Rinto Setiyawan, A.Md., S.H., CTP
Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan

beritax.id – Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Jumlah sarjana semakin meningkat, profesor terus bertambah, dan para ahli tersebar di berbagai lembaga serta bidang keilmuan. Hampir setiap persoalan dapat dibahas melalui seminar, penelitian, diskusi, dan berbagai forum ilmiah. Namun, berbagai persoalan bangsa dan negara masih terus berulang, mulai dari korupsi, ketidakadilan, hingga belum meratanya kesejahteraan masyarakat. Kondisi tersebut mengundang pertanyaan mendasar mengenai mengapa kemajuan pendidikan dan pengetahuan belum sepenuhnya menghasilkan kehidupan yang lebih baik.

Contents
Ketika Kepintaran Tidak Diiringi Kesadaran, Moralitas, dan KebijaksanaanKritik terhadap Kepintaran yang Kehilangan KesadaranMembangun Peradaban dari Kesadaran dan Tata NilaiDari Cahaya Pengetahuan Menuju Tindakan NyataMengembalikan Orientasi Kehidupan kepada Nilai KetuhananMengukur Keberhasilan Negara dari Kesejahteraan RakyatMengubah Kepintaran Menjadi Kebaikan

Jangan-jangan persoalan yang kita hadapi bukan sekadar kekurangan ilmu pengetahuan, melainkan hilangnya arah dalam menggunakan ilmu tersebut. Kepintaran yang tidak disertai tata nilai dapat membuat manusia semakin pandai mencari pembenaran bagi kepentingannya sendiri. Pengetahuan yang tidak diwujudkan dalam tindakan juga berisiko hanya menjadi kumpulan teori tanpa manfaat nyata. Karena itu, kecerdasan perlu berjalan bersama kesadaran moral, tanggung jawab, dan kebijaksanaan. Peradaban yang benar tidak cukup dibangun oleh manusia yang mampu berpikir, tetapi membutuhkan manusia yang memahami tujuan dari setiap pengetahuan yang dimilikinya.

Kritik terhadap Kepintaran yang Kehilangan Kesadaran

Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun pernah menyampaikan kegelisahan mengenai keadaan kehidupan bernegara melalui pernyataan yang sangat tajam. Beliau mengingatkan adanya jarak antara cita-cita kehidupan bernegara dengan kenyataan yang dirasakan masyarakat. Pernyataan tersebut merupakan kritik moral dan spiritual, bukan penyangkalan terhadap keberadaan Indonesia sebagai negara secara hukum. Pesan yang terkandung di dalamnya mengajak masyarakat untuk mengevaluasi kualitas penyelenggaraan kehidupan bersama. Cak Nun menyampaikan kritik tersebut melalui ungkapan berikut.

“Kalian ini jadi anggotanya negara, yang nggak pantas disebut negara. Kalian ini jadi rakyatnya pemerintah yang nggak pantas disebut pemerintah.”

Pernyataan tersebut mengajak kita mempertanyakan bagaimana sebuah negara dapat memiliki banyak orang berpendidikan, tetapi masih menghadapi persoalan keadilan dan kesejahteraan. Cak Nun kemudian mengingatkan pentingnya membersihkan diri dari kesombongan, baik dalam perkataan maupun pikiran. Pesan tersebut juga menyentuh perilaku manusia ketika menggunakan pengetahuan dan kedudukannya. Beliau menyampaikan pengingat berikut.

“Hilangkan sombong-sombong, hilangkan perkataan-perkataan yang macam-macam, entah itu di koran, di televisi, di internet, di dalam hatimu sendiri.”

You Might Also Like

Negara adalah Organisasi Kekuasaan: Membedah Batas antara Negara, Pemerintah, dan Penguasa dalam Buku Free Indonesia Save Nusantara Jilid 1
PSI Perorangan Disebut Langkah Modern! Partai X: Benarkah Ini Ancaman untuk Partai Lama?
Konstitusi Bernilai Budaya: Penjaga Identitas di Tengah Arus Globalisasi
Ogah Bayar Denda, Penegakan Hukum Harus Tegas pada Perusahaan Bandel!

Pesan tersebut menyentuh salah satu akar persoalan dalam pembangunan peradaban. Manusia dapat memiliki ilmu yang tinggi, tetapi tetap dikuasai kesombongan dan kepentingan pribadi. Seseorang bisa memahami hukum, tetapi menggunakan pengetahuannya untuk mencari pembenaran atas tindakan yang tidak adil. Seseorang juga dapat menguasai ilmu ekonomi, tetapi hanya mengutamakan keuntungan tanpa mempertimbangkan kesejahteraan masyarakat. Bahkan, penguasaan ilmu agama tidak otomatis menjamin seseorang mampu menghadirkan kasih sayang dan keadilan dalam perilakunya.

Orang pintar belum tentu benar, orang berilmu belum tentu bijaksana, dan orang yang memiliki jabatan tinggi belum tentu memiliki jiwa kenegarawanan. Kepintaran merupakan kemampuan memahami dan mengolah pengetahuan, sedangkan kebenaran juga menuntut kesadaran untuk menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab. Tanpa tata nilai, ilmu dapat digunakan untuk kepentingan yang merugikan orang lain. Karena itu, ukuran kualitas manusia tidak boleh hanya dilihat dari gelar akademik, kemampuan berbicara, atau penguasaan teknologi. Kualitas manusia juga harus tercermin dalam kejujuran, keadilan, kerendahan hati, dan tindakan yang memberikan manfaat bagi kehidupan.

Membangun Peradaban dari Kesadaran dan Tata Nilai

Dalam pemikiran Sekolah Negarawan, pembangunan peradaban harus dimulai dari kesadaran. Kesadaran membentuk tata nilai, tata nilai membentuk manusia, manusia membentuk keluarga, keluarga membentuk masyarakat, dan masyarakat melahirkan peradaban. Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa kualitas kehidupan bersama sangat dipengaruhi oleh kualitas kesadaran setiap manusia. Apabila kesadaran dibangun di atas nilai yang benar, pengetahuan dapat diarahkan untuk menghasilkan kebaikan. Sebaliknya, apabila kesadaran dikuasai kesombongan dan kepentingan pribadi, kemajuan ilmu justru dapat memperbesar persoalan kehidupan.

Kualitas peradaban tidak cukup diukur dari banyaknya orang berpendidikan, kemajuan teknologi, pertumbuhan ekonomi, atau pembangunan fisik. Kemajuan tersebut memang penting, tetapi harus disertai kemampuan menghadirkan keadilan dan kemaslahatan. Peradaban juga perlu dinilai dari bagaimana manusia memperlakukan sesamanya dan menjalankan tanggung jawabnya. Jika kesadaran manusia hanya berorientasi pada materi, ilmu berisiko digunakan untuk mengejar keuntungan pribadi. Jika kesadaran dikuasai ambisi kekuasaan, hukum dapat diperlakukan sebagai alat untuk mempertahankan kepentingan tertentu.

Apabila kesombongan menjadi bagian dari cara berpikir, nasihat dan kritik dapat dianggap sebagai ancaman. Akibatnya, manusia semakin sulit menerima perbedaan pandangan dan memperbaiki kesalahan. Padahal, perkembangan pengetahuan membutuhkan keterbukaan terhadap pemeriksaan, koreksi, dan pembuktian. Kesediaan mengakui keterbatasan merupakan bagian penting dari sikap ilmiah sekaligus kedewasaan moral. Oleh sebab itu, pembangunan peradaban harus memperkuat kesadaran bahwa ilmu bukan alat untuk meninggikan diri, melainkan sarana untuk memperbaiki kehidupan.

Dari Cahaya Pengetahuan Menuju Tindakan Nyata

Dalam kerangka perenungan spiritual Sekolah Negarawan, Nur dipahami sebagai simbol petunjuk dan pencerahan. Pengetahuan kemudian dapat dibicarakan melalui empat jalur, yaitu wahyu, ilham, inspirasi, dan ide. Wahyu merupakan petunjuk Allah kepada nabi dan rasul yang memiliki otoritas kenabian. Ilham merupakan dorongan atau pemahaman batin yang dapat dialami manusia, sedangkan inspirasi merupakan pencerahan yang lahir melalui pengalaman, pengamatan, dan perenungan.

Sementara itu, ide merupakan gagasan yang dibentuk melalui proses berpikir manusia. Keempat jalur tersebut tidak memiliki kedudukan yang sama karena wahyu kenabian memiliki kekhususan tersendiri. Wahyu kenabian telah berakhir dengan Nabi Muhammad ﷺ, sedangkan ilham, inspirasi, dan ide manusia tetap perlu diperiksa kebenaran serta akibatnya. Manusia tidak boleh menganggap setiap dorongan batin atau gagasan pribadi sebagai kebenaran yang tidak dapat dikritisi. Setiap pengetahuan perlu ditempatkan secara tepat agar dapat digunakan dengan penuh tanggung jawab.

Pengetahuan juga tidak boleh berhenti sebagai sesuatu yang diterima, dipikirkan, atau dibicarakan. Pengetahuan harus diolah agar dapat dipahami, disusun, dan diwujudkan dalam kehidupan. Karena itu, Sekolah Negarawan mengembangkan empat tahapan pengolahan pengetahuan, yaitu tulisan, sistematika, gambar atau visualisasi, dan panduan pelaksanaan. Keempat tahapan tersebut membantu menjembatani gagasan dengan tindakan nyata. Dengan proses yang terstruktur, pengetahuan diharapkan tidak hanya menjadi bahan diskusi, tetapi juga menghasilkan perubahan yang dapat diperiksa dan dievaluasi.

Tulisan diperlukan agar pemikiran dapat dirumuskan secara jelas dan diperiksa kembali. Sistematika diperlukan agar hubungan antargagasan tersusun secara teratur dan tidak saling bertentangan. Gambar atau visualisasi membantu menjelaskan struktur, hubungan, serta alur pengetahuan agar lebih mudah dipahami. Sementara itu, panduan pelaksanaan diperlukan agar pemikiran dapat diterjemahkan menjadi tindakan yang nyata dan terukur. Tanpa tulisan, gagasan mudah hilang, tanpa sistematika pengetahuan dapat menjadi kumpulan informasi yang tidak terhubung, tanpa visualisasi hubungan yang rumit sulit dipahami, dan tanpa panduan pelaksanaan pemikiran berisiko berhenti sebagai bahan seminar.

Namun, seluruh tahapan tersebut tetap membutuhkan fondasi berupa tata nilai yang benar. Sistem yang tersusun rapi belum tentu menghasilkan keadilan apabila tujuan pembentukannya keliru. Teknologi yang canggih juga belum tentu membawa kebaikan apabila digunakan untuk merugikan manusia. Kebijakan yang terlihat efisien belum tentu menyejahterakan masyarakat apabila mengabaikan kebutuhan rakyat. Bahkan, kecerdasan yang luar biasa dapat menjadi berbahaya apabila tidak disertai tanggung jawab moral. Karena itu, tata nilai harus menjadi dasar dalam mengolah dan menerapkan setiap pengetahuan.

Mengembalikan Orientasi Kehidupan kepada Nilai Ketuhanan

Cak Nun juga menyampaikan pengingat mengenai pentingnya menempatkan Allah sebagai orientasi tertinggi dalam kehidupan manusia. Beliau menyampaikan pernyataan berikut.

“Supaya nggak ada tuhan lain di dalam hatimu, di dalam negaramu ini. Terlalu banyak yang kalian tuhankan.”

Dalam konteks spiritual, pesan tersebut mengajak manusia untuk kembali menempatkan Allah sebagai pusat pengabdian dan orientasi kehidupan. Dalam perenungan kehidupan bernegara, pesan tersebut juga dapat menjadi pengingat agar manusia tidak menjadikan kekuasaan, kekayaan, jabatan, dan kepentingan kelompok sebagai tujuan tertinggi. Ketika kekuasaan diperlakukan sebagai sesuatu yang harus dipertahankan dengan segala cara, kebenaran dapat dikorbankan. Ketika keuntungan materi menjadi ukuran segala sesuatu, keadilan dan kepentingan masyarakat berisiko diabaikan.

Ketika jabatan menjadi kebanggaan utama, pengabdian kepada masyarakat dapat kehilangan maknanya. Padahal, negara dibentuk bukan untuk membesarkan kekuasaan pemerintah, melainkan untuk melindungi dan menyejahterakan rakyat. Pengetahuan, teknologi, dan sumber daya yang dimiliki negara seharusnya digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Karena itu, setiap penyelenggara negara perlu memahami bahwa kewenangan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Orientasi kehidupan yang benar akan membantu manusia menempatkan kepentingan bersama di atas kesombongan dan ambisi pribadi.

Mengukur Keberhasilan Negara dari Kesejahteraan Rakyat

Dalam perspektif Sekolah Negarawan, rakyat merupakan komunitas pemilik kedaulatan yang membentuk negara dan memberikan mandat kewenangan kepada pemerintah. Pemerintah merupakan kepemimpinan periodik yang menerima mandat untuk menjalankan fungsi pemerintahan. Mandat tersebut harus digunakan untuk melindungi, melayani, dan mengatur kehidupan masyarakat demi terwujudnya keadilan serta kesejahteraan. Oleh karena itu, keberhasilan negara tidak cukup dinilai dari banyaknya peraturan yang dibuat atau besarnya anggaran yang dibelanjakan. Keberhasilan harus terlihat dari kemampuan penyelenggaraan negara menghadirkan perlindungan, pelayanan, keadilan, dan kesejahteraan bagi rakyat.

Apa gunanya ahli hukum jika hukum tidak menghadirkan keadilan? Apa gunanya ahli ekonomi jika kekayaan negara tidak digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat? Apa gunanya penguasaan ilmu pemerintahan jika kewenangan tidak dijalankan untuk kepentingan rakyat? Pertanyaan tersebut bukan dimaksudkan untuk merendahkan ilmu pengetahuan atau profesi tertentu. Sebaliknya, pertanyaan itu mengingatkan bahwa setiap bidang keilmuan memiliki tanggung jawab untuk memberikan manfaat bagi kehidupan. Ilmu harus ditempatkan sebagai sarana memahami kebenaran dan memperbaiki berbagai persoalan masyarakat.

Sekolah Negarawan membutuhkan manusia yang tidak hanya pandai berpikir, tetapi juga memiliki kesadaran, tata nilai, dan kebijaksanaan. Indonesia membutuhkan ilmuwan yang menjunjung kejujuran, ahli hukum yang mengutamakan keadilan, serta ekonom yang memahami kesejahteraan rakyat. Masyarakat juga membutuhkan pemimpin yang bersedia menerima kritik dan memperbaiki kekeliruan. Lebih dari itu, bangsa membutuhkan negarawan yang mampu melihat kepentingan jangka panjang dan tidak terjebak pada kepentingan pribadi maupun kelompok. Pengetahuan harus diwujudkan menjadi sistem kehidupan yang benar dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Mengubah Kepintaran Menjadi Kebaikan

Cak Nun mengajak manusia membersihkan hati dari kesombongan dan kembali kepada Allah serta Rasulullah. Pesan spiritual tersebut mengingatkan bahwa kecerdasan manusia memiliki keterbatasan dan harus disertai kerendahan hati. Manusia perlu bersedia menerima nasihat, mengakui kesalahan, serta memperbaiki tindakan yang tidak sesuai dengan nilai kebenaran. Sikap tersebut penting agar ilmu tidak berubah menjadi alat untuk membenarkan kesombongan dan kepentingan pribadi. Dengan demikian, pengetahuan dapat berkembang bersama tanggung jawab moral dan kepedulian terhadap sesama.

Pada akhirnya, peradaban tidak akan menjadi benar hanya karena semakin banyak orang pintar. Peradaban akan berkembang ketika ilmu digunakan secara bertanggung jawab, kekuasaan dijalankan dengan adil, dan pengetahuan diwujudkan menjadi tindakan yang membawa kemaslahatan. Indonesia tidak kekurangan orang yang mampu menjelaskan berbagai persoalan. Tantangan yang harus dijawab adalah bagaimana melahirkan manusia yang mampu menyusun penyelesaian dan memiliki kejujuran serta keberanian untuk melaksanakannya. Kepintaran menghasilkan pengetahuan, tetapi kesadaran dan tata nilai menentukan arah penggunaannya.

Maka, pertanyaan yang perlu kita renungkan bukan lagi sekadar berapa banyak orang pintar yang dimiliki Indonesia. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah mengapa banyaknya pengetahuan belum sepenuhnya mampu menghadirkan tata kehidupan yang benar, adil, dan menyejahterakan rakyat. Jangan sampai bangsa ini berhasil mencetak generasi yang semakin pintar, tetapi gagal membangun manusia yang semakin benar. Tujuan akhir ilmu bukan sekadar mengetahui, melainkan memahami, mengamalkan, dan menghadirkan kebaikan bagi kehidupan. Sebab, peradaban yang bermartabat hanya dapat dibangun ketika kecerdasan berjalan bersama kesadaran, kebenaran, dan tanggung jawab.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Pajak Tanpa Moral di Indonesia? Ketika Rakyat Ditagih, tetapi Kesejahteraannya Terabaikan
Next Article Banyak Orang Pintar, tetapi Mengapa Indonesia Belum Menjadi Bangsa yang Bijaksana?

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

“Pengalihan Pengadilan Pajak ke Mahkamah Agung dalam sistem peradilan Indonesia”
Berita Terkini

Catatan Adaptasi Pengadilan Pajak Menyongsong Pengalihan ke Mahkamah Agung

December 19, 2025
Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025

You May also Like

Menyembunyikan Ketimpangan Sosial di Balik Insentif Pajak Global
Seputar Pajak

Menyembunyikan Ketimpangan Sosial di Balik Insentif Pajak Global

January 30, 2026
Pemerintah

Di Balik Distribusi Kewenangan Berubah: Menelusuri Posisi Rakyat dalam Buku Free Indonesia Save Nusantara Jilid 1

October 12, 2026
Pemerintah

Rakyat Pemilik Kehidupan Kolektif: Membongkar Kekeliruan Memahami Bangsa dan Negara dalam Buku Free Indonesia Save Nusantara Jilid 1

September 10, 2026
Pemerintah

Mark Up Motor Listrik BGN, Warga Butuh Harga Terjangkau

June 10, 2026
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.